Interest | Home

Eksperimen Kami: Berkeliling Kota Medan Tanpa Rencana

Kamis, 30 Mar 2023 17:00 WIB
Eksperimen Kami: Berkeliling Kota Medan Tanpa Rencana
Foto: CXO Media/Almer Mikhail
Jakarta -

Salah satu program traveling favorit saya di televisi memiliki judul Hangin' Around with No Plan. Dibawakan oleh komedian Hiroiki Ariyoshi dan announcer Yoko Shono, format dari program ini sepenuhnya mengikuti apa yang disampaikan judulnya. Kedua host ini—kadang ditemani bintang tamu lain—berkeliling kota tanpa rencana sama sekali, mengunjungi berbagai tempat secara spontan, dan berinteraksi dengan warga setempat tanpa script. Berkeliling kota dengan cara ini rupanya membuka mata terhadap hal-hal menarik yang sebelumnya mungkin luput diperhatikan. Ini juga adalah cara favorit saya untuk traveling, termasuk ketika berkunjung ke Medan untuk pertama kalinya beberapa minggu kemarin. Berikut adalah sedikit rekapnya.

Mulai Perjalanan di Little India

Titik awal perjalanan saya adalah daerah Little India yang terletak di dekat hotel. Selain banyaknya tempat menarik di daerah ini, saya juga ingin mencoba menaiki transportasi khas Medan, yaitubentor atau becak motor (entah "N"-nya dari mana). Awalnya, saya berniat untuk mencari pangkalanbentor ini, namun setelah bertanya pada pegawai hotel, rupanyabentor tidak memiliki pangkalan. Cara untuk mencaribentor adalah dengan mencegat di pinggir jalan, terutama jalanan yang sibuk.

Bagian depan Medan BakeryBagian depan Medan Bakery/ Foto: CXO Media/Almer Mikhail

Sesampainya di Little India, tujuan pertama saya adalah mencari sarapan. Belum terlalu banyak tempat makan yang buka, namun saya menemukan toko roti yang telah buka sejak tahun 1950; Medan Bakery. Pasca berbincang singkat dengan beberapa penjaga toko ini, saya pun membeli roti wijen coklat untuk diri sendiri dan rekan-rekan CXO Media lain. Soal bagaimana rasanya tak akan saya bahas terlalu mendalam di sini (karena sudah saya bahas di artikel lain), namun yang pasti roti ini kemudian menjadi repeat purchase.

Melihat banyaknya tempat yang bisa dituju (dan makanan lain yang bisa dicicipi), saya memutuskan untuk kembali ke kawasan ini sore nanti. Setelah membeli roti, saya pun menunggu di pinggir jalan untuk mencari bentor yang melewat. Tak lama, saya pun menemukan bentor yang tak membawa penumpang. Tujuan selanjutnya? Kawasan pecinan Medan.

Deretan Ruko dan Nuansa Peranakan

Melihat-lihat suasana kota rupanya lebih ideal dilakukan dengan bentor daripada layanan ojek online yang lebih banyak digunakan, karena bentor memberikan view yang lebih luas di samping pengemudi. Minusnya adalah sulitnya berbicara bersama pengendara karena ketinggian posisi duduk yang berbeda—atau memang mungkin saya mendapat pengemudi bentor yang kurang talkative ketika diajak mengobrol.

Tiba di kawasan Pasar Baru, saya meminta diturunkan di satu deretan pertokoan yang seluruhnya menjajakan Chinese food gaya Medan. Banyak makanan yang menarik perhatian saya, walau tujuan saya sudah ditentukan sebelumnya: Mie Tiong Sim yang telah buka sejak tahun 1940. Meski kapasitas perut saya di atas rata-rata, sayangnya tetap tidak cukup untuk mencicipi hidangan lain. Pasca early lunch yang memuaskan, saya memutuskan untuk membakar kalori yang telah dikonsumsi dengan berjalan kaki mengitari daerah pecinan Medan lebih lanjut.

Deretan ruko di kawasan pecinan MedanDeretan ruko di kawasan pecinan Medan/ Foto: CXO Media

Seperti tipikal pecinan di daerah Jalur Sutra Maritim lain di Asia Tenggara—misalkan Malaysia—pecinan di Medan juga memiliki nuansa nostalgik yang serupa. Deretan bangunan lama, ruko-ruko yang menempel terhadap satu sama lain, serta berbagai toko bunga—lengkap dengan dekorasi lampion di depan masing-masing bangunan—merupakan pemandangan yang saya suka untuk temui di kota mana pun. Kesamaan serta perbedaan-perbedaan kecil dari pecinan di tiap kota yang memberikan gambaran tentang bagaimana pertemuan budaya adalah aspek menarik dari sejarah suatu tempat.

Deretan ruko yang identik dengan kawasan pecinan secara universal tersebut baru dibangun pada tahun 1890an di Medan. Sebelumnya, rumah-rumah di daerah tersebut dibangun dengan kayu. Daerah Kesawan yang saya tuju selanjutnya merupakan pecinan pertama di mana arsitektur yang ditampilkan merupakan ekspresi populasi Tionghoa Kota Medan. Rupanya, model ruko "modern" dengan pengaruh era kolonial yang kini banyak ditemui bukanlah merupakan konstruksi ideal bagi kawasan tropis yang dulunya hampir selalu memiliki area atrium dan taman untuk memberikan sirkulasi udara dan cahaya natural. Bangunan-bangunan heritage yang lebih autentik bisa ditemui di daerah Labuhan Deli, yang sayangnya tak sempat saya kunjungi.

