Interest | Art & Culture

Review Dua Hati Biru: Ditampar Realita Rumah Tangga Muda

Rabu, 24 Apr 2024 16:46 WIB
Review Dua Hati Biru: Ditampar Realita Rumah Tangga Muda
Foto: Instagram/duahatibiruofficial
Jakarta -

Melahirkan "anak kedua" dalam suatu franchise film tidak pernah menjadi perkara mudah. Ekspektasi yang harus dipanggul berkat kesuksesan film pertama menjadi beban yang harus dibawa hingga karya tersebut dirilis. Hal inilah yang terasa dari dirilisnya Dua Hati Biru sebagai bentuk sekuel dari Dua Garis Biru (2019). Penikmat karya dari Gina S. Noer ini pasti akan bertanya dalam hati, "Apakah akan sebaik film pertamanya?" Jawabannya hanya bisa didapatkan dari menonton langsung di bioskop.

Kehadiran Dua Hati Biru menandakan kesuksesan dari storyline antara Dara-Bima yang awalnya diperankan oleh Adhisty Zara dengan Angga Yunanda. Namun untuk sekuel ini, karakter Dara dimainkan oleh Nurra Datau yang juga memanggul beban sama lewat ekspektasi peran yang telah dibesarkan oleh Zara, hingga aktingnya yang mengharuskan dia menjadi ibu muda. Konflik yang dihadirkan dengan irisan pilunya realitas kehidupan suami-istri hasil "kesalahan" membuat film ini mempunyai premis yang jauh lebih kaya lagi. Tanpa berharap apa-apa saat mulai menikmati Dua Hati Biru di layar emas, ternyata yang didapatkan adalah rasa hangat yang penuh harap.

Review Film Dua Hati Biru

Perjalanan cinta Bima dan Dara berlanjut beberapa tahun setelah sang buah hati lahir. Kondisi yang membuat mereka harus menjalani long distance marriage sejak Adam lahir, bagaikan bom waktu yang harus segera dijinakkan. Kembalinya Dara ke peraduan Bima dan Adam ternyata sudah menghadirkan masalah yang sudah cukup pelik. Adam tidak mau bermain dengan ibunya sendiri setelah berpisah bertahun-tahun dan hanya dibesarkan oleh sang ayah dan nenek-kakeknya.

Rasanya sedih melihat Dara dengan Adam yang tidak memiliki chemistry pada awal film karena history di antara mereka berdua yang sudah terlanjur jauh. Namun film ini tidak hanya memainkan satu atau dua konflik saja. Masih banyak masalah lain yang terus muncul bertubi-tubi seiring gulungan film berputar. Keputusan untuk tinggal di "pondok mertua indah" yang awalnya baik-baik saja, malah berbalik 180 derajat. Lalu ditambah dengan komunikasi antara Dara dengan Adam yang masih dipenuhi ego anak muda dengan beban tanggung jawab untuk menjawab takdir yang harus dijalani.

Konflik yang terasa sangat relatable di kehidupan keluarga masyarakat luas membuat Dua Hati Biru masuk ke dalam realitas secara nyata. Bagaimana konflik yang dibangun membuat kita semua sering terdiam termangu atas apa yang tersaji di layar. Setiap dialog, setiap pertanyaan, setiap masalah, semuanya berhasil menghipnotis dengan pelan tapi pasti. Termasuk Nurra Datau yang sangat tepat untuk menjadi sosok Dara. Bahkan membuat kita lupa kalau ia sebenarnya menggantikan Zara. Peran lain seperti Cut Mini, Arswendy Bening Swara, Lulu Tobing, hingga Keanu Angelo juga mengisi ruang yang tepat dari naskah film ini. Tanpa perlu berlama-lama, Dua Hati Biru sudah lepas dari beban atas kesuksesan prekuelnya dengan gaya yang elegan, tanpa harus membuktikan lewat angka.

