Inspire | Human Stories

Ketika Kisah Sedih Jadi Hal yang Komersial

Kamis, 17 Feb 2022 12:00 WIB
Ketika Kisah Sedih Jadi Hal yang Komersial
Jakarta -

Sejak berlangsungnya pandemi COVID-19 ini, empati menjadi salah satu sifat yang sangat dihargai. Sifat saling membantu ini sangat memudahkan satu sama lain dalam menghadapi pandemi.

Salah satu contoh yang paling sering terlihat di media sosial adalah 'Twitter, please do your magic', sebuah frase yang ramai dilontarkan para pengguna di Twitter sambil diikuti dengan kisah sedih untuk menjual dagangan atau jasa agar dapat terus bertahan hidup di tengah pandemi. Produk dan jasa yang ditawarkan pun relatif terjangkau dan bagus secara kualitas. Dengan terus bergulirnya tren tersebut, semakin terbentuk pula lingkungan komersial yang suportif di media sosial.

Beberapa waktu lalu, media sosial sempat dihebohkan dengan kabar seorang pedagang bakso dan dagangannya yang terjatuh di jalan. Tanpa berpikir panjang, warga sekitar pun turut membantunya dengan memberikan sejumlah uang kepadanya.

Namun, rekaman CCTV masjid setempat menunjukkan bahwa ternyata itu hanya rekayasa. Si pedagang pura-pura terjatuh agar bisa mendapatkan sejumlah uang dengan memanfaatkan belas kasihan warga.

Memang benar bahwa dalam menjalankan usaha, kita harus kreatif dalam mencari cara terbaik untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Namun, apakah perbuatan seperti ini layak dimaklumi? Di satu sisi, ini jelas perbuatan yang tidak jujur, tapi di sisi lain, ini juga tidak termasuk kategori penipuan, menurut Kasi Humas Polres Salatiga AKP Hari Slamet Trianto.

Meskipun perbuatan ini bukan merupakan tindakan kriminal yang harus ditindaklanjuti oleh pihak yang berwenang, hal ini jelas bukan tindakan yang harus dibenarkan. Jika terus dibiarkan terjadi, perbuatan ini akan terus mengikis rasa percaya satu sama lain dan budaya tolong menolong yang sudah mengakar kuat dalam budaya kita sejak lama.

Lama-kelamaan, orang akan semakin enggan membantu orang lain yang sedang tertimpa musibah seperti yang terjadi pada kasus tersebut. Terdengar familiar? Ya, seperti dongeng The Boy Who Cried Wolf dari Aesop's Fables yang sering kita baca atau dengar waktu kecil.

[Gambas:Audio CXO]

(HAL/DIR)

Author

Handoko Lun