Insight | General Knowledge

Eksperimen Kami: Menjelajahi Mastodon yang Jadi Tandingan Twitter

Kamis, 17 Nov 2022 17:30 WIB
Eksperimen Kami: Menjelajahi Mastodon yang Jadi Tandingan Twitter
Jakarta -

Sejak Elon Musk menjabat sebagai CEO, Twitter bagaikan kapal pecah; hate-speech meningkat, banyak akun palsu bermunculan, dan misinformasi menjamur. Bahkan, harga saham perusahan farmasi bernama Eli Lilly and Company menurun tajam setelah sebuah akun palsu yang mengatasnamakan perusahaan itu mencuit bahwa insulin akan dijual gratis di Amerika Serikat.

Saking fatalnya dampak yang ditimbulkan, peristiwa ini membuat Twitter menunda rencana akun verifikasi berbayar. Entah akan seperti apa masa depan Twitter, yang jelas banyak pengguna merasa skeptis.

Kekacauan yang terjadi di Twitter membuat banyak pengguna berbondong-bondong bermigrasi ke media sosial lain. Salah satu media sosial yang ramai diperbincangkan sebagai calon pengganti Twitter adalah Mastodon. Bahkan, kabarnya, jumlah pengguna aktif Mastodon melonjak hingga 1 juta dalam waktu 10 hari. Namun, apa itu Mastodon dan bagaimana kerjanya?

Mastodon didirikan tahun 2016 oleh Eugen Rochko, pengembang software asal Jerman yang memiliki visi untuk mendemokratisasi media sosial. Menurutnya, komunikasi melalui media sosial terlalu penting untuk dikontrol oleh perusahaan yang memiliki kepentingan kapitalistik, dan kontrol media sosial seharusnya dikembalikan ke tangan pengguna. Tidak seperti media sosial lainnya, Mastodon bersifat non-profit dan open-source.

Sekilas fitur-fiturnya hampir sama dengan Twitter, yaitu memfasilitasi microblogging. Namun di sini, semua orang bisa membuat server dan juga menetapkan peraturan yang berlaku di server tersebut. Masing-masing server ini dimiliki, dioperasikan, serta dimoderasi oleh komunitas yang membuatnya. Meski begitu, masing-masing server ini bisa saling berkomunikasi satu sama lain. Jadi, Mastodon bukanlah sebuah platform tunggal, melainkan platform yang menghubungkan server-server ini ke dalam sebuah "Fediverse".

Ramainya perbincangan mengenai Mastodon dan tingginya jumlah orang yang bermigrasi ke sana membuat saya ikut tergoda untuk mencoba media sosial ini. Apakah ia sebagus yang dikatakan orang-orang dan bisakah Mastodon menggantikan Twitter? Berikut adalah pengalaman saya!

Mastodon versus Twitter: Serupa Tapi Tak Sama
Langkah pertama yang saya lakukan adalah mengunduh Mastodon di App Store dan membuat akun. Tampilan Mastodon sendiri lumayan cute, dengan grafik warna-warni seperti kartun anak-anak. Seperti di media sosial lainnya saya diminta untuk mengisi alamat email, username, dan password. Setelah mendapat link konfirmasi melalui email, saya diarahkan kembali ke aplikasi untuk memilih server atau yang disebut sebagai Instance di Mastodon.

Log in MastodonLog in Mastodon/ Foto: Anastasya Lavenia

Di bagian pemilihan Instance, ada keterangan "Mastodon is made of users in different servers. Pick a server based on your interests, region, or a general purpose one." Ada tab yang berisi sub-topik yang bisa dipilih, seperti general, regional, art, music, dan lain-lain. Selain itu, masing-masing Instance juga memiliki keterangan berapa jumlah anggotanya dan bahasa apa yang digunakan.

Di bagian ini saya merasa cukup bingung karena belum mengerti bagaimana server atau Instance bekerja. Namun saya iseng mencoba memilih salah satu server yang topiknya cukup umum, yaitu mindly.social. Nah, username kita nanti akan mengikuti server yang kita pilih, jadi username saya adalah @[email protected]

Memilih ServerMemilih Server/ Foto: Anastasya Lavenia

Setelah memilih Instance, saya diberitahu ground rules apa saja yang berlaku di server mindly.social. Peraturan di sini tak seperti community guidelines yang konvensional, misalnya peraturan nomor 3 tertulis bahwa saya harus bersikap ramah kepada semua orang dan dilarang membuat hate-speech. Setelah mencermati aturannya, akun saya pun siap untuk digunakan.

