Interest | Art & Culture

Staff's Pick: Film Mandarin

Senin, 20 Jun 2022 12:00 WIB
Staff's Pick: Film Mandarin
Foto: IMDb
Jakarta -

Ada kalanya, Hong Kong disebut sebagai Hollywood of the East. Predikat ini tak mengherankan, melihat di tahun 80an hingga 90an Hong Kong menjadi eksportir film terbesar di Asia yang mampu menyaingi Hollywood. Nama-nama seperti Jackie Chan, Bruce Lee, dan Maggie Cheung pun melejit menjadi ikon budaya pop. Bahkan, karya-karya Wong Kar-wai diakui sebagai inspirasi bagi beberapa sutradara ternama seperti Quentin Tarantino dan Sofia Coppola.

Bangkitnya sinema Hong Kong membuka pintu bagi film-film berbahasa Mandarin lain--seperti Tiongkok dan Taiwan--untuk memiliki tempat di pasar global. Bagi kita yang tumbuh besar di Asia tenggara pada tahun 90-an hingga 2000-an awal, pasti familiar dengan film-film berbahasa Mandarin yang ditayangkan di televisi nasional. Film-film seperti Shaolin Popey, New Police Story, dan The Myth berhasil menghiasi pengalaman masa kecil saya.

Meski film Mandarin sudah tidak berjaya seperti dulu, tapi pengaruh mereka masih bisa dirasakan hingga hari ini. Dalam rangka memberi apresiasi pada film-film tersebut, berikut adalah film Mandarin yang menjadi pilihan kami!

Kung fu HustleKung fu Hustle/ Foto: IMDb

Tasya, Writer
Kung Fu Hustle (2004)
Sutradara: Stephen Chow
Jangan mengaku sebagai penggemar film kung fu kalau kamu belum menonton Kung Fu Hustle. Mungkin ada banyak film martial arts lain yang lebih sophisticated, tapi Kung Fu Hustle memiliki nuansa orisinalitas yang membuatnya begitu ikonik. Film yang disutradarai, diproduseri, dan diperankan oleh Stephen Chow ini adalah salah satu film paling memorable dari masa kecil saya. Film ini mampu memberikan kepuasan yang berlapis karena semua aspek disajikan dengan porsi yang pas. Mulai dari unsur komedi, koreografi kung fu yang ciamik, aksi gangster dari Geng Kapak yang menambah keseruan, hingga roman yang menjadi kejutan di akhir film. Karakter favorit saya, tentu saja ibu kos galak yang diam-diam menguasai jurus Auman Singa.

Once Upon A Time in ChinaOnce Upon A Time in China/ Foto: IMDb

Dian, Editor
Once Upon a Time in China (1991)
Sutradara: Tsui Hark
Once Upon a Time in China adalah film mandarin pertama saya yang diperkenalkan oleh alm. Ayah yang saat itu sangat suka menonton film lewat Video Compact Disk (VCD). Film ini berkisah tentang Wong Fei Hung (Jet Lee), seorang master beladiri sekaligus dokter filantropis yang terkenal di seluruh penjuru dataran Cina, bertarung untuk menghadapi penjajahan Inggris, Prancis, dan Amerika yang ingin menguasai Cina. Ditambah ia harus melindungi saudara jauhnya, Bibi Yee (Rosamund Kwan) dari persekusi masyarakat karena dinilai mengkhianati negara karena belajar di negara barat. Film ini tak hanya sekadar bercerita tentang nasionalisme, tapi juga percintaan terhalang tradisi. Plotnya yang kerap disisipi humor membuat film ini tak pernah membosankan meski ditonton berkali-kali!

Future CopsFuture Cops/ Foto: IMDb

Handoko, Editor
Future Cops (1993)
Sutradara: Wong Jing
Sebagai orang yang tumbuh besar mengonsumsi beragam budaya pop, Future Cops yang pernah ditonton saat masih muda jelas membekas. Mengangkat berbagai referensi dari budaya pop yang populer pada masanya secara unapologetic seperti Terminator 2, Doraemon, Dragon Ball, Street Fighter II, film ini tidak berusaha untuk menjadi papan atas seperti film-film dari bintang ternama Asia lainnya. Suka tidak suka, ini merupakan satu dari sekian banyak karya Wong Jing lainnya yang sempat menjadi penopang skena perfilman Hong Kong pada masanya. Dari kacamata penonton, film ini jelas absurd, tidak masuk akal, dan terlihat asal-asalan. Tapi justru keabsurdan itulah yang membuat film ini menghibur, tidak hanya bagi saya, tapi juga banyak orang lainnya di seluruh belahan dunia.

