Insight | General Knowledge

Queerbaiting di Kalangan Selebriti: Mengapa Diprotes?

Selasa, 10 May 2022 11:00 WIB
Queerbaiting di Kalangan Selebriti: Mengapa Diprotes?
Jakarta -

Memasuki era di mana pembagian gender yang kaku dan biner semakin dibahas dan dinegosiasikan, ekspresi gender pun semakin meluas. Hal ini ditandai dengan semakin banyaknya produk media yang mengangkat cerita mengenai komunitas queer atau LGBTQ, dan juga semakin banyaknya selebriti yang tidak takut untuk mengekspresikan identitas gender mereka.

.Harry Styles/ Foto: Vogue

Di Hollywood, banyak selebriti yang berani mendobrak batasan gender dalam berpakaian, salah satunya yaitu Harry Styles yang beberapa kali tampil dengan gaya busana yang genderless dan bahkan feminin. Misalnya, dalam pemotretan untuk majalah Vogue yang viral ini, Harry terlihat mengenakan sebuah gaun yang dibalut dengan jas hitam. Oleh karena gaya berpakaiannya, Harry Styles bahkan telah didapuk sebagai wajah dari gender-fluid fashion.

.Jefri Nichol in Harry Halim by Wong Sim/ Foto: Instagram @jefrinichol

Di Indonesia, representasi gender non-konformitas di media masih mendapat banyak penolakan dari masyarakat. Tapi, ini tak menghalangi aktor Jefri Nichol untuk mengikuti langkah Harry Styles dalam mengenakan pakaian gender-fluid dalam sesi pemotretan yang ia lakukan. Dalam pemotretan bersama fotografer Wong Sim, Jefri bergaya seraya dibalut gaun yang dirancang oleh Harry Halim. Banyak yang memuji Jefri karena tak takut untuk menggunakan busana yang secara normatif dianggap feminin. Terutama, karena banyak masyarakat Indonesia yang belum terbuka dengan hal itu.

Namun selain menuai pujian, para selebriti di atas juga menuai kritik terutama dari beberapa anggota komunitas queer lantaran dituduh melakukan queerbaiting. Misalnya, beberapa saat yang lalu beredar foto di media sosial di mana Jefri Nichol terlihat seakan-akan sedang mencium seorang laki-laki. Unggahan ini banyak mendapat komentar homophobic dari netizen. Laki-laki yang terlihat berciuman dengan Jefri pun memberi klarifikasi bahwa mereka tidak benar-benar berciuman.

Akibat unggahan ini, beberapa netizen mengkritik Jefri dan memintanya untuk berhenti melakukan queerbaiting. Salah satunya muncul pada cuitan dari akun @90SREMIX yang mengatakan, "then what was the reason?????? jefri nichol stop queerbaiting challenge. so sick." Cuitan ini di-retweet hingga lebih dari dua ribu kali dan mendapat 26 ribu likes. Namun sebenarnya, apa itu queerbaiting dan mengapa ia dianggap merugikan?

.@90SREMIX Tweet/ Foto: Twitter

Awal mula istilah queerbaiting sendiri muncul pada tahun 1950an di Amerika Serikat. Pada masa itu, komunitas LGBTQ masih mendapat diskriminasi dan rentan dipersekusi, terutama mereka yang bekerja di kantor pemerintahan. Sehingga, mereka pun kerap menyembunyikan identitas seksual mereka. Untuk mengidentifikasi siapa saja yang queer, banyak orang yang melakukan queerbait, yaitu berpura-pura menjadi queer dalam rangka 'memancing' mereka yang berorientasi seksual LGBTQ untuk mengungkap identitas seksual mereka. Namun setelah mereka mengungkap identitas, nama-nama mereka justru dilaporkan kepada atasan.

Namun, hari ini istilah queerbaiting mengalami sedikit pergeseran. Menurut Ricky Hill, peneliti dari Northwestern University, istilah queerbaiting digunakan untuk merujuk kepada taktik pemasaran yang lazim digunakan oleh film atau serial televisi untuk menarik audiens queer. Melalui taktik ini, media seakan-akan memberi janji bahwa mereka akan menampilkan queerness dalam kontennya, tapi pada akhirnya tidak benar-benar mewujudkannya.

.Betty & Veronica/ Foto: Netflix

Salah satu contohnya, banyak fans yang kecewa karena karakter Betty Cooper dan Veronica Lodge dalam serial Riverdale tidak menjadi pasangan kekasih. Padahal dalam salah satu episodenya, kedua karakter tersebut melakukan adegan ciuman. Dalam hal ini, fans merasa kecewa karena serial ini seperti memberikan pancingan kepada audiens queer, tapi pada akhirnya tidak benar-benar berniat merepresentasikan kelompok queer secara proper ke dalam alur cerita. Queerbaiting pun dilihat sebagai apropriasi budaya queer yang dilakukan oleh industri media demi meraup keuntungan komersial dari audiens queer yang berhasil 'terpancing' dengan kontennya.

Selain media, penggunaan istilah queerbaiting juga akhirnya meluas ke figur publik yang seakan-akan menampilkan diri mereka sebagai queer, tapi tidak pernah secara terang-terangan mengakui identitas gender mereka secara jelas. Figur publik kerap menjadi target dari tuduhan queerbaiting karena pertama, mereka dianggap sebagai perpanjangan dari industri media dan bukan sebagai individu. Oleh karenanya, banyak yang menyangsikan queerness yang mereka tunjukkan bukanlah bentuk ekspresi diri yang tulus, melainkan aksi publisitas demi mendongkrak popularitas.

Kedua, di kala figur publik seperti Harry Styles dan Jefri Nichol mendapat pujian dan sanjungan karena keberanian mereka, banyak komunitas queer justru masih belum mendapat tempat aman di masyarakat. Di Indonesia saja, masih banyak yang belum bisa secara terang-terangan mengakui identitas mereka karena takut akan distigmatisasi hingga dikriminalisasi.

Pada akhirnya, sebenarnya sah-sah saja bagi para selebriti ini untuk mengekspresikan identitas gender mereka. Sebab ekspresi gender adalah hal yang personal dan tidak seharusnya diintervensi oleh siapapun, termasuk fans. Toh dengan adanya figur publik yang berani menunjukkan perilaku gender-fluid bisa meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai isu ini, atau setidak-tidaknya membuka percakapan tentangnya. Namun, hal ini tetap harus dilakukan dengan sensitivitas dan empati kepada kelompok queer itu sendiri. Misalnya, sembari berpenampilan queer para selebriti juga bisa mengadvokasikan hak-hak komunitas LGBTQ. Sehingga, budaya queer tidak hanya menjadi 'pajangan' di media, apalagi demi meningkatkan pamor dan keuntungan komersial semata.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/MEL)