Interest | Art & Culture

#NotMyAriel: Seberapa Penting Representasi Akurat Karakter Fiktif?

Selasa, 13 Sep 2022 14:30 WIB
#NotMyAriel: Seberapa Penting Representasi Akurat Karakter Fiktif?
Jakarta -

Disney baru saja merilis teaser trailer terbaru untuk adaptasi live-action The Little Mermaid yang dijadwalkan akan tayang 2023. Dalam klip berdurasi 1 menit 24 detik tersebut, kita diberi sneak peek sosok Ariel yang diperankan Halle Bailey sedang berenang mengarungi lautan dan menyanyikan Part of Your World. Teaser trailer ini pun mendapat sambutan yang meriah dari para penggemar, terutama karena banyak yang memuji performa Halle Bailey sebagai Ariel.

Sayangnya, banyak juga yang menyatakan ketidakpuasan terhadap pilihan casting Halle Bailey sebagai Ariel. Dalam The Little Mermaid (1989) versi animasi, Ariel digambarkan sebagai putri duyung yang memiliki kulit putih, rambut merah, dan mata berwarna biru. Penggambaran ini pun kadung melekat dalam bayangan banyak orang ketika mendengar Little Mermaid. Namun dalam versi adaptasi live-action, Disney memilih Halle Bailey    yang notabene berkulit hitam    untuk memerankan sosok Ariel.

Mereka yang memprotes berargumen bahwa pilihan casting ini tidak akurat dan melenceng dari materi orisinilnya. Bahkan, muncul internet trolls yang menggunakan #NotMyAriel untuk menyerang Disney dan Halle di media sosial. Mereka berpendapat, kalau Disney terlalu memaksakan diri untuk menjadi "woke", dan tak seharusnya mereka mengubah karakter Ariel dari wujud aslinya.

Representasi Akurat dan Jejak Rasisme dalam Fandom

Bicara soal representasi yang akurat, kita harus kembali pada materi orisinil The Little Mermaid, yaitu buku yang ditulis oleh penulis berkebangsaan Denmark Hans Christian Andersen. Dalam cerita tersebut, tidak ada deskripsi mengenai warna kulit Ariel, bahkan karakter utama putri duyungnya tak memiliki nama. Ariel adalah karakter yang diciptakan oleh Disney tahun 1989 sebagai interpretasi dari The Little Mermaid karangan Andersen.

Dengan demikian, seharusnya sah-sah saja apabila ada interpretasi lain dari The Little Mermaid dengan karakter Ariel yang tidak berkulit putih. Secara historis, karakter-karakter Disney memang didominasi oleh sosok princess yang berkulit putih. Namun seiring dengan perkembangan zaman, Disney mencoba mengubahnya dengan membawa keberagaman ke dalam karakter-karakternya. Adanya representasi yang inklusif terbukti membawa dampak baik, terutama bagi kelompok minoritas yang selama ini terpinggirkan dari layar kaca. Kompilasi reaction videos di bawah ini adalah buktinya.

Ini bukan pertama kalinya representasi yang inklusif mendapat penolakan. Hal yang sama juga terjadi kepada Rings of Power, serial prekuel dari cerita fantasi legendaris The Lord of the Rings. Serial ini diprotes karena menyertakan karakter elf berkulit hitam, padahal menurut mereka tidak ada karakter person of color dalam karya Tolkien. Segenap cast-nya pun akhirnya memberikan pernyataan terbuka yang mengutuk segala komentar rasis terhadap karakter person of color di Rings of Power. "Our world has never been all white, fantasy has never been all white, Middle-earth is not all white," ujar mereka dalam pernyataan tersebut.

Pada akhirnya, tidak ada argumen yang bisa menutupi nada rasis dari #NotMyAriel. Toh yang terpenting adalah seberapa piawai Halle dalam memerankan Ariel. Banyak yang memuji kemampuan akting dan menyanyi Halle, termasuk Jodi Benson. Jodi Benson adalah pengisi suara Ariel di The Little Mermaid versi animasi. "Halle, you were absolutely amazing," ujar Jodi dalam unggahan Instagram story setelah melihat teaser trailer filmnya. Kalau Halle Bailey terbukti bisa memerankan Ariel dengan apik, lantas mengapa masih dipermasalahkan?

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/DIR)