Insight | Business & Career

Miskonsepsi Tentang Ikigai

Jumat, 03 Jun 2022 18:00 WIB
Miskonsepsi Tentang Ikigai
Foto: Greatday HR
Jakarta -

Ikigai, sebuah kata yang sering digaungkan di media sosial. Orang pun berbondong-bondong berusaha menemukannya demi mencapai karir yang diimpikan. Tak sedikit pula yang menyamakan passion-nya sebagai ikigai. Padahal, pada kenyataannya bukan itu arti yang tersirat dalam kata ikigai.

Istilah ikigai berasal dari bahasa Jepang yang merupakan gabungan dari kata iki (生き) dan kai (甲斐) yang berarti "hidup" dan "nilai". Jika digabungkan, maka dapat disimpulkan bahwa ikigai adalah arti hidup atau tujuan hidup. Namun, ikigai sendiri tidak memiliki terjemahan langsung ke dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.

Masyarakat Jepang memaknai ini sebagai sebuah filsafat yang berfokus pada bagaimana kita menemukan kebahagiaan dalam hidup. Datang dari negara yang memiliki life expectancy yang terbilang panjang, tentunya filsafat ini dipercaya sebagai kunci menuju hidup yang panjang umur dan bahagia. Dari penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa ikigai tidak membahas keuangan dan karir secara spesifik.

Dengan semakin populernya filsafat ini, budaya barat pun turut mengadopsinya dengan interpretasi yang berbeda. Di barat, filsafat ini dijadikan sebagai metode untuk menemukan karir impian yang merupakan irisan dari apa yang disukai, apa yang dikuasai, apa yang dibutuhkan dunia, dan apa yang dapat berpenghasilan.

Diagram IkigaiDiagram Ikigai/ Foto: BetterUp

Interpretasi ini pertama diperkenalkan oleh Marc Winn, seorang business coach dan wirausahawan dari Inggris. Ia menggabungkan diagram purpose yang diciptakan oleh Andrés Zuzunaga dengan konsep ikigai. Dengan kata lain, diagram ikigai yang sering kita temui adalah hasil modifikasi dengan mengganti purpose pada irisan tengah menjadi ikigai.

Meski ada pergeseran makna, konsep ikigai ini pun tetap populer. Dalam buku You Do You: Discovering Life Through Experiments & Self Awareness karya Fellexandro Ruby, memang diakui bahwa ada miskonsepsi, tapi Ruby menggunakan diagram ikigai untuk membantu pembacanya memetakan karir melalui pertanyaan kepada diri sendiri: "Aku bisa dibayar mengerjakan apa?"; "Apakah aku menguasai pekerjaan itu?"; "Apakah aku menyukai pekerjaan itu?"; dan "Apakah itu yang dibutuhkan dunia?"

[Gambas:Audio CXO]



(HAL/DIR)

Author

Handoko Lun