Insight | Business & Career

Menguliti Lingkungan Kerja yang Ideal bagi Generasi Z

Kamis, 28 Jul 2022 20:00 WIB
Menguliti Lingkungan Kerja yang Ideal bagi Generasi Z
Foto: Priscilla du Preez/Unsplash
Jakarta -

Tumbuh di era internet membuat Generasi Z memiliki kesadaran terhadap berbagai isu, sampai-sampai mereka mendapatkan predikat sebagai 'woke generation'. Karenanya, mereka juga tidak malu-malu dalam menyuarakan keresahan dan menuntut adanya perubahan-termasuk dalam dunia kerja. Maka jangan kaget apabila kamu menemukan banyak anak muda hari ini bisa berbicara fasih mengenai kesejahteraan buruh, burnout, atau bahkan lingkungan kerja toxic.

Sebagai angkatan kerja paling muda, pengalaman Gen Z memang masih minim dibandingkan dengan generasi pendahulu mereka yang sudah bekerja lebih dari lima tahun atau bahkan belasan tahun. Dalam kondisi tersebut, keinginan-keinginan Gen Z untuk bekerja di tempat yang sehat atau layak pun bisa disalahartikan sebagai rasa entitlement. Artinya, mereka dianggap belum cukup berpengalaman tapi sudah memiliki banyak tuntutan.

Sudah bukan rahasia lagi kalau ada asumsi-asumsi negatif terhadap pekerja Gen Z. Mereka kerap dicap sebagai pekerja yang manja, lembek, malas, dan tak memiliki resiliensi untuk bertahan di lingkungan kerja yang menantang. Selain itu, Gen Z juga dijuluki sebagaiĀ job-hopping generation alias 'kutu loncat' yang tak bisa bertahan lama di perusahaan.

Lalu, apa yang sebenarnya dicari oleh Gen Z dari tempat kerja mereka? CXO Media lantas berbincang-bincang dengan beberapa pekerja muda untuk mengetahui definisi lingkungan kerja yang ideal bagi mereka.

Kerja yang Layak, Kerja yang Ideal

Selama 5 bulan terakhir, Citra (24 tahun) bekerja sebagai researcher di sebuah startup edukasi. Ada 3 hal utama yang menjadi pertimbangan bagi Citra dalam memilih tempat kerja; pertama yaitu seberapa banyak ia bisa belajar di tempat tersebut, kedua yaitu besaran gaji yang diberikan, dan ketiga yaitu sistem manajerial yang baik.

Untuk hal yang ketiga tersebut, Citra mematoknya sebagai pertimbangan setelah ia memiliki pengalaman yang kurang baik di tempat kerjanya yang lama. Pada saat lulus kuliah, ia menerima tawaran bekerja di sebuah lembaga yang berbasis di Jakarta. Di sini, berbagai permasalahan muncul mulai dari gaji yang underpaid, minimnya ruang untuk berdiskusi dan bernegosiasi, hingga pemimpin lembaga yang kerap melakukan micro-management.

"Jangankan ngomongin gaji karyawan, aku menegosiasikan soal ideku aja kadang gak ada ruangnya. Terus yang kedua bosku itu sering melakukan micro management, padahal di bawah dia ada manajer yang adalah atasanku. Jadi dia di level direktur melakukan micro management menurutku too much. Chaos banget lah intinya, dan gak sehat lama-lama," ujar Citra.

Lingkungan kerja yang ideal bagi Citra adalah lingkungan kerja yang bisa memenuhi minimal dua di antara tiga pertimbangannya tadi. Dengan adanya sistem manajerial yang baik, menurutnya, otomatis akan ada ruang untuk melakukan kritik dan berinovasi. Sehingga, ruang untuk belajar akan tersedia dengan sendirinya. "Misal kamu udah dapat gaji gede, tapi tanpa dua hal yang lain itu menurutku susah juga untuk menghidupi kehidupan sehari-hari. Bisa-bisa rasanya tertekan terus dan akhirnya jadi beban pikiran lagi," jelas Citra.

