Interest | Art & Culture

Film Generasi 90an yang Perlu Ditonton Lagi

Kamis, 17 Feb 2022 18:00 WIB
Film Generasi 90an yang Perlu Ditonton Lagi
Jakarta -

Mulai dari film, musik, hingga fashion, dekade 90an telah menjadi ikon kebudayaan bahkan bagi generasi yang lahir pasca tahun 1990. Bagi saya yang baru lahir di tahun 1998, euforia yang diwariskan oleh generasi 90an masih terasa hingga hari ini. Apa yang membuat tahun 90an menjadi sumber nostalgia bagi banyak orang, terutama bagi mereka yang tumbuh besar di era itu? Salah satu alasannya, mungkin karena tahun 90an menawarkan segudang film-film coming of age yang menyiratkan banyak insight bagi banyak remaja pada masanya. Bagi generasi muda, film coming of age tak hanya dinikmati sebagai hiburan, tapi juga sebagai referensi yang bisa membantu mereka menavigasi rimba kehidupan. Berikut adalah film-film 90an yang terlalu menarik untuk dilewatkan!

.Ilustrasi menonton film/ Foto: Pavel Danilyuk/Pexels

Empire Records (1995)

Empire Records mungkin adalah salah satu film yang paling bisa menggambarkan semangat membara dari generasi yang menolak untuk tunduk kepada industri yang semakin menggerogoti budaya kaum muda. Film ini bercerita tentang sekelompok anak muda yang bekerja di toko musik independen, Empire Records. Masalah datang ketika Empire Records akan dijual ke perusahaan besar. Mereka pun mencari cara untuk menyelamatkan toko musik yang telah menjadi suaka bagi anak-anak misfits seperti mereka, termasuk dengan menggalang dana. Melalui musik, film yang dibintangi oleh Liv Tyler dan Renee Zellweger ini menunjukkan perlawanan anak muda untuk mempertahankan identitas mereka. Pesan film ini kuat: anak muda tak bisa dibeli.

.Empire Records/ Foto: YouTube/Movieclips Classic Trailers

The Virgin Suicides (1999)

The Virgin Suicides merupakan film debut Sofia Coppola yang berlatar di tahun 70an dan bercerita tentang lima anak perempuan dari keluarga Lisbon. Orang tua mereka merupakan penganut Katolik taat yang sangat protektif dan kerap melarang kelima anak perempuannya untuk bergaul dengan lingkungan sekitar. Akibat keterbatasan ruang gerak, kelima bersaudara ini mengalami masalah kesehatan mental yang cukup dalam. Dibandingkan dengan film remaja lainnya yang dikemas secara ringan, The Virgin Suicides mengangkat tema yang cukup berat yaitu mengenai depresi yang dialami oleh generasi muda. Tema ini ini kemudian dijelajahi melalui perspektif anak perempuan yang tumbuh di keluarga konservatif.

.The Virgin Suicides/ Foto: YouTube/Movieclips Classic Trailers

10 Things I Hate About You (1999)

Bagi sebagian dari kita, Kat (Julia Stiles) dan Patrick (Heath Ledger) adalah pasangan idola yang menjadi idaman banyak remaja di tahun 90an dan 2000an. Kat adalah seorang siswi SMA yang gemar membaca prosa-prosa feminis, penyendiri, dan ditakuti oleh teman-teman seangkatannya. Sementara Patrick adalah siswa SMA yang sehari-hari memakai jaket kulit dan digosipkan sebagai kriminal. Aspek-aspek dari kedua karakter ini bisa saja membuat 10 Things I Hate About You menjadi film remaja yang klise dan mungkin saja film ini memang demikian. Tapi ajaibnya, bagi saya film ini justru prototipe dari film-film remaja yang ramai di tahun 2000an. Dipenuhi dengan teen angst, Kat dan Patrick adalah duo misfit yang membuat film ini menjadi menyenangkan sekaligus manis untuk ditonton.

.10 Things I Hate About You/ Foto: Alamy Stock Photo

Dazed and Confused (1993)

Ketika film ini dirilis, banyak kritikus menganggap film ini sebagai komedi dangkal yang tak memiliki makna kultural. Meski begitu, 20 tahun kemudian, Dazed and Confused telah dianggap sebagai cult classic. Film ini bercerita tentang bagaimana remaja menghabiskan hari terakhir mereka di sekolah sebelum liburan musim panas dimulai. Dari segi alur cerita, tak ada yang istimewa dari film ini. Namun, yang membuat film ini menjadi spesial adalah naskah yang ditulis dengan sangat baik. Salah satu dialog paling ikonik muncul dari karakter Wooderson (Matthew McConaughey), pemuda berumur 20 tahun yang masih bergaul dengan anak sekolahan. Dalam sebuah adegan, ia memberi saran kepada teman-temannya yang masih bersekolah, "Let me tell you this, the older you do get, the more rules they're gonna try to get you to follow. You just gotta keep livin', man, L-I-V-I-N." Dazed and Confused adalah film tentang pergaulan remaja, mimpi di masa muda, dan ketakutan akan masa depan.

.Dazed and Confused/ Foto: Getty Images

Clueless (1995)
Hampir tak mungkin sepertinya membicarakan film 90an tanpa menyebut Clueless. Terinspirasi dari novel Jane Austen berjudul Emma, Clueless telah menjadi film klasik yang tak lekang oleh waktu. Melalui tema pertemanan, keluarga, dan romansa, film ini berhasil menangkap apa yang dialami oleh banyak remaja. Sebab di usia remaja, kita semua memang clueless. Selain relatable, Clueless juga ikonik karena fashion yang dibawakannya. Tahun 90an biasanya didominasi oleh grunge, termasuk dalam gaya berpakaian. Tapi Clueless dengan berani memasukkan karakter Cher dan Dione yang tak sungkan untuk mendandani diri mereka dengan girly clothes seperti rok pendek kotak-kotak dan kaos kaki selutut. Di balik kepribadian mereka yang sangat feminin, Cher dan Dione adalah duo karakter perempuan yang tak takut untuk mengekspresikan pikiran mereka, gigih untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, dan memiliki kesadaran akan self-worth.

.Clueless/ Foto: Alamy Stock Photo

Masing-masing film di atas memiliki narasi yang berbeda-beda, namun dipersatukan oleh tema yang sama yaitu eksplorasi diri remaja yang beranjak dewasa. Bagi mereka yang tumbuh besar di era 90an, film-film di atas bisa menjadi sarana untuk bernostalgia. Bagi generasi yang lahir sesudah tahun 90an, film-film di atas bisa menjadi pilihan untuk kalian tonton bersama teman-teman.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/HAL)