In the Mood for LoveIn the Mood for Love/ Foto: IMDb

Indira, Co-Editor in Chief & Chief Creative
In The Mood for Love (2000)
Sutradara: Wong Kar-wai
Film ini adalah karya Wong Kar-wai pertama saya. Dari film inilah tumbuh kekaguman saya akan karyanya. In The Mood for Love adalah art house film yang berfokus pada karakter dua orang, Mr. Chow (Tony Leung) dan Mrs. Chan (Maggie Cheung), yang tinggal di satu gedung apartemen yang sama, selepas dari rutinitas pekerjaan, mereka sering bertemu secara tidak sengaja dan saling bertukar keluh kesah tentang problematika rumah tangga masing masing yang ternyata sama: pasangan mereka selingkuh. Dari situ lah dimulai dinamika perasaan yang timbul antara dua karakter ini.

Wong Kar-wai menyampaikan nuansa sendu di film ini lewat tatanan pendukung visual yang dibalut dengan music scoring sarat melankolia. Bahkan film ini menginspirasi Sofia Coppola membuat film Lost in Translation (2003). In The Mood for Love menjadi salah satu film sendu terbaik menurut saya.

Shaolin SoccerShaolin Soccer/ Foto: IMDb

Iyas, Editor in Chief
Shaolin Soccer (2001)
Sutradara: Stephen Chow
Kung fu dan sepak bola selalu menjadi tontonan warga Indonesia selama bertahun-tahun dan kedua hal tersebut dikolaborasikan dalam sebuah film yang berjudul Shaolin Soccer tepatnya 21 tahun lalu. Film ini membuat banyak orang terhibur dengan adegan-adegan absurd seperti tangkisan sosok kiper dengan tangan petir, Ah Mui pembuat bakpao yang mampu mengendalikan bola dengan hebat atau salto dua kaki Stephen Chow yang menghantam tembok. Bila ditonton sekarang, Shaolin Soccer mungkin adalah salah satu film yang memiliki tingkat imajinasi kreatif seperti anak kecil tetapi membuat banyak sekali orang dewasa terhibur.

Chinese ZodiacChinese Zodiac/ Foto: IMDb

Salma, Social Media Executive
Chinese Zodiac (Sap Ji Sang Ciu) (2012)
Sutradara: Jackie Chan
Film ini disutradarai oleh Aktor favorit saya Jackie Chan. Jackie Chan ditugaskan oleh sebuah perusahaan barang-barang langka untuk mencuri aset-aset Cina berupa emas dengan lambang masing-masing zodiak Cina yang telah diambil Inggris pada saat konflik Inggris-Cina yang terjadi pada abad ke 18. Cerita berlatar di Prancis dengan balutan nuansa sejarah dan aksi dari Jackie Chan yang memukau. Ditutup dengan adegan kekeluargaan yang menyentuh. Film ini sangat sempurna bagi kamu penikmat aksi Jackie Chan. Film dengan perpaduan genre aksi, misteri, sejarah, petualangan dan juga komedi ini sangat cocok untuk ditonton bersama keluarga.

Our TimesOur Times/ Foto: IMDb

Dinar, Writer
Our Times (2015)
Sutradara: Frankie Chen
Film yang bergenre romcom atau romance comedy ini menceritakan tentang Lin, seorang siswa culun yang diteror oleh Hsu Tai Yu--ketua gangster di sekolahnya--yang berakhir manis dan gemas. Keduanya mulai bersinggungan dengan satu sama lain karena surat berantai yang diterima oleh Lin, di mana mau tidak mau harus ia teruskan apabila tidak ingin tertimpa nasib buruk. Alih-alih menghindari nasib buruk, kehidupannya di sekolah justru semakin rumit karena keputusan yang ia buat untuk meneruskan surat berantai tersebut kepada Hsi Tai Yu. Film mandarin yang satu ini berhasil membuat saya tertawa geli dan menangis terharu.

Fallen AngelsFallen Angels/ Foto: IMDb

Mel, Editor
Fallen Angels (1995)
Sutradara: Wong Kar-wai
Wong Kar-wai selalu memiliki ciri khas yang berbeda dalam membuat film yang mudah terlihat dari warna-warna yang moody, sinematografi yang apik, dan narasi yang tidak biasa. Fallen Angels memiliki dua cerita berbeda (yang sama-sama rumit) dari dua pemeran utama di mana mereka hanya bersinggungan pada satu momen krusial yang akhirnya membuat mereka memutuskan untuk enjoying each other's company pada malam itu--tanpa akhir yang konklusif--memberi catatan tentang untold stories of midnight ramblers in the city. Dengan visual yang sangat 90-an, film ini sebenarnya termasuk Hong Kong romantic crime comedy yang lebih banyak menggunakan bahasa Cantonese, Taiwanese, Japanese, dan English--bukan Chinese Mandarin.

[Gambas:Audio CXO]



(ANL/DIR)