Insight | General Knowledge

Aku Membaca, Maka Aku Apa?

Selasa, 01 Mar 2022 11:00 WIB
Aku Membaca, Maka Aku Apa?
Ilustrasi membaca Foto: Kausal Moradiya/Pexels
Jakarta -

Konon, Indonesia didirikan oleh mereka yang gila membaca buku. Soekarno, Sang Proklamator Kemerdekaan, pada tahun 1916 lalu pernah menulis, "Buku mengenalkanku pada dunia dengan pikiran-pikiran terhebat dan aku ingin dunia tahu, aku dan bangsaku juga besar." Sementara pasangan emasnya, Bung Hatta, sewaktu tertahan di sebuah penjara pernah menuturkan, "Aku bisa hidup di manapun, asal dengan buku."

Bangsa ini memang lekat dengan para tokoh yang gemar membaca. Atau setidaknya menurut sejarah, para tokoh besar Indonesia memiliki kesadaran literasi yang cukup tinggi. Kartini sebagai pelopor emansipasi wanita di Indonesia bahkan dikenal dunia lewat surat-suratnya yang terangkum pada buku berjudul Habis Gelap, Terbitlah Terang. "Aku benamkan diriku dalam membaca dan membaca," begitu ucap Kartini.

.Ir. Soekarno/ Foto: UGM

Dari tiga tokoh barusan saja, membaca merupakan kegiatan yang terus dilakukan oleh para pemupuk Bangsa Indonesia di masa lalu. Hal ini menjadi berbanding terbalik, jika dibandingkan dengan tingkat kebiasaan membaca yang dimiliki masyarakat Indonesia pada saat ini. Menurut survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD), Indonesia hanya berada di peringkat ke-62 dari 70 negara, perihal pemahaman dan keaktifan literasi. Hal ini adalah ironi yang tidak bisa dihindarkan, terlebih jika berpatok pada kebiasaan para pembentuk Bangsa yang gemar membaca.

Selanjutnya, kebiasaan membaca yang mulai ditinggalkan masyarakat Indonesia, malah berganti dengan kebiasaan aktif di dunia internet atau media sosial. Menurut survei Hootsuite, saat ini, sekitar 73,7 persen penduduk Indonesia sangat aktif menggunakan internet, dengan rata-rata waktu sekitar 8 jam 52 menit setiap harinya. Sementara perihal keaktifan di media sosial, 61,8 persen populasi Indonesia sanggup menghabiskan waktu selama 3 jam 41 menit setiap harinya. Aktif di internet atau media sosial memang tidak selalu buruk, tetapi meninggalkan kebiasaan membaca, rasanya menjadi hal yang cukup mengkhawatirkan.

Layaknya langit dan bumi, berselancar di internet atau media sosial menjadi hal yang sangat intens dilakukan pada saat ini sementara kebiasaan membaca semakin ditinggalkan. Padahal menurut penelitian Open Education Database (OEDB), membaca justru dapat membawa efek-efek positif bagi kehidupan manusia. Sementara di sisi lain, terlampau aktif di internet/media sosial dapat mengakibatkan penggunanya terserang perilaku fear of missing out (FOMO).

.Ilustrasi malas membaca/ Foto: Cottonbro/Pexels

Dengan membaca buku, seorang manusia dapat berpikir secara unik dan berbeda-dalam arti baik-dari orang lain. Contohnya adalah menumbuhkan daya cipta atau imajinasi yang kuat; menyehatkan kualitas saraf-saraf otak; hingga meningkatkan rasa empati kepada sesama. Selain itu, dengan banyak membaca, efektivitas komunikasi manusia juga akan meningkat, hal ini sebabkan oleh banyaknya perbendaharaan kata yang dimiliki para pembaca.

Para pembaca buku juga disebut memiliki daya konsentrasi yang lebih baik, dan cenderung bijak karena terbiasa melihat sesuatu secara lebih menyeluruh dan terstruktur. Mereka yang gemar membaca juga kaya akan perspektif, hal ini distimulasi oleh pengalaman atau sudut pandang berbeda, yang biasa mereka konsumsi lewat karya-karya tulis para pemikir hebat. Sedangkan di lain sisi, tidak memiliki kebiasaan membaca malah mengakibatkan hal-hal yang kurang menyenangkan.

Pada buku berjudul Generasi Emas misalnya, Ahmad Rifa'i sebagai penulis menyebut bahwa tidak membaca dapat mengakibatkan beberapa hal negatif kepada generasi muda seperti: cenderung bersikap malas; kekurangan ilmu pengetahuan sehingga sulit bersaing dengan SDM yang lebih berkualitas; sehingga cenderung sulit mendapat pekerjaan. Orang yang jarang membaca juga disebut sulit memaksimalkan potensinya akibat keterbatasan pengetahuan. Bahkan lebih parahnya, orang yang lebih memilih bermain gawai secara terus-menerus dan tidak pernah membaca, memiliki tingkat kepekaan sosial yang sangat rendah.

.Ilustrasi kecanduan gadget dan malas membaca/ Foto: Eren Li/Pexels

Meski demikian, terlepas dari segala manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan membaca, memaksakan seseorang untuk turut gemar membaca adalah hal yang kurang baik untuk dilakukan. Ya, di era demokrasi ini, setiap orang memang berhak memilih kegiatan apa yang mereka kehendaki bahkan diberi perlindungan untuk melakukannya. Hanya saja, rasanya sayang jika manusia di zaman ini-termasuk saya, malah meninggalkan kebiasaan yang jelas-jelas membawa pengaruh baik bagi kehidupan, yaitu membaca.

Oleh karena itu, sebelum kita mencoba menganut paham keberadaan atau eksistensialisme ala Descartes, "Cogito, ergo sum," yang berarti aku berpikir, maka aku ada, di status atau bio singkat media sosial, rasanya akan lebih bijak bagi kita untuk terlebih dahulu memulai membaca. Sebab begini, jika rajin membaca pun kita belum pernah, bagaimana kita bisa berpikir, dan menjadi ada?

Tidakkah pernyataan "Aku berpikir maka aku ada" lebih tepat untuk kita diganti dengan pernyataan "Aku membaca, maka aku apa?" Alasannya, ya, karena kita memang belum pernah benar-benar membaca. Kalau membaca pun belum, bagaimana kita akan berpikir? Jadi, untuk yang terakhir, pertanyaannya adalah, jika "Aku membaca, maka aku apa?"

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/DIR)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS