Insight | General Knowledge

Satanic Panic, Kepanikan Massal yang Memakan Korban

Kamis, 09 Jun 2022 12:00 WIB
Satanic Panic, Kepanikan Massal yang Memakan Korban
Jakarta -

Apabila kalian telah menonton Stranger Things season 4, kalian pasti familiar dengan istilah satanic panic. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan adegan ketika warga Hawkins secara membabi buta memburu Hellfire Club yang dituduh sebagai dalang di balik serangkaian pembunuhan yang terjadi. Pasalnya, Hellfire Club dituduh sebagai sekte pemuja setan, padahal anggotanya adalah sekelompok remaja penyuka game Dungeons and Dragons. Namun, apa itu satanic panic?

Kasus West Memphis Three

Pada tahun 1993, tiga anak laki-laki berusia 8 tahun dilaporkan menghilang di West Memphis, Arkansas. Ketiga anak tersebut adalah Steve Branch, Michael Moore, dan Christopher Byers. Setelah melakukan pencarian, tubuh ketiga anak tersebut ditemukan di sebuah parit dalam keadaan yang mengenaskan--tangan dan kaki mereka diikat dalam keadaan telanjang dan sekujur tubuh mereka dipenuhi luka. Bahkan, Christopher Byers ditemukan dalam keadaan sudah dikebiri. Ketika itu, beredar tuduhan bahwa kejahatan tersebut dilakukan oleh sekte pemuja setan.

Satu tahun setelahnya, tiga orang remaja bernama Damien Echols, Jason Baldwin, dan Jessie Misskelley Jr.--yang kemudian dikenal sebagai West Memphis Three--ditangkap dan diadili atas pembunuhan ketiga anak laki-laki tersebut. Mereka bertiga dituduh membunuh ketiga anak laki-laki tersebut untuk melakukan ritual penyembahan setan. Meski tak ada bukti kuat yang secara konklusif membuktikan mereka sebagai pelaku, ketiganya diputus bersalah dalam sebuah persidangan yang panas dan kontroversial. Misskelley dan Baldwin divonis penjara seumur hidup, sementara Echols divonis hukuman mati.

Namun seiring waktu, banyak yang percaya bahwa ketiga remaja ini sebenarnya tidak bersalah. 18 tahun kemudian, setelah berbagai usaha untuk mengajukan banding dan meningkatnya desakan dari masyarakat sipil, pada tahun 2011 mereka bertiga akhirnya dibebaskan dari penjara. West Memphis Three merupakan salah satu kasus yang menggambarkan besarnya dampak Satanic Panic, yaitu kepanikan massal terhadap bangkitnya sekte pemuja setan di Amerika Serikat dari dekade 80an hingga 90an.

Ketakutan yang Dirawat

Awal kemunculan Satanic Panic sebenarnya bisa ditelusuri hingga ke dekade 60an. Peristiwa yang pertama kali membuat sekte pemuja setan menjadi perbincangan internasional adalah serangkaian pembunuhan yang dilakukan oleh sekte The Manson Family, termasuk pembunuhan terhadap aktris Hollywood Sharon Tate pada tahun 1969. Di tahun yang sama, Anton LaVey menerbitkan sebuah buku yang berjudul The Satanic Bible. Buku ini menjadi panduan utama bagi jemaat Gereja Setan yang didirikan oleh LaVey tahun 1966. Dua peristiwa ini menanamkan benih-benih ketakutan yang nantinya menjadi histeria di tengah masyarakat.

Tetapi, kepanikan massal baru benar-benar menguat di tahun 1980 ketika psikolog bernama Lawrence Pazder dan istrinya, Michelle Smith, menerbitkan sebuah buku berjudul Michelle Remembers. Buku yang menjadi bestseller ini berisi tentang pengalaman Smith yang mengaku menjadi korban penyiksaan dan pelecehan seksual dari sekte pemuja setan. Smith yang waktu itu masih menjadi pasien dari Pazder menjalani terapi hipnosis yang membuatnya mengingat kembali memori masa kecilnya. Meski diklaim sebagai fakta, tak ada bukti-bukti yang bisa mendukung cerita Smith. Buku ini pun terlanjur populer, dan orang-orang terlanjur mengamininya sebagai peristiwa nyata. Buku ini akhirnya menjadi pemicu terbesar dari munculnya Satanic Panic. Bahkan, Pazder menjadi konsultan untuk berbagai kasus yang melibatkan Satanic Ritual Abuse.

Satanic Panic adalah contoh bagaimana ketakutan massal bisa dengan mudah mempengaruhi masyarakat dan bahkan memenjarakan orang tak bersalah. Media massa pun turut serta menyuburkan ketakutan massal ini dengan berita-berita sensasional yang tak berbasis fakta. Pada saat itu, banyak remaja yang memiliki penampilan gothic dan menyukai musik keras akhirnya distigma sebagai anggota sekte pemuja setan. Para penegak hukum pun ikut terjebak dalam kepanikan ini dan memberi vonis kepada orang-orang tak bersalah yang pada waktu itu dituduh sebagai bagian dari sekte sesat. West Memphis Three hanyalah satu contoh kasus dari ribuan kasus lainnya selama periode tersebut.

Peristiwa ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Di Indonesia, kita bisa menemukan peristiwa serupa dalam kejadian Geger Santet yang terjadi di Banyuwangi pada tahun 1998. Dalam rentang waktu Februari hingga September 1998, ratusan orang di Banyuwangi dibantai karena dituduh sebagai dukun santet atau memiliki kemampuan supranatural. Berbagai sumber menyebutkan jumlah korban jiwa yang berbeda-beda. Tapi, temuan tim ad hoc Komnas HAM menemukan setidaknya 194 orang tewas di Banyuwangi. Hingga kini, dalang dan motif dari pembantaian ini belum terungkap.

Satanic panic adalah bukti nyata betapa berbahayanya efek dari kepanikan massal yang tak terkontrol. Kepanikan massal yang dibiarkan berlarut-larut tak hanya memperkeruh suasana, tapi juga bisa memakan korban tak bersalah.

[Gambas:Audio CXO]



(ANL/DIR)