Inspire | Human Stories

Anak Sulung Perempuan: Harapan dan Tuntutan Orang Tua

Jumat, 04 Mar 2022 16:00 WIB
Anak Sulung Perempuan: Harapan dan Tuntutan Orang Tua
Jakarta -

Menjadi anak pertama di dalam keluarga memang memiliki suka dukanya tersendiri. Saya, sebagai anak perempuan pertama mengakui adanya beberapa hal yang saya syukuri dan juga saya rasa sebagai beban. Hal yang saya syukuri adalah faktanya bahwa saya sempat menjadi anak satu-satunya di mana saya tidak harus berbagi kepada siapapun. Baik itu dalam hal materi dan kasih sayang orang tua untuk jangka waktu yang cukup lama karena saya dan adik saya terpaut usia yang cukup jauh, yaitu 13 tahun.

Selama 13 tahun itu, saya merasakan banyak hal yang membuat saya sangat bersyukur. Misalnya saya bisa mendapatkan apapun yang saya mau dan tidak perlu membaginya dengan siapapun. Orang tua saya pun sangat maksimal dalam hal membahagiakan dan memenuhi kebutuhan saya sebagai seorang anak. Namun, semuanya berbeda ketika adik saya lahir dan perhatian orang tua pun terbagi. Bahkan saya merasa bahwa kedua orang tua menuntut saya untuk menjadi sosok big sister untuk sang adik, di mana tugas tersebut cukup sulit karena saya sudah terbiasa dan terlalu lama menikmati semuanya sendiri.

.Ilustrasi kakak perempuan/ Foto: Angela Roma/Pexels

Perasaan iri dan cemburu pun tentunya ada, sehingga saya cukup sering mengeluarkan tantrum ketika apa yang saya inginkan tidak semudah biasanya untuk didapatkan. Namun saya akui, semua hal tersebut memang dapat dikatakan cukup childish, mengingat umur saya yang tergolong masih muda tapi dituntut untuk bersikap sedewasa mungkin. Lalu, setelah menginjak umur dewasa, menjadi anak sulung perempuan semakin terasa bebannya. Orang tua mengharapkan saya untuk memberikan contoh teladan untuk adik saya tiru nantinya.

Tak hanya itu, saya pun dituntut untuk menjadi mandiri dan dapat membantu proses tumbuh kembang adik kecil saya. Sehingga, dapat dikatakan bahwa menjadi anak sulung menuntut saya untuk menjadi dewasa bahkan sebelum waktunya. Tidak hanya itu, menjadi anak sulung pun juga diharapkan untuk selalu dapat diandalkan orang tua dalam banyak hal. Sebagai contonnya, di umur sekarang menginjak 23 tahun, orang tua kini mengharapkan saya untuk memiliki tujuan hidup yang jelas dengan karir yang baik, karena berharap dapat membantu mereka dalam perencanaan studi adik saya ke depannya.

Memang dapat dikatakan bahwa saya termasuk ke dalam golongan sandwich generation di mana orang tua memiliki ekspektasi kepada saya untuk dapat membantu finansial keluarga nantinya. Terlebih lagi ketika orang tua sudah menginjak umur yang sudah tidak produktif, hal ini tentunya menjadi suatu pressure tersendiri. Sebab siapa lagi nantinya yang dapat membantu keluarga ketika orang tua sudah tidak mampu bekerja jika bukan saya?

Tidak hanya masalah finansial, topik mengenai pernikahan tentunya sering terselip di percakapan sehari-hari. Hal-hal seputar "Kapan mau menikah?" dan "Perempuan jangan terlalu lama melajang" sudah pasti akan dibicarakan, baik itu dengan orang tua sendiri maupun keluarga dekat lainnya. Meskipun saya tidak terbebani-awalnya mengenai hal-hal seperti ini, semakin lama saya menganggap ekspektasi orang tua untuk saya memiliki rencana dalam hal berkomitmen dengan pasangan hidup menjadi sebuah pressure.

Saya sendiri sudah menanyakan hal ini secara general ke beberapa teman saya yang merupakan seorang anak sulung perempuan di keluarganya, dan ternyata apa yang saya ceritakan cukup relatable dengan apa yang saya jabarkan di atas. Mulai dari harus menjadi sosok yang reliable di keluarga, tuntutan untuk dapat menggantikan figur orang tua di depan siblings lainnya, hingga dorongan untuk cepat menikah ketika menginjak umur dewasa.

.Ilustrasi anak sulung perempuan dan adiknya/ Foto: Cottonbro/Pexels

Menurut teman saya Katrina, yang juga merupakan anak sulung di keluarganya, ia pun merasakan yang sama dalam hal yang satu ini terlebih lagi di usianya yang menginjak 22 tahun, menjadi anak pertama ditambah lagi untuk perempuan memang ada suka dukanya.

"Sebagai anak sulung perempuan, gue merasa ada pressure tersendiri. Seringkali kita seperti 'dipaksa' harus menjadi yang paling kuat dan harus mengenyampingkan ego kita untuk adik kita sendiri. Gue juga harus menjadi lebih cepat dewasa karena orang tua gue mau adik gue untuk lihat gue sebagai contoh untuk dia." Hal lainnya yang membuatnya merasa cukup terbebenai sebagai anak sulung juga berasal dari ekspektasi-ekspektasi atau harapan orang tua kepadanya, di mana umurnya yang tergolong masih muda harus sudah mulai memikirkan hal-hal besar untuk masa depannya.

"Ekspektasi orang tua terhadap gue pasti ada lah ya. Seringkali mereka ngomong kalau gue sebagai anak sulung harus sukses, harus punya rumah sendiri, bisa punya investasi ini itu dan banyak ekspektasi lainnya yang mereka sering selipin di pembicaraan sehari-hari kita. Nggak salah sih, cuma kadang perkataan itu membekas dan jadinya menimbulkan pressure sehingga seringkali membebani pikiran gue."

.Ilustrasi kakak dan adik perempuan/ Foto: Rogério Martins/Pexels

Meskipun saya percaya bahwa setiap orang memiliki kondisi yang berbeda-beda dan tidak semua orang bisa relate dengan apa yang saya dan Katrina rasakan, saya percaya bahwa setiap posisi di keluarga memiliki peran dan bebannya masing-masing, serta harapan-harapan orang lain yang dipikulnya.

Mengeluh merupakan hal yang wajar apabila kita sedang berada di posisi yang membebani pikiran. Namun satu hal yang juga perlu diingat adalah untuk tetap bersyukur dengan apa yang kita miliki, orang tua yang masih sehat, adik yang bisa menghibur dan mengisi kekosongan di rumah, dan yang lain sebagainya.

[Gambas:Audio CXO]

(DIP/DIR)