Langkah kaki saya selanjutnya membawa saya keTjong A Fie Mansion, hunian pribadi dari pengusaha, bankir, dan tokoh masyarakat Medan yang berasal dari Tiongkok. Lahir pada 1860 diGuangdong,Tjong A Fie memutuskan untuk merantau ke Indonesia ketika remaja untuk menyusul kakaknya,Tjong YongHian, yang telah menetap di Medan terlebih dahulu. Karena kecerdasan dan kepandaiannya bergaul, ia kemudian berkembang menjadi seorang pebisnis yang sukses serta sosok pemimpin komunitas Tionghoa di Medan yang sangat menghargai pluralisme. Selama hidupnya,Tjong A Fie memiliki peran besar dalam perkembangan Kota Medan, termasuk membuka lapangan pekerjaan bagi lebih dari 10.000 orang dan membangun berbagai landmarkMedan—tak terkecuali rumah ibadah dari berbagai kepercayaan.

Atrium tengah Tjong A Fie MansionAtrium tengah Tjong A Fie Mansion/ Foto: CXO Media/Almer Mikhail

Di Tjong A Fie Mansion yang merupakan huniannya bersama keluarga dari istri ketiganya—Lim Koei Yap yang berasal dari Binjai—pengunjung bisa melihat sejarah pencapaian Tjong A Fie, artefak-artefak berharga, hingga sejarah keluarganya. Rumah ini sendiri memiliki gaya arsitektur yang beragam, mulai dari Tionghoa, Melayu, hingga Eropa. Ruang-ruang yang berbeda berfungsi untuk menjamu tamu yang beragam, termasuk rekanan bisnisnya dari berbagai belahan dunia. Konstruksinya pun dirancang berdasarkan prinsip feng shui, lengkap dengan ruang terbuka di bagian pusat rumah. Satu bagian dari rumah ini bahkan masih ditinggali oleh keturunan Tjong A Fie, yaitu Mimi Tjong yang merupakan cucunya dari anak keempat perkawinan ketiga. Menariknya, kunjungan saya bertepatan dengan ulang tahun Bu Mimi yang merayakannya bersama staf Tjong A Fie Mansion.

Banyaknya Graffiti dan Perjalanan Kembali

Perjalanan saya lanjutkan dengan berjalan kaki tanpa tujuan pasti. Selama seharian, saya menemukan banyak graffiti dan mural yang tersebar di berbagai penjuru kota Medan. Saya tidak familiar dengan skena street art di Medan, namun cukup refreshing rasanya melihat sudut-sudut kota yang "hidup". SelainTjong A Fie Mansion, rupanya keluargaTjong A Fie juga memiliki situsikonik lainnya, yaitu taman bungaTjong YongHian Gallery. Peninggalan kakak dariTjong A Fie ini diresmikan pada 2011, namun baru dibuka untuk umum pada 2020. Penemuan ini langsung saya jadikan tujuan selanjutnya setelah berjalan-jalan tanpa arah. Anehnya, ketika sampai di sana saya diinformasikan oleh penjagaTjong YongHian Gallery bahwa taman tersebut belum terbuka untuk umum dan kini tengah ada kunjungan keluarga. Sedikit heran karena tidak menerima penjelasan lebih lanjut, saya pun memutuskan kembali ke Little India untuk membeli oleh-oleh lain bagi timCXO Media dan berjalan-jalan.

Berbagai graffiti di sudut Kota MedanBerbagai graffiti di sudut Kota Medan/ Foto: CXO Media/Almer Mikhail

Menjelang sore, rasanya gorengan cocok untuk dinikmati bersama teman-teman-maka inilah yang saya cari. Tahu Isi Ny. Endang adalah rekomendasi yang saya dapatkan dari teman, dengan lokasi di Madras Hulu. Ternyata, tahu isi yang konon selalu mengantre tersebut saya dapatkan dengan mudah tanpa banyak menunggu. Namun, sebelum kembali ke hotel untuk berbagi makanan bersama teman-teman, ada satu destinasi terakhir; KuilShriMariamman.

Kuil Shri Mariamman yang vibrantKuil Shri Mariamman yang vibrant/ Foto: CXO Media/Almer Mikhail

Terletak tepat sebelum gerbang menuju Little India, Kuil Shri Mariamman adalah kuil Hindu tertua di Petisah Tengah, Medan yang dibangun pada 1881. Kuil ini menstanakan Dewa Shri Vinayagar, Dewa Shri Murugan, dan Dewi Shri Mariamman. Yang menarik dari Kuil Shri Mariamman adalah desainnya yang vibrant, penuh dengan ukiran patung berbagai figur dalam mitologi Hindu. Tak ada orang sama sekali di Kuil Shri Mariamman tersebut pada kunjungan singkat saya, yang berarti sayangnya tak ada yang bisa ditanyai mengenai kuil tersebut. Walau begitu, kosongnya kuil ini memberikan ketenangan yang unik; di tengah kota yang sibuk terdapat tempat ibadah se-peaceful ini.

Meski tak terlalu banyak destinasi yang dituju, namun perjalanan hari ini cukup berkesan bagi saya. Apakah ada hal-hal yang bisa saya lakukan dengan lebih efisien? Tentu saja. Namun, acaknya perjalanan hari ini tidak saya sesali. Mengingat ada beberapa hal yang tak berhasil saya lakukan dalam perjalanan kali ini, apakah saya akan mengubah mode traveling saya lain kali? Sepertinya tidak sepenuhnya.

[Gambas:Audio CXO]

(alm/tim)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS