Interest | Art & Culture

Tradisi Unik Ramadan di Indonesia

Rabu, 13 Apr 2022 20:00 WIB
Tradisi Unik Ramadan di Indonesia
Jakarta -

Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, di mana terdapat 231,06 juta penduduk Indonesia yang beragama Islam. Tak heran jika bulan Ramadan menjadi salah satu bulan yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia. Setiap daerah pun memiliki tradisi masing-masing dalam menyambut dan merayakan bulan Ramadan. Dengan semakin dekatnya bulan Ramadan 1143 Hijriyah pada tahun ini, tiap daerah sudah mempersiapkan perayaan yang berbeda-beda dengan cara yang unik. Mari kita mulai dengan mengenali lima tradisi unik Ramadan di beberapa daerah di Indonesia.

1. Malamang (Sumatra Barat)

Warga Minangkabau, Sumatra Barat, menyambut Lebaran dengan tradisi malamang. Malamang berasal dari kata Minangkabau yang memiliki arti membuat lemang, yakni kudapan dari ketan putih yang dimasak dengan cara dibakar di dalam bambu dan daun pisang. Pembuatan kudapan ini memakan waktu kurang lebih 5 jam. Setelah matang, lemang kemudian akan dibawa ke rumah sanak saudara untuk dibagikan. Hanya beberapa wilayah di Sumatra Barat saja yang memiliki tradisi ini, seperti Padang Pariaman, Pariaman, Padang, dan beberapa daerah lainnya. Selain di Minangkabau, lemang juga tersebar di seluruh kebudayaan Melayu dan beberapa daerah lain di Indonesia. Kuliner tradisional ini dapat kita cicipi ketika berkunjung ke Sumatra Barat saat bulan Ramadan.

MalamangMalamang/ Foto: CORRECTO

2. Tradisi Nyadran (Jawa Tengah)

Masyarakat Jawa Tengah dan Yogyakarta memiliki tradisi Nyadran yang dilakukan pada bulan Sya'ban atau menjelang bulan Ramadan. Tradisi ini diketahui adalah hasil akulturasi budaya Jawa dengan Islam. 'Sraddha' merupakan asal kata dari Nyadran yang berarti keyakinan. Nyadran identik dengan melakukan kegiatan membersihkan makam para orang tua atau leluhur, disusul dengan membuat dan membagikan makanan tradisional, serta berdoa atau selamatan bersama di sekitar area makam. Nyadran menjadi sebuah momentum penting untuk menghormati para leluhur dan menyampaikan ucapan syukur kepada Tuhan. Tradisi ini biasanya diadakan satu bulan sebelum dimulainya puasa. Ada juga tradisi beberapa kelompok masyarakat di Jawa yang melakukan nyadran dengan bersih-bersih makam dengan membawa sadranan atau bungkusan makanan hasil bumi yang akan ditinggalkan di makam.

NyadranNyadran/ Foto: HUMAS MENPANRB

3. Munggahan (Jawa Barat)

Munggahan merupakan tradisi bagi umat Islam Sunda untuk menyambut datangnya bulan Ramadan. Tradisi ini dilaksanakan dengan cara yang beragam. Pada umumnya, Munggahan dilakukan dengan makan bersama, berkumpul bersama keluarga dan kerabat, saling bermaaf-maafan, berdoa bersama, memukul/ngadulag beduk usai shalat subuh hingga menjelang malam pertama Ramadan, dan membersihkan makam. Munggahan berasal dari Bahasa Sunda yaitu "unggah" yang mempunyai arti kata naik ketempat yang lebih tinggi. Munggahan dapat diartikan naik menjadi pribadi yang lebih baik atau lebih tinggi derajatnya. Dengan memasuki bulan suci Ramadan, diharapkan selama dan setelah bulan ini orang akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi dari sebelumnya.

MunggahanMunggahan/ Foto: Pikiran Rakyat

4. Meugang (Aceh)

Masyarakat Aceh masih melestarikan sebuah tradisi yang cukup unik untuk menyambut Ramadan, tradisi ini disebut Meugang. Tradisi ini biasa dirayakan sebelum memulai puasa saat Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha, dengan makan daging. Inti dari kegiatan meugang ini adalah bersama-sama makan daging yang telah dimasak dengan berbagai variasi resep. Masakan daging ini berbeda-beda sesuai dengan khas daerahnya sendiri di Aceh. Meugang juga dimanfaatkan sebagai momentum untuk bersedekah kepada janda dan anak yatim serta fakir miskin. Seluruh lapisan masyarakat Aceh, baik di desa atau kota, merayakan tradisi ini. Pada saat meugang, biasanya sanak saudara dan keluarga yang merantau akan pulang dan berkumpul bersama untuk merayakan tradisi ini dan melakukan silaturahmi.

MeugangMeugang/ Foto: Kabar24

5. Dugderan (Jawa Tengah)

Warga Jawa Tengah, khususnya Semarang, menyambut bulan Ramadan dengan tradisi Dugderan. Dugderan dilaksanakan selama seminggu sebelum Ramadan dengan diadakan pasar kaget. Tradisi ini merupakan sebuah pesta rakyat yang seringkali dimeriahkan dengan mercon dan kembang api. Kata "dug" dari Dugderan berasal dari bunyi beduk yang ditabuh, sedangkan "der" adalah suara dari mercon menandakan memasuki bulan puasa.

Dugderan juga menjadi ajang mempererat silaturahmi masyarakat Semarang. Pedagang akan menjual berbagai minuman, makanan, dan mainan tradisional dalam pesta rakyat yang diselenggarakan. Kemeriahan Dugderan juga semakin diperkaya dengan ikon Warak Ngendok. Warak Ngendok menjadi simbol dari keberagaman etnis di Kota Semarang dan sekitarnya saat itu. Hal ini dikarenakan Warak Ngendok memiliki kepala berbentuk naga yang merupakan ciri khas etnis Tionghoa.

Kemudian simbol etnis Arab ditandai dengan tubuh yang mirip unta. Kaki menyerupai kambing sebagai simbol yang menunjukkan etnis Jawa. Berbeda dari dua tahun sebelumnya selama pandemi, tradisi Dugderan di Semarang tahun 2022 ini akan digelar secara terbuka dan kembali dimeriahkan dengan pawai.

DugderanDugderan/ Foto: CNN Indonesia

[Gambas:Audio CXO]



(SAS/DIR)