Insight | Business & Career

Apakah Sistem Kerja 4 Hari dalam Seminggu Patut Dicoba?

Jumat, 09 Sep 2022 18:30 WIB
Apakah Sistem Kerja 4 Hari dalam Seminggu Patut Dicoba?
Foto: CXO Media
Jakarta -

Bekerja seringkali membuat kita merasa lelah, stres, dan kewalahan. Meski sudah diberi libur pada akhir pekan, tapi tetap saja rasanya 2 hari tidak cukup untuk menghilangkan stres akibat pekerjaan. Namun, pernahkah kamu membayangkan bekerja hanya 4 hari dalam seminggu? Adanya skenario di mana kamu bisa beristirahat selama 3 hari pasti terdengar sangat menggiurkan. Menariknya, beberapa perusahaan sudah mempraktikkan hal ini!

Wacana bekerja 4 hari dimulai dari sebuah eksperimen yang dilakukan perusahaan New Zealand, Perpetual Guardian. Pada tahun 2018, mereka berkolaborasi dengan University of Auckland dan Auckland University of Technology untuk mencoba sistem kerja 4 hari kepada 240 karyawan selama 8 minggu. Dalam eksperimen ini, para pekerja menerima 1 hari libur tambahan, sehingga mereka hanya bekerja sebanyak 30 jam seminggu. Tetapi, upah dan benefit tetap sama seperti semula. Meski demikian, para pekerja diminta untuk memberikan jumlah output yang sama seperti biasanya sehingga tidak ada pengurangan beban kerja.

Eksperimen ini terbukti memberikan dampak yang baik bagi pekerja; komitmen bekerja naik sebesar 20 persen, work-life balance meningkat sebesar 24 persen, dan tingkat stres berkurang sebanyak 7 persen. Jarrod Haar, salah satu peneliti yang terlibat, mengatakan bahwa para karyawan menjadi lebih kreatif, kehadiran mereka di kantor meningkat, mereka selalu tepat waktu, dan tidak pulang lebih cepat atau beristirahat lebih lama di tengah-tengah jam kerja.

Selain itu, dengan adanya hari libur tambahan para pekerja juga menjadi lebih termotivasi untuk memikirkan kegiatan yang bisa mereka lakukan di akhir pekan. Mereka jadi sempat untuk melakukan hobinya, meluangkan waktu untuk me-time, dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Eksperimen yang dilakukan Perpetual Guardian menginspirasi perusahaan-perusahaan lain untuk menerapkan hal yang sama, salah satunya perusahaan Microsoft di Jepang. Sebanyak 2300 pekerjanya diliburkan pada hari Jumat selama 5 minggu berturut-turut, tanpa adanya pengurangan upah. Hasilnya, para karyawan menjadi lebih bahagia dan lebih produktif. Semua rapat dijalankan secara lebih efisien, bahkan pemakaian listrik perusahaan berkurang 23 persen. Secara keseluruhan, produktivitas meningkat sebesar 40 persen dan 92 persen karyawan mengaku lebih senang dengan sistem kerja ini.

.Ilustrasi jadwal bekerja 4 hari/ Foto: Pexels

Yang Harus Dipikirkan Sebelum Menerapkan 4 Hari Kerja

Kunci dari keberhasilan program 4 hari kerja adalah bagaimana caranya agar semua pekerjaan bisa terselesaikan dengan waktu yang lebih singkat. Sebab mau tidak mau, para pekerja dan manajer harus mencari cara agar semua pekerjaan bisa diselesaikan dalam waktu 4 hari. Meski percobaan kerja 4 hari seminggu menunjukkan dampak yang positif bagi peningkatan produktivitas, tetapi tetap saja ada tantangan dan efek samping yang muncul dari sistem kerja baru ini.

Ketika karyawan diharuskan untuk menyelesaikan pekerjaan dalam kurun waktu yang lebih singkat, pastinya mereka akan memiliki lebih sedikit waktu untuk beristirahat di sela-sela pekerjaan. Bagi pegawai kantoran, mengambil jeda di sela-sela bekerja adalah strategi untuk me-recharge energi dan menyegarkan pikiran ketika suasana di kantor sudah menjenuhkan. Hal-hal sepele seperti menonton video YouTube, bergosip dengan kolega, hingga scrolling Instagram, sebenarnya bisa berpengaruh terhadap kondisi dan performa karyawan. Dalam skema 4 hari kerja, hal-hal kecil ini mungkin tak bisa dilakukan lagi.

Selain itu, peningkatan produktivitas belum tentu secara otomatis membuat karyawan lebih bahagia. Kunci dari keberhasilan skema ini sebenarnya ada pada detail-detail pelaksanaannya. Misalnya, dengan mempersingkat waktu rapat atau mengubah alur kerja agar sistemnya lebih efisien. Apabila waktu kerjanya dipersingkat tanpa ada strategi manajerial untuk mencapai efisiensi, para karyawan justru akan semakin sengsara.

.Ilustrasi kerja produktif/ Foto: Pexels

Melansir Harvard Business Review, ada dua hal yang harus dipikirkan sebelum mempraktikkan 4 hari kerja. Pertama, pengurangan jam kerja seharusnya dibarengi dengan pengurangan beban kerja. Skenario bekerja tanpa ada banyak waktu istirahat belum tentu bisa dijalani oleh semua karyawan. Bisa jadi, suasana kerja justru menjadi semakin jenuh. Kedua, peningkatan produktivitas berpotensi meningkatkan intensitas kerja. Dengan pekerjaan yang semakin intens, tingkat stres di kalangan karyawan juga bisa meningkat.

Pada akhirnya, sistem 4 hari kerja dalam seminggu sangat patut untuk dicoba. Akan tetapi, sebelum perusahaan mempraktikkan sistem 4 hari kerja, harus ada kesepakatan bersama bahwa tujuan yang ingin diraih adalah meningkatkan well-being pekerja. Ketika perusahaan hanya mementingkan produktivitas tapi tidak memikirkan faktor well-being karyawannya, maka sistem 4 hari kerja justru berpotensi membuat karyawan semakin menderita.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)