Konflik Bertubi-tubi dengan Durasi Singkat

Seperti yang sudah diprediksikan, Dua Hati Biru dipenuhi oleh konflik bertubi-tubi tanpa henti. Semuanya memiliki peluang besar untuk terjadi dalam kehidupan kita juga. Kedekatan cerita dengan realitas, tentunya patut diacungi dua jempol. Namun tetap ada yang membuat film ini terasa terburu-buru. Total konflik yang cukup banyak harus bertarung dengan durasi yang terhitung singkat. Hanya 1,5 jam saja untuk membuat kita menerima kalau masalah yang ada terselesaikan begitu saja tanpa ada kedalaman penyelesaian yang nyata.

Apa pun alasan yang menjadi dasar dari penyajian storyline seperti ini, untungnya tidak membuat kebaikan Dua Hati Biru hilang begitu saja. Memang, masih ada sedikit rasa tidak puas karena ada beberapa konflik yang terselesaikan begitu cepat, padahal bisa dibangun lebih panjang dengan value drama. Namun ada sedikit rasa maklum di hati karena film ini disuguhkan dengan sangat cantik. Bahkan tidak melupakan gaya sinematografi khas Gina S. Noer yang kali ini didukung Dinna Jasanti.

Sinematografi film ini memberikan kita banyak hint soal hubungan yang tidak harmonis dengan banyaknya perbedaan pendapat dan mindset lewat dua ruang yang dipisahkan banyak objek. Seperti dapur dengan kamar tidur yang merupakan rumah, tapi diisi oleh dua insan berpikir yang jauh berbeda. Seakan-akan memberikan kita tanda kalau mereka sedang tidak baik-baik saja secara implisit nan indah. Begitu pun dengan penggunaan kaca saat adegan adu mulut yang cukup sering terjadi. Film ini seperti ingin membuat kita berkaca kalau dalam sebuah masalah, terkadang kita semua harus ngaca atas apa yang sedang terjadi. Jangan hanya membebankan masalah pada satu pihak saja.

Selain itu, Gina S. Noer kembali dengan warna-warna cerah untuk menggambarkan vibe filmnya. Bahkan untuk menggambarkan strata ekonomi Bima dengan Dara. Perhatikan saja sepanjang film, bagaimana Bima tetap tampil lusuh dan monoton, sedangkan Dara lebih cerah dan berwarna. Ditambah lagi dengan cara berpikir mereka yang masih ingin berjuang, sedangkan satu lagi menyerah tanpa ada usaha lebih besar lagi. Sifat-sifat seperti ini memang ada di masyarakat dan itulah yang sangat sukses divisualisasikan dalam Dua Hati Biru.

Banyaknya konflik yang ada tidak akan sempurna tanpa penulisan skenario yang baik. Kembali lagi, kudos untuk Gina S. Noer karena mau sepenuh hati menunjukkan konflik sementok mungkin. Terlihat dari cekcok adu mulut yang sangat keras, khususnya untuk film keluarga muda seperti ini, hingga membuat penonton merasa tidak nyaman. Saya pun menjadi saksi dari dampak yang ditimbulkan berkat kemahiran skenario film ini. Walaupun bermain di "pinggir jurang", tapi memang itulah gaya Gina S. Noer yang tidak pernah setengah hati dalam menunjukkan realitas yang ada.

Pada akhirnya, Dua Hati Biru menjadi underdog dalam peperangan film Indonesia pasca Lebaran 2024. Film penuh kehangatan seperti ini harus bertarung dengan film penuh ketakutan seperti Siksa Kubur dan Badarawuhi. Dogfight yang tidak seimbang dari segi angka ini jangan sampai membuat kita melupakan film ini, karena sampai menuju akhir April 2024, harus dinyatakan bahwa Dua Hati Biru merupakan film Indonesia terbaik 2024.

Satu alasan lagi untuk kalian yang masih ragu menonton cerita keluarga Bima-Dara-Adam. Jika bosan dengan film horor, Dua Hati Biru jawabannya.

(tim/alm)

Author

Timotius P

NEW RELEASE
CXO SPECIALS