Gaji yang layak juga menjadi salah satu patokan tempat kerja ideal bagi Dita (23 tahun) yang saat ini bekerja sebagai Account Executive di sebuah agensi di Jakarta. Ia sendiri merasa bahwa sebenarnya tidak ada lingkungan kerja yang 100 persen ideal. Akan tetapi, lingkungan kerja yang sehat bagi Dita bisa didefinisikan dari bagaimana manajemen perusahaan memperlakukan karyawannya baik secara mental maupun fisik. Selain itu, adanya rekan kerja yang suportif dan office politics yang rendah juga bisa menandakan tempat kerja yang sehat.

Hal yang berbeda dikemukakan oleh Dewi (23 tahun, nama disamarkan) yang mengatakan bahwa lingkungan kerja yang ideal ditandai dengan adanya komunikasi yang transparan; baik komunikasi antara atasan dengan bawahan atau dengan sesama pekerja. Dewi yang saat ini bekerja di perusahaan media, dulu pernah bekerja di perusahaan telekomunikasi yang mayoritas diisi oleh pekerja dari generasi yang lebih tua.

Di situ, Dewi merasa kesulitan berkomunikasi karena tak ada teman sebaya yang bisa merasa relate dengan dirinya. Sedangkan menurutnya, perbedaan generasi di tempat kerja tidak akan menjadi masalah apabila ada komunikasi yang transparan. Selain itu, komunikasi yang transparan juga penting agar tidak terjadi miskomunikasi dan mencegah munculnya asumsi antara sesama pekerja.

Bukan Entitlement, Tapi Kesadaran Mengenai Kondisi Kerja

Berdasarkan penuturan Citra, Dita, dan Dewi, kita bisa melihat bahwa tuntutan pekerja muda terhadap lingkungan kerja ideal sebenarnya bukanlah tuntutan yang muluk-muluk. Misalnya, mirip seperti generasi terdahulu mereka juga masih memprioritaskan gaji yang well paid dalam memilih pekerjaan. Sedangkan aspirasi lain seperti sistem manajerial yang baik, komunikasi yang transparan, serta manajemen yang memperlakukan pekerjanya dengan baik, adalah hal-hal yang sifatnya basic atau wajar dimiliki oleh perusahaan.

Soal Gen Z dijuluki sebagai 'kutu loncat', para pekerja muda ini juga tak ambil pusing dengan julukan tersebut. Menurut Dewi, menjadi kutu loncat bukanlah hal yang buruk. Sebab, kalau memang ada pilihan untuk bekerja di tempat yang lebih baik, ya mengapa tidak. Hal yang serupa juga diutarakan oleh Citra, ia mengatakan bahwa Gen Z sebagai 'kutu loncat' bukanlah stigma yang negatif, melainkan realita yang harus dihadapi banyak pekerja muda saat ini.

Menurut Citra, Gen Z terpaksa menjadi 'kutu loncat' karena beberapa hal, salah satunya yaitu tuntutan kerja yang semakin tinggi di era digital. Misalnya, seseorang yang bekerja sebagai Social Media Specialist bisa saja dituntut untuk juga menjadi desainer grafis, mengedit video, lalu menjadi admin media sosial. Dengan kondisi seperti ini, wajar saja banyak pekerja muda yang merasa stres dan akhirnya terpaksa mencari alternatif tempat kerja lain.

Ketika pekerja Gen Z memiliki tuntutan untuk lingkungan kerja yang ideal dan sehat, mungkin mudah bagi generasi lain untuk menyimpulkan bahwa mereka adalah pekerja yang entitled dan lemah. Padahal, ini adalah tuntutan-tuntutan sederhana yang datang dari kesadaran mengenai kondisi kerja mereka sendiri.

Meski demikian, kita juga harus mempertimbangkan bahwa kesadaran Gen Z mengenai lingkungan kerja yang sehat merupakan privilese yang mungkin tidak dimiliki oleh pekerja dari generasi-generasi terdahulu. Di generasi terdahulu, lingkungan kerja yang toxic mungkin saja sudah dibiarkan menjadi kewajaran, sehingga sulit untuk menyadari di mana batas antara yang sehat dan yang tidak.

Oleh karena itu, lingkungan kerja yang ideal dan sehat seharusnya tidak menjadi isu generasional, melainkan isu universal yang turut mempengaruhi pekerja dari seluruh generasi.

[Gambas:Audio CXO]



(ANL/HAL)