Insight | General Knowledge

Mahasiswa AS Dirikan Perkemahan dalam Aksi Pro-Palestina

Selasa, 30 Apr 2024 17:04 WIB
Mahasiswa AS Dirikan Perkemahan dalam Aksi Pro-Palestina
Mahasiswa AS Dirikan Perkemahan dalam Aksi Pro-Palestina/Foto: Reuters
Jakarta -

Sejak minggu lalu, tepatnya 17 April, gelombang aksi pro-Palestina merebak di puluhan universitas di Amerika Serikat. Para mahasiswa melakukan protes dengan mendirikan perkemahan di halaman kampus. Di Columbia University, tempat di mana aksi ini bermula, gerakan ini diprakarsai oleh organisasi Students for Justice in Palestine serta Jewish Voice for Peace.

Menuntut Keberpihakan Universitas

Para peserta aksi, baik mahasiswa maupun pengajar, menuntut agar Columbia menarik investasi dari perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan Israel. Dilansir Al Jazeera, perusahaan-perusahaan tersebut adalah Black Rock, firma manajemen investasi; Airbnb, yang menawarkan sewa properti di wilayah Tepi Barat; Caterpillar, perusahaan pembuat buldoser yang digunakan Israel; dan Google, yang telah menandatangani kontrak dengan pemerintah Israel untuk menyediakan teknologi kecerdasan buatan bernama Project Nimbus.

Sehari setelah perkemahan didirikan, rektor Columbia University, Minouche Shafik, memanggil aparat kepolisian yang akhirnya menangkap lebih dari 100 mahasiswa. Namun sejak penangkapan tersebut, tenda-tendanya kembali didirikan dan aksi kembali berjalan.

Para mahasiswa yang mengikuti aksi tersebut mengaku mereka hanya mempraktikkan ilmu yang mereka pelajari di kelas. Dilansir Reuters, profesor ilmu sejarah, Frank Guridy, bahkan sempat mampir ke perkemahan dan menggelar kelas dadakan bertajuk "1968: Continuing the Fight". Bersama para mahasiswa, ia mendiskusikan persamaan antara aksi yang digelar sekarang dengan aksi di Columbia tahun 1968 dalam rangka memprotes Perang Vietnam.

Tak hanya di Columbia, aksi pro-Palestina juga menjalar ke puluhan kampus lainnya di seluruh negara bagian. Perkemahan juga didirikan Yale University, Massachusetts Institute of Technology, George Washington University, University of Chicago, University of Southern California, University of California at Los Angeles, dan University of California at Berkeley.

Belum ada tanda-tanda dari pihak universitas untuk melaksanakan tuntutan dari pada peserta aksi. Hingga minggu ini, sudah ada setidaknya 900 mahasiswa yang ditangkap sejak aksi dimulai. Bahkan, pihak Columbia University memberi ultimatum kepada mahasiswa yang dicap "pengganggu ketertiban" untuk segera membongkar tenda mereka, jika tidak mereka akan dikenakan sanksi berupa skors atau bahkan dikeluarkan dari kampus. Tapi pada titik ini, tidak ada yang bisa menghentikan tekad para peserta aksi untuk terus bersolidaritas dengan Palestina.

(ANL/alm)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS