Insight | General Knowledge

Apa Serunya Puasa Tanpa Godaan?

Minggu, 03 Apr 2022 10:00 WIB
Apa Serunya Puasa Tanpa Godaan?
Jakarta -

Ramadan segera tiba. Semaraknya jelas bisa kita rasakan bersama, terhitung dari banyaknya iklan khas Ramadan yang mulai beredar; maraknya promo belanja Ramadan di pusat perbelanjaan; hingga kabar penutupan warung makan oleh institusi keagamaan. Pola seperti ini, terus berulang. Setiap Ramadan, setiap tahun.

Entah apa alasan pastinya, warung yang mendulang penghasilan dari berjualan makanan justru dipaksa tutup selama siang hari di bulan Ramadan. Konon kabarnya, isu toleransi beragama, yakni menghormati orang yang berpuasa adalah penyebab utamanya. Belum lama ini, Ketua MUI Indonesia, Cholil Nafis bahkan sampai repot-repot menjelaskan mengenai aturan warung makan selama bulan Ramadan. Menurutnya, warung makan tidak perlu menutup usahanya, hanya saja, jangan memamerkan makanan kepada orang yang berpuasa.

Selain itu, masyarakat yang berpuasa juga dianjurkan untuk tidak menutup hajat orang lain, sementara masyarakat lainnya, diharap tidak menodai bulan yang suci ini. Terakhir, Cholil Nafis juga menyerukan, untuk saling tenggang rasa dan saling menghormati di Bulan Ramadan.

Narasi seperti di atas, terus terdengar setiap Ramadan bergulir dan menjadi polemik yang tak berkesudahan. Sejujurnya, saya cukup merasa bosan dengan pengulangan pembahasan. Maksud saya, apakah kita, sebagai pemeluk agama Islam, tidak kunjung rampung mencerna makna Ramadan   termasuk pembicaraan soal saling menghormati orang berpuasa?

Saking seringnya perdebatan soal saling hormat sebelum memasuki Ramadan, khususnya anjuran menutup warung makan atau mewajibkan mereka menyibak tirai-tirai agar dagangannya tidak terlihat dan menggoda orang berpuasa, saya justru semakin takut, bahwa kesucian dari kewajiban puasa itu terkikis oleh kerentanan iman yang bisa tergoda perihal makanan dibalik etalase warung makan.

Bukankah puasa adalah kewajiban muslim? Di mana, keikhlasan dan kepatuhan terhadap perintah Tuhan menjadi landasan kuatnya? Kalau memang seperti itu, bukankah seharusnya, orang yang mengaku beriman dan berkewajiban puasa, tidak tergoda sekalipun ada orang yang makan dan minum di depan pelupuk matanya?

Lagipula, inti dari puasa kan bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Lebih jauh lagi, puasa lebih melatih manusia menahan hawa nafsu dengan mempergunakan akal sehat serta keimanannya. Jika demikian, lantas mengapa kita menganggap warung makan dan orang yang tidak berpuasa sebagai godaan dan memaksa mereka menghormati kewajiban yang kita laksanakan?

Ada baiknya, kita berlaku seperti seorang pelajar yang tidak tergoda pergi liburan bersama orang tua ke Eropa, karena tahu sadar kewajibannya, yaitu belajar di sekolah. Sama halnya dengan belajar, puasa adalah kewajiban yang berada pada wilayah kesadaran sang pelaku.

Sampai di sini, jika memang masyarakat yang berpuasa hendak ibadahnya semakin diterima Tuhan, sepertinya, merekalah yang seharusnya menghormati orang yang tidak berpuasa. Karena di Indonesia, walaupun mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam, masih ada juga masyarakat yang tidak diwajibkan berpuasa, terutama yang memeluk agama lainnya.

Mungkin, kutipan dari Bapak Toleransi Indonesia, Gus Dur, bisa sedikit menjernihkan kebingungan yang ada   termasuk yang terus berputar-putar di kepala saya perihal wacana setiap bulan puasa. "Jika kita muslim yang terhormat, maka kita akan berpuasa dengan menghormati yang tidak berpuasa," begitu ucap Beliau.

Sejauh ini   setidaknya bagi saya sendiri   inti dari puasa adalah menahan segala nafsu dalam diri. Mulai dari nafsu akan lapar dan dahaga; syahwat; bahkan nafsu dalam beribadah. Oleh karena itu, menghilangkan godaan yang menjadi lawan berat saat puasa dan membuat ibadah kita lebih menantang, tidak sepatutnya dihindarkan. Karena pada akhirnya, kekhusyukan kita saat menghadapi tantangan berpuasa, malah akan mengarahkan kita pada kemenangan besar di akhir Ramadan atau momen Lebaran.

Apabila kita selama ini masih bersikap layaknya pengecut pada godaan saat berpuasa, rasanya sama saja dengan menghindari potensi keimanan terbaik dalam diri yang dapat ditempa melalui setiap godaan yang menghampiri. Padahal secara gamblang, Allah SWT telah menjanjikan ganjaran yang luar biasa, ketika kita sanggup menjalani puasa dengan teguh keimanan.

Senada dengan Gus Dur, rekan sejawat Beliau, Emha Ainun Najib atau Cak Nun, turut menyampaikan sindiran mengenai fenomena setiap memasuki bulan puasa   yang lagi-lagi kita hadapi bersama. Pada suatu kesempatan, Cak Nun pernah mengucapkan, "Bulan puasa kok, hormatilah orang yang berpuasa, gunanya orang yang berpuasa itu agar kamu bisa menghormati orang lain, tidak meminta penghormatan orang. Hanya orang yang tidak terhormat yang meminta penghormatan orang lain," tegas Cak Nun.

Jadi, mengapa kita harus memaksa godaan menjadi minimal ketika kita diwajibkan menahannya sebagai rangkaian ketaatan kepada-Nya? Toh, salah satu inti dari berpuasa, ya menahan godaan. Malah seharusnya, kita bangga menghadapinya dengan penuh kesadaran. Karena, adanya godaan itu sendiri akan berbuah ganjaran berkah yang berlipat ganda dari Tuhan. Terakhir, menurut pendek pemikiran saya, sepertinya kita harus mulai bersungguh-sungguh belajar puasa secara substansial, sehingga menghindari godaan kecil semacam gorengan di etalase warung makan tidak lagi menjadi persoalan.

Marhaban yaa Ramadan!

[Gambas:Audio CXO]



(RIA/DIR)