Inspire | Human Stories

Puasa dan Gaya Hidup Berlebihan

Selasa, 05 Apr 2022 10:00 WIB
Puasa dan Gaya Hidup Berlebihan
Jakarta -

Akhir pekan ini, bulan suci Ramadan akan segera dimulai. Sebagaimana yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW, kedatangan bulan Ramadan, harus disambut dengan suka cita. Misalnya dengan meningkatkan intensitas ibadah yang bisa mendongkrak nilai ketaqwaan manusia.

Namun demikian, kemeriahan bulan Ramadan tidak hanya meningkatkan euforia ibadah, melainkan turut menggairahkan daya beli masyarakat, khususnya pada sektor sandang dan pangan. Hal ini bisa dilihat dari maraknya iklan makanan khas Ramadan di berbagai media. Selain itu, ada pula berbagai promo bernuansa Ramadan dan Lebaran yang juga banyak ditemukan di pusat perbelanjaan.

.Ilustrasi menghamburkan uang/ Foto: Freepik

Ironisnya, tingkat ketaqwaan yang seharusnya bertambah saat bulan Ramadan, justru kalah saing dengan gaya hidup di bulan Ramadan itu sendiri. Bukannya bergaya hidup sederhana, masyarakat malah berlaku konsumtif dan berlebihan. Mulai dari menghabiskan banyak anggaran untuk memenuhi ritual buka puasa bersama di restoran mewah; mengonsumsi banyak makanan sebagai "balas dendam" setelah menahan lapar di siang hari, hingga bernafsu memborong banyak pakaian   yang sejatinya tidak begitu dibutuhkan   karena terpicu oleh diskon selama momen bulan Ramadan dan perayaan Lebaran.

Menahan lapar dan dahaga selama   kurang lebih 13 jam   tidak membenarkan "balas dendam" dengan mengonsumsi makanan dan minuman berlebihan. Lebih jauh lagi, perilaku ini sangat tidak dianjurkan karena bisa memicu masalah kesehatan. Rasulullah SAW telah memberi contoh, untuk mencukupkan berbuka puasa dengan hal sederhana. Misalnya dengan meneguk air putih, dan memakan beberapa butir kurma.

Kemudian, mengubah gaya berbusana dengan tema islami   sebenarnya juga tidak menjadi kewajiban. Sebab, lagi-lagi, hakikat dan manfaat puasa, bukan terletak pada ritual melainkan berada di ranah spiritual. Artinya, memborong dan mengenakan kaftan atau sarung bernilai jutaan rupiah, meskipun sedang diskon, tidak begitu diperlukan.

Ramadan adalah bulan suci yang menyenangkan. Di dalamnya, ada banyak momen kebersamaan, yang sungguh sayang apa bila dilalui dengan hanya berfoya-foya. Membeli banyak santapan saat berbuka-yang ujungnya malah mubazir; terus membeli baju baru sedangkan masih banyak yang belum terpakai di lemari, hingga berlagak sok mewah tetapi lalai bersedekah, sepatutnya kita tinggalkan dengan segera.

Secara pribadi, saya pun sempat terlena dengan kebiasaan seperti ini, sebelum akhirnya malu kepada diri sendiri, karena merasa minim manfaat dan cenderung berlaku serakah. Oleh karena itu, ada baiknya, kebiasaan memborong makanan berbuka puasa secara berlebihan, segera kita hentikan. Lagipula, bukankah kesederhanaan adalah poin penting di bulan yang suci ini?

.Ilustrasi berbelanja/ Foto: Freepik

Mungkin, jika kita memang sedang kelebihan rezeki, daripada menghabiskan banyak uang hanya untuk santapan sendiri, lebih baik kita berbagi santapan dengan saudara-saudara lain yang kurang beruntung. Atau, bisa juga bersumbangsih pakaian-pakaian kepada sesama. Bisa juga, yang lebih formal secara ritual, menyedekahkan sebagian pendapatan kita, agar kelak menjadi manfaat bagi yang benar-benar membutuhkan.

Pada hakikatnya, di bulan puasa, manusia diwajibkan untuk mengontrol diri, mengurangi amarah dan hawa nafsu, hingga meredam hasrat-hasrat duniawi. Oleh karena itu, larut dalam perilaku konsumtif dan gaya hidup yang berlebihan seperti yang disebut di atas, seharusnya sirna saat bulan puasa dan bukan sebaliknya.

Sikap berlebihan yang tumbuh ketika bulan puasa, harus segera kita sadari dan akhiri. Sebab, intisari dari Ramadan adalah peningkatan taqwa kepada-Nya, dan bukan ajang pendakian status sosial dan pamer kemewahan. Bahkan, di dalam Alquran, Allah SWT dengan tegas mengecam gaya hidup yang berlebih-lebihan.

Tidak bisa dimungkiri, manusia memang lahir dengan bekal akal dan nafsu. Dengan berpuasa, kita akan semakin terlatih menggunakan akal, terlebih dalam mengendalikan nafsu. Walaupun nafsu tidak bisa dihilangkan, setidaknya, belajar mengendalikannya di bulan puasa adalah hal yang patut kita coba. Salah satunya adalah dengan kembali menerapkan gaya hidup sederhana saat bulan Ramadan, dan mulai berhenti terlena akan gaya hidup berlebihan.

Alih-alih memenuhi nafsu dan ego dengan memewahkan ritual-ritual di bulan puasa, kita bisa mengalihkannya dengan banyak bersedekah. Toh, dengan bersedekah, kita bisa turut membahagiakan orang lain yang lebih membutuhkan. Apalagi, di bulan ini, setiap ibadah akan diganjar pahala yang berkali lipat harganya. Yuk, mulai berpuasa gaya hidup yang berlebihan juga!

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/DIR)