Insight | General Knowledge

Menilik Sejarah Ketupat, Sajian Khas Idul Fitri di Indonesia

Minggu, 01 May 2022 19:00 WIB
Menilik Sejarah Ketupat, Sajian Khas Idul Fitri di Indonesia
Jakarta -

Sayup wangi kuah labu siam, bercampur aroma opor ayam, rendang, dan sambal goreng kentang yang memenuhi rumah-rumah, seakan menjadi penanda tak lama lagi Idul Fitri akan tiba. Namun, kenikmatan semua makanan itu tak akan pernah lengkap tanpa potongan ketupat   yang biasanya digantung ibu saya dekat rak piring agar mudah untuk digapai. Ya, ketupat, makanan Idul Fitri khas Indonesia yang selalu menjadi sajian wajib untuk dimakan bersama keluarga di hari raya.

Selain hari raya, ketupat mungkin bisa kita temui sebagai menu sarapan sehari-hari, seperti ketupat sayur. Namun yang membuatnya berbeda, ketupat yang disajikan di hari raya, seakan wajib dipadukan dengan sayur labu siam, opor ayam atau rendang, beserta kerupuk udangnya. Ketupat sendiri merupakan makanan yang berbahan dasar nasi yang dibungkus dengan anyaman daun kelapa muda atau janur dalam bahasa Jawa. Makanan ini umumnya dimasak di dalam air mendidih setidaknya 5 jam agar matang dengan sempurna.

Sebagai bagian dari budaya kuliner Indonesia, tak lengkap rasanya bila kita tidak tahu dari mana asal usul ketupat yang menjadi pangan khas Lebaran ini. Simak penjelasannya di bawah ini.

.Ketupat/ Foto: Wikimedia Commons

Andil Sunan Kalijaga

Sebenarnya asal usul ketupat sudah ada jauh sebelum kedatangan Islam di Indonesia. Di masa lalu, masyarakat Nusantara akan menggantung ketupat di tanduk kerbau untuk menunjukkan rasa terima kasih mereka atas panen yang didapat pada saat itu. Namun, sepertinya kita harus berterima kasih kepada salah satu Wali Songo yang pernah menyebarkan Islam di Pulau Jawa, Sunan Kalijaga. Ia adalah orang yang mengubah tradisi ini secara simbolis pada abad ke-15 hingga 16.

Sunan Kalijaga mencoba mengasimilasi budaya Islam dengan budaya lokal agar ajaran Islam lebih mudah diterima di Jawa yang pada saat itu masih menganut banyak kepercayaan. Setelah ia mengadopsi ketupat sebagai simbol Idul Fitri, para masyarakat menerimanya sebagai bagian dari budaya yang tak tergerus hingga kini. Ketupat pada saat itu, sangat erat kaitannya dengan tradisi perayaan dan hari raya Idul Fitri.

Ada dua tradisi yang dijalani saat itu yakni Bakda Lebaran, yang diadakan pada hari pertama Idul Fitri dengan berdoa dan silaturahmi; dan Bakda Kupat yang dilakukan seminggu usai hari raya Idul Fitri. Selama Bakda Kupat, hampir setiap rumah terlihat ramai dan orang-orang membentuk daun kelapa menjadi ketupat. Setelah ketupat dimasak dan dikeringkan, ketupat-ketupat tersebut diberikan kepada tetangga, keluarga, maupun kerabat sebagai simbol kebersamaan. Uniknya, ketupat kini tak hanya ditemukan di Indonesia saja, namun telah menyebar ke negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Brunei.

.Ilustrasi ketupat/ Foto: Wikimedia Commons

Memahami Filosofi Ketupat

Makanan yang berbentuk wajik dan terbuat dari anyaman dua lembar daun kelapa muda ini memiliki filosofi yang mesti kita pahami. Bahan utama ketupat, beras dan daun kelapa muda ternyata memiliki arti khusus. Beras dianggap menjadi lambang nafsu, sedangkan daun kelapa yang merupakan singkatan Jatining Nur   cahaya sejati dalam bahasa Jawa mempunyai arti hati nurani. Jadi ketupat mempunyai arti menahan nafsu dunia dengan hati nuraninya.

Sementara dalam bahasa Sunda, ketupat disebut juga 'kupat', yang artinya manusia tidak boleh 'Ngupat', membicarakan hal-hal yang buruk pada orang lain. Ketupat pun bisa berarti 'jarwa dhosok' yang berarti 'ngaku lepat' atau mengaku salah. Dalam hal ini mengandung pesan bahwa seorang harus meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Perilaku ini sudah menjadi kebiasaan atau tradisi pada awal Syawal atau Idul Fitri, sebab puasa yang diakhiri dengan makan ketupat merupakan simbol pengakuan kepada Tuhan dan Manusia.

Tak hanya itu, setiap sisi ketupat juga memiliki nama dan maknanya masing-masing. Salah satu sisi ketupat yang diberi nama Lebaran itu artinya dibukakan pintu ampunan bagi orang lain. Sisi kedua yakni Luberan, berarti kelimpahan dan memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan. Sisi ketiga, Leburan, berarti menghapus dosa-dosa yang telah dilakukan dalam setahun. Dan sisi keempat, Laburan, memiliki arti mensucikan diri atau kembali suci seperti bayi yang baru lahir.

Itulah paparan singkat sejarah dan bagaimana ketupat memiliki filosofi yang mendalam berhubungan dengan makna Idul Fitri yang kita yakini. Terlepas dari rasanya yang enak bila dicampur dengan berbagai macam sajian khas Lebaran lainnya, ketupat secara tidak langsung menjadi simbol dan ekspresi budaya Indonesia yang harus kita jaga sampai kapan pun agar anak cucu kita kelak masih bisa merasakan tradisi ini.

[Gambas:Audio CXO]

(DIR/HAL)