Interest | Fashion

Thrifting Kok Mahal?

Rabu, 27 Apr 2022 16:00 WIB
Thrifting Kok Mahal?
Foto: PEXELS COTTONBRO
Jakarta -

Menjelang Lebaran, gairah berbelanja masyarakat Indonesia mendadak meningkat. Bagi yang berkecukupan, kegiatan konsumtif tahunan ini dilakoni dengan shopping di pusat-pusat perbelanjaan. Sementara bagi yang berdana pas-pasan, berburu pakaian bekas berkualitas atau thrifting, akan lebih masuk akal untuk dilakukan.

Selain harganya miring, thrifting juga menjanjikan penggemarnya untuk mendapat pakaian gaul yang tidak pasaran namun tetap kekinian. Tetapi, kegiatan yang sedang trend di masyarakat belakangan ini justru memunculkan permasalahan baru. Yaitu melonjaknya harga-harga yang ditawarkan. Banyak orang bilang, ongkos thrifting pada masa ini terlalu mahal dan tidak lagi merakyat.

Jauh sebelum menjadi trend yang high end, thrifting dikenal dengan istilah berburu pakaian loak di inang-inang atau awul-awul. Tempat jual-belinya pun berlokasi di pasar-pasar rakyat yang harus bubar ketika gerimis datang. Misalnya kawasan Pasar Poncol (Kawasan Senen), Metro Pasar Baru Jakarta; hingga Pasar Gedebage di Bandung. Oleh karena itu, stigma jual-beli barang bekas yang cenderung murah kian sulit diabaikan. Sementara pada sisi lainnya, kenaikan harga barang second atau preloved di thrift shop zaman sekarang sebenarnya hadir bukan tanpa alasan.

Thrifting di zaman sekarang
Berkembangnya thrifting masa kini dilatarbelakangi oleh improvisasi gaya berdagang para penjual dan meningkatnya permintaan barang thrift. Pedagangnya tidak lagi berdiam di pasar-pasar loak yang tumpah ruah, melainkan hadir lebih dekat lewat berbagai media sosial dan bazar-bazar di mall mewah. Sementara siklus fesyen masyarakat yang kembali berputar ke gaya yang lebih lawas, membuat calon konsumen-dari kalangan muda menengah atas-berani menebus busana istimewa di thrift shop dengan harga di atas pasaran.

Secara industri, thrifting masa kini jauh berkembang pesat. Mungkin faktor turun gunungnya para millenial-yang penuh inovasi serta aware tren fesyen sebagai pegiat bisnis thrift-menjadi alasan utamanya. Thrifting di masa ini pun terasa lebih mudah dijangkau dan digemari banyak orang. Karena pada praktiknya, para calon pembeli tidak lagi perlu repot 'mengaduk-aduk' tumpukan di lapak yang berantakan sambil berdesakan dan panas-panasan. Cukup dengan "scrall-scroll" timeline, hidden gem berkualitas siap diboyong ke rumah.

Lebih jauh lagi, dari segi barang yang dijajakan, terdapat beberapa alasan mengapa thrift shop hari ini memasang harga tinggi. Pertama, banyak pakaian bermerek dan bergengsi yang ditawarkan. Kedua, sifat langka dari barang-barang bekas membuatnya semakin terpandang istimewa. Dan, yang paling utama, terdapat kurasi kualitas yang ketat dari para pedagang, di mana para calon pembeli bisa memborong hidden gem tanpa perlu menguras tenaga ekstra. Di samping itu, barang thrift yang dijual juga telah siap pakai, sebab para penjual sudah mengurus perkara higienitas dagangan mereka.

Menanjaknya harga barang-barang thrift lebih didasari oleh kepintasan jalan yang ditawarkan para penjual, dan bukan semata-mata langkah oportunis dalam mengakali permintaan yang merajalela. Kemudian, terdapat kenaikan signifikan pada kualitas barang di bursa thrifting sekarang. Lantas, jika memang demikian, apa yang membuat banyak orang protes mengenai harga barang thrift yang mahal?

