Inspire | Human Stories

Berdamai dengan Diri Sendiri Sebagai Penyintas Pelecehan Seksual

Minggu, 20 Feb 2022 16:00 WIB
Berdamai dengan Diri Sendiri Sebagai Penyintas Pelecehan Seksual
Jakarta -

Siapapun pasti tahu, tidak mudah untuk menerima keadaan dan kenyataan bahwa kita pernah disakiti oleh orang lain   yang bahkan kita tidak mengenali siapa mereka. Terlebih yang mereka sakiti bukan hanya fisik, tapi juga mental. Itu rasa yang dialami oleh para korban pelecehan seksual.

Bagi para korban pelecehan seksual, apapun itu, sangat sulit menerima kenyataan bahwa mereka berstatus 'korban'. Apalagi hampir sebagian besar negara-negara di seluruh dunia masih melihat orang-orang yang mengalami pelecehan maupun kekerasan seksual sebagai pelaku juga. Ibarat 'sudah jatuh, tertimpa tangga', para korban yang sudah mengalami kesakitan secara fisik dan mental, harus ditambah lagi menghadapi labeling-labeling yang tidak masuk akal dari masyarakat, bahkan keluarga sendiri.

Oleh sebab itu, di luar sana mungkin tidak banyak orang yang berani untuk berbicara sebagai 'korban'. Sebab mereka tahu, bukan bantuan yang mereka dapat, tapi justru 'siraman air garam' yang makin mencederai luka yang ada. Ya, saya akui, sebagai salah satu penyintas pelecehan seksual, tentu tidak mudah bercerita atau berkata jujur tentang pengalaman pahit   dan mungkin tak mau dikorek lagi, menjadi seorang korban pelecehan seksual.

Bertahun lamanya, saya pernah mengalami kejadian yang mengubah seluruh hidup saya. Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saya ingat betul, siang itu, saat saya pulang sekolah dan saya sedang berjalan kaki menuju rumah, ada seorang pengendara motor meminta pertolongan saya untuk menunjukkan jalan. Lalu ketika saya sedang mencoba menunjuk jalan yang dimaksud, tiba-tiba orang yang tidak saya kenal tersebut langsung memegang dada saya dan kabur pergi memacu motornya. Sementara saya, diam mematung.

Dalam kondisi tersebut, otak saya kosong dan bergegas berlari menuju rumah. Tapi kejadian   yang saat itu saya tidak tahu bahwa saya sudah menjadi korban pelecehan seksual   saya tutup rapat-rapat karena ada perasaan malu bercampur bingung dan merasa jijik pada diri sendiri. Hingga bertahun-tahun lamanya, saya memendam semua itu.

Usai kejadian tersebut, saya menyadari perubahan pada perilaku saya dan cara saya berpakaian. Sebelum peristiwa tersebut, saya suka dengan berpakaian feminin karena terlihat cantik, namun usai mengalami kejadian itu, saya tidak mau memakai pakaian yang menunjukkan bahwa saya perempuan.

Bahkan saya pun merasa bersalah mengapa saya memiliki dada dan mempertanyakan apakah saya bisa menutupinya seumur hidup. Jijik terhadap tubuh saya dan merasa bersalah pada diri sendiri bertahun-tahun karena tidak bisa membela diri, terus menghantui saya.

Hingga pada akhirnya, ketika saya mengetahui kejadian yang saya alami saat sekolah dulu adalah salah satu korban pelecehan seksual, saya pun mulai mencari tahu bagaimana caranya lagi mencintai tubuh saya. Tapi itu bukanlah sesuatu yang mudah untuk saya lakukan. Sebab banyak ketakutan baru sampai menimbulkan kecemasan pada diri saya karena khawatir peristiwa itu akan terulang lagi di kemudian hari.

Proses penerimaan diri

Pengalaman yang saya alami mungkin adalah salah satu yang dialami oleh banyak penyintas pelecehan seksual. Penelitian menunjukkan bahwa perlu waktu bertahun-tahun--bahkan puluhan tahun--bagi beberapa orang yang mengalami pelecehan seksual dan menerimanya.

Saya pun membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menerima diri sebagai penyintas pelecehan seksual. Namun dimulai dari bercerita pengalaman yang kita alami, bisa menjadi proses awal penerimaan diri. Selain itu, hal tersebut bisa menjadi pembelajaran bagi orang lain sehingga kejadian itu bisa dihindari. Sebenarnya ada beberapa tahap yang bisa dilakukan oleh para penyintas untuk bisa menerima keadaan.

Seperti dikutip Help Guide misalnya, hal pertama yang bisa kamu lakukan adalah mencoba terbuka tentang apa yang kamu alami. Bercerita pengalaman pahit seperti ini tentu bukan sesuatu yang mudah. Mungkin kamu merasa sebaiknya menyembunyikan apa yang kamu alami selamanya. Namun, semakin kamu diam, bisa saja kejadian yang kami alami di masa lalu bisa terjadi pada orang lain.

Oleh sebab itu, pertama, cobalah bercerita pada orang yang paling kamu percayai. Tapi perlu dipastikan orang yang kamu ajak bercerita tersebut berpikiran terbuka tanpa menyudutkanmu, mendukung penuh, berempati, dan tetap tenang. Lalu, penting untuk mengingatkan diri sendiri bahwa kamu punya kekuatan dan mampu mengatasi masa-masa sulit dengan membantu sesama penyintas yang membutuhkan bantuan juga.

Kedua, cobalah untuk menghilangkan perasaan malu pada diri sendiri yang kamu pun tahu bukan kamu penyebab semua itu terjadi. Saat kita mengalami peristiwa tersebut, otak dan tubuh pasti mengalami syok hingga tidak bisa berpikir dengan jernih. Jadi ketika kamu tidak bisa membela diri, jangan pernah menyalahkan diri karena membeku di tempat adalah reaksi alami dari trauma tersebut.

Ketiga, mungkin salah satu yang paling sulit untuk dihadapi adalah pelakunya merupakan orang terdekatmu. Saat hal buruk itu terjadi padamu, bukan kamu yang harus disalahkan, melainkan pelaku. Yang seharusnya malu adalah dia, bukan kamu.

Keempat, kamu harus siap dengan tahapan selanjutnya yakni pengalaman traumatis. Untuk itu, kamu bisa mencari seorang profesional seperti psikolog dan melakukan terapi untuk menanggulangi stres pasca trauma tersebut.

Kelima, cobalah untuk terhubung kembali antara tubuh dan perasaan kamu. Setelah peristiwa pelecehan seksual terjadi, kamu mungkin akan mengalami trauma dan masih merasa bersalah pada diri sendiri. Jadi untuk mengatasi hal tersebut, cobalah untuk terhubung kembali antara hati dan tubuhmu, seperti melakukan meditasi.

Juga, kamu bisa mencoba kembali menemukan jati dirimu dengan berpartisipasi dalam kegiatan sosial, terhubung dengan teman-temanmu, dan tentu saja mulai mencintai diri sendiri seperti membiarkan dirimu memaafkan semua hal yang terjadi selama ini.

Sebagai seorang penyintas pelecehan seksual, kembali menjadi diri sendiri sebelum peristiwa itu terjadi, pasti membutuhkan waktu bertahun-tahun. Bahkan bercerita untuk pertama kalinya setelah hal itu terjadi juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Tapi percayalah bahwa badai pasti berlalu dan kamu mampu hidup seperti sediakala walau mungkin tak lagi sama.

[Gambas:Audio CXO]

(DIR)