Insight | General Knowledge

Pro dan Kontra Gaya Hidup Cashless

Senin, 13 Jun 2022 20:00 WIB
Pro dan Kontra Gaya Hidup Cashless
Jakarta -

Kemajuan teknologi memang berhasil membuat transformasi yang cukup signifikan terhadap gaya hidup masyarakat di era ini. Penerapan teknologi telah menembus ruang keseharian manusia dimana beragam jenis aktivitas telah ditopang oleh kecanggihan teknologi dalam metode yang sebelumnya sulit untuk dibayangkan. Salah satunya, bertransaksi tanpa menggunakan alat tukar fisik melalui transaksi virtual. Metode bertukar uang tidak hanya terbatas melalui transfer bank saja, namun ada juga perusahaan yang membuka platform dompet digital untuk memudahkan gaya hidup, secara bersamaan memudarkan kerumitan serta mengedepankan fleksibilitas untuk gaya hidup praktis, cepat, dan mudah.

Dengan segala kemajuan yang memudahkan masyarakat untuk membeli sesuatu melalui smartphone, dompet digital pun pada akhirnya digemari dan menjadi aplikasi esensial bagi banyak pihak terutama di kalangan anak muda. Hingga demikian, istilah cashless society maupun cashless economy mulai dikenal di telinga masyarakat guna menggambarkan peristiwa ini. Banyak orang tidak memiliki keraguan untuk keluar rumah tanpa mengantongi uang ke dalam saku ataupun dompet, karena sekarang semua bisa dilakukan hanya melalui beberapa sentuhan saja.

Meskipun fitur ini bersifat memudahkan, namun dapatkah kita benar-benar beralih menjadi cashless? Untuk memetik konklusi akhir, penjabaran mengenai kelebihan dan kekurangan penerapan gaya hidup cashless perlu dilakukan, sehingga kamu bisa terbekali gambaran gaya hidup praktis yang satu ini.

.Ilustrasi cashless/ Foto: Freepik

Tantangan menerapkan gaya hidup cashless

  • Masalah keamanan dan privasi
    Menjadi cashless berarti mengandalkan kecanggihan teknologi dalam bertransaksi. Meski bank digital mengedepankan keamanan data dan privasi para nasabahnya, tidak dapat dimungkiri bahwa mereka masih dapat terekspos dengan kejahatan siber seperti peretasan ataupun pembobolan data dan informasi, hingga pencurian identitas, dan penipuan.
  • Keperluan tak terduga
    Pengeluaran darurat yang biasanya diterima dalam bentuk uang fisik menjadi faktor kelemahan untuk menerapkan gaya hidup cashless, seperti uang parkir dan keperluan tak terduga lainnya yang dapat muncul. Misalnya, saat kamu sedang berkendara, tiba-tiba ada suatu kejadian yang mengharuskan kamu pergi ke bengkel yang hanya menerima pembayaran secara tunai.
  • Cash only
    Meskipun pembayaran virtual telah dilazimkan pada banyak tempat, namun masih banyak yang tidak menyediakan fasilitas pembayaran secara digital. Hal ini berangkat dari fakta bahwa adanya biaya admin tambahan yang akan dipotong dari transaksi kita jika gerai, toko, ataupun bisnis tertentu menerapkan fasilitas pembayaran virtual, terutama bisnis-bisnis kecil hingga berkembang karena akan mempengaruhi pendapatan mereka.
.Ilustrasi uang cash/ Foto: Freepik
  • Kontrol pengeluaran keuangan
    Dengan mudahnya transaksi yang dapat dilakukan melalui pembayaran digital, maka logis jika muncul kecenderungan untuk menjadi konsumtif dan boros, sehingga perlahan-lahan kamu kehilangan kontrol terhadap pengeluaran keuangan tanpa disadari.
  • Baterai smartphone
    Dikarenakan dompet yang sudah dapat diakses melalui smartphone, maka penting untuk memiliki daya baterai yang cukup sekala waktu kamu ingin bertransaksi. Jika daya baterai smartphone menipis atau habis, tentunya ini akan menjadi halangan yang besar bagi kamu untuk bertransaksi.
.Ilustrasi cashless/ Foto: Pixabay

Keunggulan menetapkan gaya hidup cashless

  • Kemudahan dan kenyamanan bertransaksi
    Menerapkan gaya hidup cashless mendorong aktivitas transaksi ataupun jual beli yang mudah, cepat, dan praktis. Transaksi bisa dilakukan dimanapun, kapanpun, baik itu sesama pengguna nasabah atau lintas perusahaan hanya dengan beberapa klik atau dengan memindai barcode.
  • Mengurangi risiko pencurian
    Dikarenakan tidak adanya uang tunai dalam dompet, menjadi cashless mengurangi risiko terjadinya pencopetan yang umum terjadi di tempat umum seperti di jalanan atau di tengah-tengah kerumunan orang.
.Ilustrasi cashless/ Foto: Pixabay
  • Menghemat biaya dan waktu
    Proses pencetakan uang dan koin memerlukan waktu yang tidak singkat dan biaya yang tidak sedikit. Sehingga, menjadi cashless tidak membutuhkan sumber daya yang banyak, maupun biaya dan waktu berlebih.
  • Kemudahan perjalanan internasional
    Saat bepergian ke mancanegara, umumnya kita diharuskan untuk menukar mata uang negara asal ke mata uang negara tujuan. Namun, sistem cashless memungkinkan para turis untuk melakukan transaksi melalui bank digital mereka karena transaksi akan dengan sendirinya mengikuti nilai mata uang yang diberlakukan oleh bank pilihan.

Itu dia pro dan kontra penerapan gaya hidup cashless yang wajib kamu pahami. Dengan banyaknya opsi bank digital, penting untuk memilih satu yang merangkap fitur-fitur yang disediakan oleh bank digital lain, bahkan melebihinya. Fasilitas yang disediakan Allo Bank akan membuat segala transaksimu lebih mudah karena dibantu dengan fitur bayar belakangan dengan limit Rp 100 juta, pinjaman uang dengan maksimal biaya Rp 20 juta, dan kemudahan fasilitas cash out yang tersedia melalui gerai ATM manapun. Jadi, buka akun Allo Bank sekarang dan rasakan kemudahannya bertransaksi dengan all in one bank digital!

[Gambas:Audio CXO]

(HAI/DIR)

Author

Hani Indita