Insight | General Knowledge

FIBA Asia Cup 2022: Oleh-oleh 'Daging' Buat Indonesia

Jumat, 29 Jul 2022 18:00 WIB
FIBA Asia Cup 2022: Oleh-oleh 'Daging' Buat Indonesia
Foto: FIBA Asia Official
Jakarta -

Pada 2017 silam, Federasi Bola Basket Dunia (FIBA) resmi menunjuk Jepang, Filipina, dan Indonesia sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia 2023 mendatang. Seharusnya, setiap tuan rumah berhak akan satu tempat di sana. Namun menurut FIBA, Indonesia perlu membuktikan diri terlebih dahulu, lewat Kualifikasi Piala Dunia 2023; atau paling tidak, lolos ke fase 8 besar FIBA Asia, sebelum akhirnya berhak tampil di Piala Dunia FIBA untuk pertama kalinya sepanjang sejarah.

Aturan itu memang cukup bernilai objektif, mengingat Indonesia sendiri hanya menempati peringkat ke-14 Basket Asia dan belum bisa menembus 100 besar peringkat basket dunia   setidaknya per 1 Juli 2022 atau sebelum FIBA dimulai. Seperti perkiraan di atas kertas, Timnas Garuda harus puas dengan kegagalan total di Kualifikasi Piala Dunia 2023, usai menelan 6 kekalahan beruntun dari tiga raksasa basket asal Timur Tengah: Lebanon, Arab Saudi dan Jordania.

Sementara itu, satu peluang menuju Piala Dunia lainnya sempat diperjuangkan dengan sekuat tenaga oleh Andakara Prastawa cs. pada FIBA Asia Cup 2022 yang berlangsung sejak 12-24 Juli 2022 kemarin, di Istora Senayan, Jakarta. Sebenarnya boleh dikatakan, bahwa Timnas Indonesia menjaga asa tampil di Piala Dunia via FIBA Asia Cup 2022 dengan baik dan dinamis, di mana Indonesia tampil pantang menyerah sepanjang keikutsertaan.

.Aksi Marques Bolden di FIBA Asia Cup/ Foto: FIBA Asia Official

Buktinya, skuad Garuda yang dimotori Marques Bolden sukses mencetakan kemenangan meyakinkan atas Arab Saudi, di laga perdana Grup A FIBA Asia Cup dengan skor akhir 80-54. Berbekal optimisme, dukungan penuh publik tuan rumah, dan suntikan moral tambahan usai menjuarai SEA Games Vietnam bulan Mei silam, Timnas yang mengincar target tinggi melanjutkan perjalanan melawan dua kekuatan Basket Asia saat ini: Yordania dan Australia, pada sisa laga di Grup A FIBA Asia Cup kemarin.

Sayang, dua laga wajib menang tersebut justru tidak berakhir baik bagi Timnas. Yordania berhasil menggagahi Indonesia dengan skor 74-65   kendati sempat tertinggal oleh cemerlangnya aksi Derrick Michael di awal laga. Sedangkan saat menghadapi Australia, skuad Garuda malah tampil kewalahan, usai dicukur sang Juara Bertahan FIBA Asia tersebut 78-53. Walaupun kalah, Timnas Garuda sendiri masih sempat memperpanjang napas dan harapan, saat menghadapi pilar-pilar menjulang Timnas Basket China di laga playoff 8 besar. Meskipun pada akhirnya, mimpi besar Garuda lolos ke Piala Dunia FIBA tahun depan harus terlepas dari genggaman di partai hidup-mati, kala skuad asuhan Pelatih Milos Pejic bertekuk lutut 58-108 dari China, yang sekaligus menjadi tamparan dan pelajaran paling berharga bagi Garuda yang tengah bermimpi besar.

Oleh-oleh Berharga Buat Garuda

Kekalahan dari China otomatis menyingkirkan Indonesia dari FIBA Asia Cup 2022 dan menyirnakan harapan tampil di Piala Dunia FIBA yang berlangsung di kandang tahun depan. Sebagai informasi, dua lawan yang direpotkan Indonesia di babak grup A, Australia dan Yordania menutup turnamen dengan hasil yang baik: 'Boomer' sukses mempertahankan gelar setelah mengalahkan Lebanon di Final, sedangkan Yordania merebut posisi ketiga dari Selandia Baru.