Peraturan ServerPeraturan Server/ Foto: Anastasya Lavenia


Di Mastodon, setiap cuitan disebut dengan toot, dan kita bisa menuliskan hingga 500 huruf untuk setiap toot. Secara umum, fitur dan tampilan Mastodon mirip seperti Twitter; kita bisa membuat toot, me-reblog toot orang lain, dan membalas toot orang lain. Saya pun mencoba membuat sebuah toot, dan langsung saja ada pengguna yang membalas toot saya. Di toot ini, saya bertanya apakah ada yang bisa mengajarkan bagaimana cara menggunakan aplikasi ini. Kemudian salah satu pengguna merujuk saya kepada fedi.tips untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana Mastodon bekerja.

Mencoba TootMencoba Toot/ Foto: Anastasya Lavenia

Namun, Mastodon tak menyediakan fitur Direct Message. Sebagai gantinya, kita bisa mengatur siapa saja yang bisa melihat setiap toot atau reply yang kita publish; ada tiga pilihan yaitu public, followers, atau sebatas orang yang di-mention. Selain itu, kita juga bisa menyertakan content warning untuk setiap toot yang kita tulis.

Mencoba TootMencoba Toot/ Foto: Anastasya Lavenia

Tidak Sebising Twitter, Tapi Cukup Membingungkan
Kesan pertama saya ketika mencoba Mastodon adalah saya merasa sedikit overwhelmed. Seperti yang sudah saya ceritakan di atas, saya merasa bingung ketika dituntut untuk memilih Instance ketika baru saja membuat akun. Saya tidak tahu apakah saya tetap bisa melihat toot dari orang-orang di server lain dan apakah saya bisa mengganti pilihan server kalau saya berubah pikiran.

Kebingungan yang muncul saat pertama kali menggunakan Mastodon sebenarnya wajar belaka, sebab kalau diingat-ingat saya juga pernah merasa bingung ketika menggunakan Twitter untuk pertama kalinya. Apalagi, berhubung Mastodon tidak dikelola oleh perusahaan dan bersifat open-source, tidak ada guideline resmi yang bisa menjadi pedoman para pengguna. Namun di internet, saya menemukan banyak unofficial guidelines yang dibuat oleh para pengguna—seperti fedi.tips.

Selain itu, berdasarkan pengalaman ini, bisa disimpulkan bahwa yang membuat Mastodon membingungkan bagi pengguna beginner (apalagi bagi orang gaptek seperti saya) bukanlah fitur-fiturnya, tapi cara kerja media sosial open-source yang mungkin masih asing bagi banyak orang. Banyak istilah asing di Mastodon, seperti "server" dan "Fediverse" yang mungkin pada awalnya akan sulit untuk dicerna.

Hal menarik lainnya adalah dengan memberi kesempatan kepada pengguna untuk memilih server, situasi di timeline cenderung lebih kondusif dan tidak sebising di Twitter. Twitter terkadang sangat riuh, karena semua jenis konten tumpah ruah di satu gelembung yang sama. Sedangkan di Mastodon, ada banyak gelembung yang bisa dipilih, namun kita tetap bisa berkomunikasi dengan gelembung-gelembung lain.

Tidak seperti di Twitter atau di media sosial lainnya, pengguna memiliki kontrol di Mastodon. Sebagai seseorang yang sudah terbiasa didikte oleh fitur-fitur buatan perusahaan, saya merasa aneh ketika pindah ke Mastodon, mungkin karena saya belum terbiasa dengan cara kerja media sosial yang disebut lebih demokratis ini. Jika sudah terbiasa, saya yakin Mastodon akan menjadi media sosial yang nyaman dan mudah untuk digunakan. Namun kalau ditanya apakah Mastodon bisa menggantikan Twitter, untuk saat ini jawabannya adalah tidak bisa. Sebab Twitter menurut saya, tidak akan bisa tergantikan. Meski demikian, melihat kondisi Twitter sekarang, Mastodon bisa menjadi alternatif yang cukup menarik dan layak dicoba.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS