Insight | General Knowledge

FIBA Asia Cup 2022: Di Dalam Kegagalan, Sang Garuda Menjadi Dewasa

Selasa, 19 Jul 2022 15:00 WIB
FIBA Asia Cup 2022: Di Dalam Kegagalan, Sang Garuda Menjadi Dewasa
Jakarta -

Timnas Basket Indonesia baru saja kalah telak 58-108 dari China di quarterfinal play-off FIBA Asia Cup 2022. Hasil ini membuat Indonesia gagal lolos ke babak 8 besar sekaligus kehilangan tempat di Piala Dunia FIBA tahun depan. Tetapi, apakah kegagalan ini hanya patut disesalkan? Tidak banyak yang orang bicarakan soal bertumbuh dewasa. Sejauh ini, yang mereka katakan dan pedulikan hanyalah seputar keberhasilan-keberhasilan di perjalanan mewujudkan mimpi. Bahkan lebih bodohnya, terlalu banyak yang menganggap bahwa menjadi dewasa adalah berprestasi sejak dini.

Sungguh, hal-hal demikian adalah kesalahkaprahan bodoh yang terlanjur terwariskan. Padahal, ya, padahal, menjadi dewasa tidak melulu tentang hasil yang bisa dibanggakan saat itu juga. Sebab sebagaimana kita tahu faktanya, bahwa hasil tidak melulu datang duluan; ada proses panjang penuh luka, yang perlu ditaklukan dalam teguh keyakinan.

.Timnas Basket Indonesia berhadapan dengan China di Quarterfinal FIBA Asia Cup 2022/ Foto: Ahmad Almajhouli/FIBA Asia Official

Jika salah, maka perbaiki. Jika terjatuh, bangkit lagi. Kalau masih gagal, coba lagi. Coba terus, tanpa henti. Itulah pendewasaan yang tidak pernah seringkas komentar pedas netizen. Sebuah fase panjang penuh kegagalan, yang pahitnya selalu berbuah hikmah. Karena pada pangkalnya, usai upaya tidak kenal lelah, bersama segala perbaikan dalam latihan, inovasi dan improvisasi sana-sini, setiap mimpi yang diperjuangkan pasti berbuah prestasi. Barangkali, ilustrasi singkat barusan adalah inti masalah yang perlu kita pahami dalam menyikapi kegagalan Tim Nasional Bola Basket Indonesia di FIBA Asia Cup 2022. Sebuah perjalanan penuh ekspektasi yang berujung tragedi, di mana Basket Indonesia kehilangan mimpi terbesarnya: Lolos ke putaran final Piala Dunia FIBA untuk pertama kali sepanjang sejarah.

Namun dengan catatan, ini adalah kali pertama mereka mencoba mewujudkan mimpi yang besar. Mimpi yang selama ini mungkin belum pernah terbayangkan, sebab terlampau jauh dari angan dan jangkauan. Situasi ini memang tidak mengenakkan. Mengingat Garuda hanya selangkah lagi untuk bisa terbang di luasnya langit basket dunia.

.Timnas Basket Indonesia mencoba menaklukan dinding Cina/ Foto: Ahmad Almajhouli/FIBA Asia Official

Akan tetapi, ya, cerita ini memang soal tetapi. Sang Garuda yang baru sadar bahwa dirinya gagah dan berani, masih belum mampu melewati angkuhnya tembok China. Suatu pil pahit yang perlu diterima sekali lagi, dalam upaya menjadi dewasa dan mewujudkan mimpi yang luar biasa. Maka kali ini, biarlah cerita nyaris lolos atau pembelaan hampir berhasil dipinjam oleh Timnas Basket kita    sebagaimana alasan klise yang kerap digunakan Timnas dari cabang olahraga lain. Sebab memang, kali ini Timnas Basket benar-benar gagal di langkah terakhir usai perjuangan tidak kenal lelah.

Melihat kiprah Timnas di FIBA Asia seminggu ke belakang, siapa yang pernah menyangka bahwa anak-anak pertiwi yang tidak kekar dan besar mampu menaklukan Arab Saudi; sanggup meladeni Yordania yang punya tradisi; dan sempat merepotkan Raksasa Basket Australia? Meski pada akhirnya, pelajaran dari celah-celah "tirai bambu" yang menjulang kembali menyadarkan sang Garuda, bahwa mereka harus kembali memantaskan diri. Singkatnya, Garuda tidak kalah dalam pasrah. Garuda telah berjuang dengan sangat baik, seakan-akan mulai sadar bahwa dirinya tidak sekecil sebelumnya. Jelas, Garuda tengah berkembang. Jauh berkembang. Berbekal merajai Asia Tenggara, Timnas Basket Indonesia memang sedang bersiap menjadi dewasa, dan memantaskan dirinya untuk menjadi raksasa yang diperhitungkan.

.Marques Bolden/ Foto: Ahmad Almajhouli/FIBA Asia Official

Apalagi, bisa dibilang kita telah punya cukup sumber daya. Ada Derrick Michael, bintang harapan Garuda yang sedang mematangkan diri. Ada pula Marques Bolden yang jasanya sangat patut diapresiasi. Hanya saja, beberapa faktor domestik lain masih perlu ditingkatkan. Seperti menciptakan ekosistem kompetisi dalam negeri yang sehat dan kompetitif demi menunjang kebutuhan aksi Sang Garuda dan beberapa hal lainnya.

Terakhir, biarlah rasa bangga dan terima kasih yang tulus tersampaikan kepada setiap insan Garuda yang telah berjuang di FIBA Asia. Baik bagi mereka yang bergelut di lapangan, juga kepada mereka yang tak pernah lelah bersorak-sorai di tribun, atau segenap pihak terkait yang terus mendukung. Terima kasih sudah bersama-sama mewujudkan mimpi. Gagal itu biasa. Kita bisa coba lagi esok hari. Sebagaimana yang diucapkan sosok asal Serbia yang menangani strategi kita, Indonesia sedang berada di jalur yang benar menuju masa depan cemerlang. Saat ini, yang dibutuhkan adalah perbaikan dalam diri yang tidak main-main dari seluruh pihak yang terlibat. Demi satu mimpi mulia, Garuda terbang gagah perkasa di bentang perbasketan dunia pada masa yang akan datang.

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/HAL)