Meski pahit dan tidak sesuai harapan, Garuda tetap harus menerima pil pahit di FIBA Asia kemarin sebagai pelajaran paling berharga dalam sejarah bola basket dalam negeri. Betapa tidak? Ini adalah kali pertama Indonesia punya kans besar untuk lolos ke Piala Dunia. Artinya, meskipun gagal, pengalaman ini menandakan bahwa Indonesia tengah berada di track yang benar.

.Skuat inti Indonesia di FIBA Asia Cup/ Foto: FIBA Asia Official

Selain itu, dengan tampilnya bintang-bintang basket terbaik Asia di Tanah Air, momen ini seharusnya turut memberikan pengalaman dan wawasan lebih bagi penggiat dan pecinta basket nasional, yang akhirnya bisa menghadiri pertandingan basket berkualitas dunia secara langsung   terlebih khusus bagi punggawa Timnas kita, yang memang minim tampil di event-event kompetitif.

Walaupun demikian, perjuangan Timnas di FIBA Asia tetap perlu diapresiasi bersama, mengingat kegagalan barusan adalah kali pertama kita menjejal diri pada kesempatan brilian, yang sebelumnya belum pernah menghampiri. Apabila ingin menyikapinya secara lebih bijak, agaknya meminjam istilah Tan Malaka, "Terbentur, terbentur, terbentuk," cukup tepat mewakili keadaan yang dihadapi Timnas.

Tentu, meski kenyataan yang tidak sesuai harapan sulit diabaikan begitu saja, kita sama-sama tahu kalau Indonesia akan punya masa yang cerah di Basket Dunia. Buktinya pun jelas ada. Salah satunya bisa dilihat dari medali emas bersejarah persembahan Timnas Basket di SEA Games Vietnam pada bulan Mei lalu, yang setidaknya membuktikan bahwa kita layak bersanding dengan Filipina di tier teratas Basket Asia Tenggara.

Lebih dari itu, kita juga harus segera menyadari, bahwa Timnas Basket Indonesia sekarang diisi oleh sederet nama potensial, yang sangat mungkin mengharumkan Merah-Putih di waktu datang. Seperti kehadiran Marques Bolden, center naturalisasi asal Amerika Serikat yang disebut Kapten Timnas Arki Wisnu, sebagai "pelengkap lubang yang kosong di Timnas selama ini". Atau hadirnya seorang Derrick Michael, pemain belia blasteran Kamerun-Indonesia dengan prospek menjanjikan.

Tetap Percaya!

Sepintas, mungkin kalimat-kalimat di atas terdengar layaknya pembelaan liris atas kegagalan Timnas di FIBA Asia dan dalam melangkah ke Piala Dunia. Tetapi sejujurnya, justru kenyataan tersebut adalah suatu oleh-oleh paling berharga yang perlu kita nikmati bersama. Bukan hanya untuk skuat timnas, namun juga federasi, pengelola liga, dan simpatisan basket nasional, hingga pemain masa depan.

Mengutip pernyataan Andakara Prastawa, salah satu tulang punggung Timnas di FIBA Asia kemarin, "Yang kita tetap harus lakukan adalah melihat ke depan, bukan melihat raihan kemarin aja. Itu jadi pelajaran buat anak-anak. Pesan dari gua jangan jadi kayak kita, tapi sebisa mungkin melebihi kita." Senada dengan Prastawa, Pemain Senior sekaligus Kapten Timnas Arki Wisnu turut menuturkan, "Kami akan terus belajar dari seluruh pengalaman di FIBA Asia Cup. Jadi sabar."

.Aksi Derrick Michael di FIBA Asia Cup./ Foto: FIBA Asia Official

Hal ini memang benar adanya. Bekal emas di SEA Games lalu tidak boleh meninabobokan kita ke dalam tidur lelap. Sebagai Timnas yang sedang merangkak dan belajar terbang, Basket Indonesia memang perlu kembali belajar dan berbenah bersama-sama, demi terwujudnya cita-cita yang mulia: Tampil di Piala Dunia untuk kali pertama dalam sejarah, dan menjadi kekuatan baru tata basket dunia yang diperhitungkan.

Tepat seperti yang diungkap coach Milos, "Kami tak ingin berhenti sekarang. Kami baru saja memulai satu langkah. Setiap target besar dimulai dengan satu langkah kecil. Kami tak ingin bersedih dan kecewa sekarang. Kami ingin melanjutkan program kami. Kami ingin melanjutkan kerja keras kami."

[Gambas:Audio CXO]



(DIR)