Gaya belanja di arus berbeda
Selama ini, anggapan thrifting sebagai kegiatan belanja ramah saku belakang memang terlanjur melekat. Apalagi banyak testimoni dari generasi terdahulu   yang dengan bangga memamerkan   tentang murahnya barang berkualitas yang berhasil mereka amankan. Alhasil, ketika harga barang-barang thrift mengalami kenaikan seperti sekarang, banyak penggemarnya yang mulai berpikir ulang karena sulit melepaskan stereotype mendapat barang bagus dengan harga sangat murah saat thrifting.

Pada gelombang awal kemunculannya, demografi thrifting memang lebih tertuju pada kalangan menengah bawah yang harus menghemat biaya berbelanja busana. Oleh karena itu, ekspektasi harga rendah terus menjadi faktor utama saat thrifting. Kemudian, alasan mengapa para pedagang thrift dahulu terus memasang harga rendah, lebih diakibatkan oleh minimnya wawasan mengenai barang yang mereka jual. Sehingga harga jual tidak dipertimbangkan dari faktor merek, gengsi, kelangkaan, dan lain sebagainya seperti sekarang. Namun kabar baiknya, harga dagangan yang murah membuat dagangan mereka tidak pernah sepi peminat.

Di lain sisi, ternyata thrifting merupakan salah satu langkah utama dalam menyelamatkan bumi. Bagaimana tidak? Sifat penggunaan ulang baju-baju bekas/sisa, nyatanya memang bermanfaat mengurangi produksi busana berlebih yang mencemari lingkungan. Jadi, secara tidak langsung, dengan thrifting kita berarti melawan industri fast fashion yang problematis.

Jadi bijaknya, thrifting itu harus mahal atau murah?
Jika memang thrifting menjadi solusi bagi masalah clothes wasting, seharusnya harga yang ditawarkan tidaklah mahal. Sebab, jika ingin semua orang berkontribusi, maka harga barang harusnya lebih terjangkau, agar tujuan mulia dari campaign ini benar-benar tercapai. Lebih jauh lagi, jika melihat dari sejarah atau tradisi, maka thrifting wajib berharga murah.

Tetapi jika melihat dari sisi pedagang, menjual thrift stuff berkualitas dengan harga murah tidak sepenuhnya fair. Karena, dengan segala effort yang mereka upayakan terhadap suatu barang, rasanya sangat tidak etis menjualnya dengan harga cuma-cuma, apalagi jika hanya untuk menuruti sejarah atau permintaan kalangan menengah bawah, yang saat ini bukanlah satu-satunya kalangan yang menaruh minat pada bursa thrifting.

Sebenarnya, mahal atau murahnya suatu barang thrift terbilang cukup relatif. Karena banyak faktor yang bisa mempengaruhi besaran harga. Selain itu, dari sisi para konsumen, sepertinya prinsip "bergaya sesuai isi dompet" juga sudah patut diterapkan ketika thrifting. Sebab memang, tidak semua barang thrift itu mahal dan tidak terjangkau. Masih ada pula barang yang sangat terjangkau, meskipun kualitasnya tidak berada di kasta utama.

Jadi sampai di sini, harga barang-barang thrift yang melonjak cukup tinggi tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Pun begitu dengan hasrat menebus barang dengan harga murah yang sudah membudaya. Untuk itu, kembali lagi, mahal dan murah adalah hal yang relatif. Jadi sepertinya, sikap bijak dari pembeli atau penjual sangatlah diperlukan bagi industri yang saat ini sedang sangat berkembang. Di mana penjual tidak boleh begitu saja menjual barang dengan harga tak masuk akal, dan pembeli tidak diperkenankan merendahkan harga barang seenak jidatnya saja.

Pada akhirnya, semua akan senang ketika semuanya lebih masuk akal dan bisa diterima. Pedagang senang, pembeli pun senang. Oleh karena itu, kedepannya, banyak orang berharap akan tercipta iklim thrifting Pancasilais, yang tentunya tidak melanggar kaidah ketuhanan, lebih beradab, menyatukan segala kalangan, serta adil bagi seluruh rakyat Indonesia.

(RIA/MEL)