Inspire | Human Stories

Busting Myths: Rumor

Selasa, 15 Mar 2022 12:00 WIB
Busting Myths: Rumor
Jakarta -

Dalam bermasyarakat, perbincangan mengenai desas-desus, gosip atau rumor antar manusia, adalah hal yang tidak bisa dipisahkan dari manusia itu sendiri. Hal ini tervalidasi oleh banyaknya percakapan di sekitar kita yang dimulai dengan ucapan seperti, "Eh, lo tahu nggak sih...," atau "Eh, bukannya ngomongin orang nih ya, tapi dia tuh..." dan lain sebagainya. Kalimat-kalimat seperti barusan merupakan contoh nyata, betapa seringnya manusia mengolah rumor atau gosip yang berkembang di sekitar dengan makna yang negatif.

Sebuah studi observasional bahkan menyatakan, pria menghabiskan 55 persen waktu percakapan mereka untuk membicarakan topik-topik yang relevan secara sosial   atau bergosip, sedangkan wanita, menghabiskan 67 persen waktu percakapan mereka untuk hal yang serupa.

Membahas perihal rumor, atau kasarnya, bergosip, belakangan lebih dianggap sebagai perilaku yang negatif karena kebanyakan rumor atau gosip yang beredar, memang berisi kabar simpang-siur mengenai kebohongan atau tuduhan tertentu, dari sebagian orang kepada orang lain   yang tidak ada di situasi yang sama. Generasi masa ini mengenalnya dengan meng-ghibah, dan terafiliasikan dengan perilaku yang toxic.

Walaupun begitu, Profesor Psikologi asal Georgia Gwinnett College, David Ludden, menuliskan bahwa bergosip atau memperbincangkan rumor, "(itu) tidak selalu negatif." Menurutnya, "itu bisa positif atau netral."

.Ilustrasi gosip / Foto: katemangostar/freepix

Gosip yang Membentuk Budaya Manusia

Sepanjang peradaban manusia, desas-desus atau rumor di lingkungan tidak mungkin terhindarkan. Hal ini terbentuk secara kolektif di antara circle yang terbentuk di masyarakat. Mulai dari sekelompok orang yang sedang 'mencari kutu' di tengah hari, segerombolan anak sekolahan, kumpulan pemuda yang mengobrol di warung kopi, hingga acara infotainment di televisi; semuanya tidak luput dari perbincangan mengenai rumor yang berkembang di antara mereka.

Secara sosial, bergosip terkadang menjadi forum penyekat baik dan buruknya sesuatu, atau berbentuk sebagai kritik kolektif masyarakat. Misalnya, ketika seseorang berlaku tidak senonoh kepada orang lain, maka kelompok yang bergosip akan menyatakan sikap menentang perlakuan tersebut-meskipun sedikit menyudutkan orang yang bersangkutan.

Atau misalnya, ketika seorang polisi berlaku korup, maka masyarakat beramai-ramai mengomentarinya sebagai bentuk kepedulian sesama anggota masyarakat yang haknya dirampas. Contoh lainnya, seorang selebritis yang gemar bergonta-ganti pasangan, akan dicitrakan sebagai player yang tidak baik dijadikan teladan. Oleh karena itu, terbentuk suatu kesadaran sosial yang tidak kasat mata, mengenai bagaimana sebaiknya manusia bertingkah laku secara sosial.

Di sisi lain, perilaku bergosip juga menciptakan lingkaran intim antarmanusia. Seperti yang kita ketahui, pesan yang dipertukarkan saat berbincang mengenai rumor, terbilang rahasia dan eksklusif bagi golongan mereka. Tidak heran, ucapan seperti, "Eh gue mau cerita deh, tapi jangan bilang siapa-siapa yah..." menjadi kalimat sakti yang mengedepankan trust. Oleh karena itu, bergosip terkadang mengindikasikan akrab atau tidaknya seseorang dengan kawanannya.

.Ilustrasi rumor/ Foto: Jcomp/Freepix

Perlukah Kita Berhenti Bergosip?

Sepanjang peradaban, membincangkan 'kabar burung' yang beredar di masyarakat, lebih condong bermakna negatif. Sebagian pemuda bahkan menganggap bergosip adalah perilaku toxic dan harus dihindari   meskipun mereka sendiri masih melakukannya dengan embel-embel resolusi.

Tanpa disadari, sebenarnya bergosip cukup baik bagi perkembangan pembelajaran manusia. Menurut Journal of Personality and Social Psychology, ketika mendengar gosip buruk mengenai sikap anti-sosial atau ketidakadilan, adrenalin seseorang akan meningkat. Sebaliknya, ketika seseorang membicarakan soal orang lain, dirinya akan menjadi lebih tenang.

Selain itu, dengan bergosip ria, manusia dapat mengkonfirmasi sesuatu yang berada di luar pengetahuan mereka. Contohnya, ketika reputasi Anda lebih dahulu dikenal orang melalui rumor atau gosip, hal tersebut akan sangat berguna untuk Anda sendiri. Lebih lanjut lagi, dengan mendengar desas-desus terlebih dahulu, kita bisa melakukan pembenaran-mengenai gosip salah yang terlanjur berkembang.

Sementara lain, bergosip ternyata memberi manfaat positif bagi fisiologis manusia, khususnya bagian otak. Studi di Social Neuroscience menyatakan, mendengar gosip dapat menstimulasi bagian prefrontal cortex otak, yang dapat membantu mengarahkan kemampuan kebiasaan bersosial. Selanjutnya, bagian caudate nucleus atau pusat penghargaan di otak, akan menjadi aktif ketika merespons berita-berita tertentu yang terkesan konyol, dan membuat seseorang merasa terhibur-terutama ketika mendengar gosip dan skandal aneh selebritis.

Walaupun terus-menerus dihindari, kehidupan bermasyarakat manusia tidak akan terlepas dari kegiatan bergosip. Oleh karena itu, kita tidak perlu berhenti bergosip, namun harus melihatnya sebagai sesuatu yang memiliki manfaat-dengan catatan: pembicaraan yang murni menyudutkan orang lain secara jahat, harus dihentikan sebab hal seperti ini memang nirfaedah.

Sebaliknya, kita harus melihat kegiatan gosip sebagai hal yang bermanfaat. Karena, selama ini, bergosip menjauhkan manusia dari perasaan kesepian, dan lebih menunjang ikatan kedekatan dengan sesama. Jadi, teruslah berbincang dengan sesama. Sekalipun yang kamu perbincangkan hanyalah gosip semata, kamu tetap bisa memposisikannya pada koridor yang baik dan benar sehingga tidak berujung pada penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab.

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/MEL)