Interest | Art & Culture

Review Dr. Samsi: Reinkarnasi Kesederhanaan Cerita dalam Film

Rabu, 20 Dec 2023 08:46 WIB
Review Dr. Samsi: Reinkarnasi Kesederhanaan Cerita dalam Film
Jakarta -

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) baru-baru ini meluncurkan film hitam putih yang merupakan hasil restorasi dari produksi tahun 1952 dengan judul Dr. Samsi. Film yang disutradarai oleh Ratna Asmara tersebut bisa disebut sebagai salah satu tonggak sejarah dari perjalanan sinema Indonesia. Alasannya, Ratna Asmara merupakan sutradara wanita pertama di Indonesia yang berhasil merilis film penuh.

Dr. Samsi sendiri menjadi salah satu film bermateri seluloid 35mm yang tersimpan dalam koleksi Sinematek Indonesia dengan kondisi yang nyaris punah dan tidak lengkap. Kondisinya yang sudah seperti ini membuat Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek, langsung segera berusaha menyelamatkan film ini dengan cara restorasi sehingga menjadi format digital yang lebih modern.

Perjalanan panjang dari film ini untuk kembali bisa dinikmati akhirnya terselesaikan dengan peluncuran lewat screening yang dilakukan pada Selasa (19/12). Beberapa perbandingan dari kondisi audio dan visual sebelum restorasi yang sempat ditunjukkan sebelum screening dimulai seperti memperlihatkan bagaimana kerja keras individu-individu dibalik proyek ini. Kondisinya yang sudah sangat parah, ternyata tidak membuat harapan itu hilang. Pada akhirnya, Dr. Samsi berhasil diputar ulang 51 tahun kemudian dengan kualitas yang jauh lebih baik.

Review Dr. Samsi

Secara garis besar, film Dr. Samsi bercerita tentang seorang dokter bernama Samsi yang tanpa sadar telah merawat anak hasil hubungan gelapnya dengan seorang perempuan bernama Sukaesih. Anak tersebut diberi nama Sugiat dan tumbuh besar hingga menjadi seorang pengacara yang berujung harus membantu Sukaesih sendiri dalam suatu kasus, tanpa tahu bahwa perempuan itu merupakan ibu kandungnya.

Cerita berbalut masalah keluarga yang menjadi premis utama Dr. Samsi terkesan sederhana. Tidak ada letupan twist yang membuat kita bisa melihat film ini sangat berbeda, apalagi ketika menontonnya kembali pada masa modern. Dialog yang memang terasa old school membuat film ini tampil lebih berbeda. Sebagian besar dari kita yang sudah merasakan kecanggihan sinematografi, serta didukung penulisan skrip yang sudah berkembang, pastinya akan merasa Dr. Samsi menjadi lebih sederhana. Tapi memang inilah hal yang jadi value utama mereka. Kita seakan dibawa naik mesin waktu ke masa lampau lewat film ini.

Di luar itu, tanpa disadari, sebenarnya sosok Sukaesih di sini diperankan langsung oleh Ratna Asmara. Seberapa banyak sutradara Indonesia yang langsung ikut bermain dalam film yang disutradarai, bahkan sebagai salah satu karakter utama? Kalau kita berpikir hal seperti ini sudah terjadi sejak dekade 50-an, berarti Ratna Asmara cukup menggebrak tradisi yang selama ini jarang sekali dilakukan.

Bagaimana dengan akting para pemain? Sosok Dr. Samsi serta asistennya Leo yang menjadi konflik utama dengan akting yang menjanjikan berhasil disajikan dengan tepat. Tidak ada yang terasa dibuat-buat di sini. Apa yang diperlihatkan di layar sinema berhasil dibawakan dengan baik tanpa terasa kaku. Begitu pula dengan set tempat dari setiap lokasi syuting mereka yang kembali lagi, berhasil di-delivery dengan baik karena kita akhirnya tahu bagaimana suasana pada dekade '50-an di Jakarta.

Satu poin lagi yang patut di-highlight dari film ini adalah kemampuan Andjar Asmara sebagai penulis skenario yang sukses menyelipkan humor-humor yang gilanya, tetap relevan sampai sekarang. Beberapa titik tawa muncul tanpa diduga oleh penonton, walaupun ada momen-momen yang seharusnya bukan untuk mengundang tawa, tapi ternyata terolah sempurna sebagai humor.

Restorasi Dr. Samsi menjadi bentuk usaha yang wajib diapresiasi oleh kita. Ketika film-film dari awal masa kemerdekaan Indonesia berhasil ditonton lagi ketika negara ini sudah semakin tua, maka jejak sejarah tidak akan terlupakan. Sekaligus menjadi bukti kalau industri perfilman Indonesia memang tidak pernah berjalan mundur. Buktinya, sekarang semakin maju dengan dukungan teknologi dan pastinya, melihat ke belakang lewat Dr. Samsi.

(alm)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS