Insight | General Knowledge

Sejarah Planned Parenthood

Rabu, 29 Jun 2022 16:00 WIB
Sejarah Planned Parenthood
Jakarta -

Seiring berjalannya aksi protes global atas digulingkannya Roe v. Wade, hak aborsi yang diperjuangkan sejak tahun 1973 di Amerika Serikat karena dianggap "sangat salah, sangat lemah, dan merusak sehingga dapat terjadi penyalahgunaan wewenang kehakiman" (Jaksa Samuel Alito), saya ingin mengupas sedikit sejarah tentang Planned Parenthood Federation of America, Inc. (Planned Parenthood) yang tentunya bersinggungan langsung dengan hak aborsi.

Planned Parenthood adalah Non-Governmental Organization (NGO) yang didirikan oleh Margaret Sanger pada tahun 1916 di Brownsville, New York, AS. Lembaga ini mengedepankan edukasi keluarga berencana, edukasi seksual, riset mengenai teknologi reproduksi, memberikan fasilitas-fasilitas seperti klinik, terapi, dan servis kesehatan reproduksi, dan praktik aborsi bagi masyarakat AS.

Dengan tujuan memberikan keamanan dan kesehatan reproduksi bagi masyarakat dunia terutama perempuan dan kesejahteraan anak dan masa depannya, Planned Parenthood telah memiliki 159 afiliasi medis dan non-medis yang mengoperasikan 600 klinik di AS. Mereka juga bekerja sama dengan lembaga-lembaga dari 12 negara secara global. Menurut report tahunan di tahun 2015, Planned Parenthood telah melayani lebih dari 2,5 juta pasien dengan lebih dari 4 juta clinical visits dan telah melakukan hampir 9,5 juta discreet services, termasuk 324 ribu praktik aborsi. Operasi lembaga ini berjalan dengan penuh kontroversi, protes, dan serangan brutal--namun juga mendapat banyak support dan dianggap sebagai tempat aman bagi banyak perempuan.

Pada 16 Oktober 1916, Margaret Sanger, adik dari Ethel Byrne, dan Fania Mindell mendirikan Planned Parenthood dengan membuka klinik birth control pertama di AS dengan memberikan informasi, saran dan pengobatan bagi para perempuan AS. Operasi yang dianggap ilegal ini menyebabkan ketiganya dipenjara, namun juga melahirkan rancangan hukum yang pada saat itu memperbolehkan physician-prescribed birth control untuk umum. Ketiga perempuan ini lalu kerap melanjutkan riset birth control dan supervisi lisensi dan peraturan hukum pada birth control.

Walaupun Planned Parenthood menyediakan praktik aborsi, sebenarnya Margaret Sanger mendahulukan pentingnya birth control dan edukasinya yang terbukti dapat menekan terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan dan apalagi harus sampai aborsi. Sampai sekarang, Margaret Sanger tetap diasosiasikan dengan aborsi dan mendapat banyak cercaan dari pihak anti-aborsi dan bahkan banyak senat terutama dari sisi Republican.

Dengan keadaan yang terjadi sekarang ini terutama di AS, rasanya perjuangan Sanger dan Planned Parenthood selama lebih dari 100 tahun belum menemukan titik terang. Saya sebagai pendukung keluarga berencana, pro-choice, dan seorang perempuan akan memberikan kutipan terakhir yang bisa menjadi bahan pikiran kita semua--dari cucu Sanger sendiri, Alexander Sanger yang mengatakan "You can't make abortion go away by criminalizing it. All you do is you make it unsafe. You put women at risk. Poor women, women of color, women who don't have the advantages of middle class, wealthy women to travel somewhere and get an abortion. It's discriminatory, it's unfair. It's unsafe. And to me, it's just a total outrage against it, against women." Bagaimana menurutmu?

[Gambas:Audio CXO]



(MEL/DIR)