Insight | Business & Career

Menilik Alasan Generasi Muda yang Ogah Lirik Profesi Guru

Kamis, 18 Dec 2025 15:23 WIB
Menilik Alasan Generasi Muda yang Ogah Lirik Profesi Guru
Ilustrasi profesi guru di Indonesia. Foto: iStock
Jakarta -

Setiap 25 November yang diperingati sebagai Hari Guru Nasional, ada banyak harapan yang tercurahkan untuk masa depan guru, terutama yang kenaikan upah yang sesuai dengan pengabdian mereka selama ini. Tak kunjung terpenuhinya hak mereka, banyak guru mengerjakan pekerjaan sampingan di luar dari pekerjaan utamanya.

Salah satunya menjadi content creator di media sosial. Awalnya cuma konten bareng murid, lama-lama karena banyak yang nonton dan menghasilkan endorse, jadi pekerjaan tambahan yang menjanjikan. Contohnya content creator Pak Ribut yang kesehariannya mengajar dia ceritakan di media sosial. Hingga ia dan salah satu muridnya diundang ke televisi.

Ada juga yang menjadi pemulung setelah mengajar. Seperti yang terjadi pada salah satu guru di Sukabumi bernama Alvi Noviardi. Dikutip dari tempo.co Alvi sudah 36 tahun menjadi guru honorer ini tidak cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari. Maka dari itu ia bekerja sampingan menjadi pemulung.

Masih banyak guru yang memilih untuk melakukan pekerjaan sampingan ketimbang pekerjaan utamanya sebagai seorang pengajar. Bukan tak berdedikasi, tapi ada 'dapur' yang harus selalu ngebul setiap hari.

Alasan Guru Tak Lagi Jadi Pekerjaan Bergengsi

Data dari Institute for Demographic and Poverty Studies (IDEAS) dan Dompet Dhuafa di tahun 2024 mengatakan dari 403 responden guru yang ikut survei, 55,8% di antaranya memiliki kerja sampingan. Mayoritas mencari tambahan membuka les privat atau bimbel. Sisanya memilih menjadi pedagang, petani, buruh, sopir ojek daring (ojol) bahkan content creator.

Hal ini juga penyebab dari menurunnya minat generasi muda menjadi guru. Data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Indonesia akan mengalami krisis guru sebanyak 1,3 juta pada 2024 akibat banyak guru yang pensiun. Ditambah dengan data dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemendikbud melakukan survei minat menjadi guru kepada siswa SMA yang sedang menghadapi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2019.

Hasilnya, dari 512.500 responden hanya 11% yang tertarik menjadi guru. Alasannya adalah gaji guru honorer yang begitu sedikit, status profesi, ditambah jika ingin menjadi guru harus memiliki sertifikasi diklat selama satu tahun. Sertifikasi ini tidak sebanding dengan prospek gaji dan kerja di masa depan.

Hal ini juga yang menyebabkan profesi guru tidak diminati oleh lulusan sarjana pendidikan. Berikut alasan lainnya mengapa guru bukan pekerjaan yang menjanjikan masa depan di Indonesia.

  1. Gaji dan kesejahteraan yang Kecil
    Gaji guru di Indonesia rata-rata di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Hal ini sangat tidak layak karena dengan gaji kecil tidak sebanding dengan kehidupan yang layak. Selain itu proses perekrutan Aparatur Sipil Negara (ASN) terbilang cukup alot bagi profesi guru. Terutama untuk guru honorer. Ada yang sampai berpuluh-puluh tahun belum diangkat sebagai ASN.

  2. Beban Administratif yang Tinggi
    Guru banyak menghabiskan waktu untuk mengikuti sertifikasi dan kompetensi guna mencapai kemampuan yang lebih kompeten lagi. Salah satunya sebagai syarat mendaftar menjadi ASN. Jika tidak ada kedua itu akan sulit kariernya untuk menjadi guru. Hal ini yang membuat profesi guru terbilang cukup rumit untuk karir ke depannya.

  3. Status Sosial yang Dianggap Kurang "Bergengsi"
    Profesi guru masih dilihat kurang menarik bagi anak muda. Hal ini diperkuat dengan data dari survei Youth Career Perception 2024, hanya 21% responden Gen Z yang menganggap guru sebagai profesi "bergengsi". Hal ini juga disebabkan karena upah yang minim dan kesejahteraan yang kurang.

  4. Cepat Mengalami Kelelahan Mental
    Tugas guru tidak selesai dengan mengajar di kelas, tapi juga ada tuntutan yang harus ia kerjakan di luar itu. Seperti menyiapkan materi pembelajaran dan kurikulum yang ke murid, membuat laporan ke sekolah dan memberikan hasil pembelajaran murid ke wali murid.

    Tekanan datang saat kurikulum yang diajarkan tidak sesuai dengan pemahaman murid. Walhasil, akan ada komplain dari wali murid yang anaknya tidak mampu menangkap pelajarannya. Selain itu, dari pihak sekolah juga menuntut guru harus bisa berhasil menghasilkan nilai tinggi yang padahal keberhasilan guru tidak hanya sekedar nilai tinggi saja.

Profesi guru di Indonesia tidak seseksi negara lain yang mengutamakan kesejahteraan guru. Seharusnya peran pemerintah hadir dalam permasalahan kurangnya minat guru bagi anak muda. Guru harus dikasih hak dan kewajiban yang layak serta didukung secara nyata.

Guru bukan sekedar dihormati melalui lagu hymne guru dan hari guru saja, ia juga berjasa bagi semua profesi dan masa depan anak didik Indonesia. Bait "Tanpa Tanda Jasa" dalam lagu hymne guru mungkin adalah ironi pendidikan Indonesia yang tidak pernah tuntas masalahnya.


Penulis: Monika Wibisono Putri
Editor: Dian Rosalina

*Segala pandangan dan opini yang disampaikan dalam tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan pandangan resmi institusi atau pihak media online.*

(ktr/DIR)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS