Interest | Art & Culture

Perkenalan Dengan: Paerstud

Selasa, 12 Apr 2022 16:00 WIB
Perkenalan Dengan: Paerstud
Jakarta -

Seni tidak akan pernah mati. Keberadaannya mampu menyebar ke segala lini kehidupan. Tidak terkecuali pada event balap kelas dunia, MotoGP Mandalika. Pada tulisan kali ini, CXO Media berkesempatan untuk berkenalan dengan Paerstud, sebuah studio seni kreatif asal Pulau Lombok yang konsisten memproduksi karya visual, grafis dan ilustrasi, yang juga ambil bagian pada kesuksesan ajang MotoGP yang digelar di Sirkuit Mandalika.

Perhelatan MotoGP di Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok, telah sukses terlaksana berkat sinergi dari banyak pihak. Mulai dari pihak penyelenggara, pemerintah dan masyarakat setempat, hingga komunitas-komunitas seni kreatif yang turut dilibatkan. Sirkuit teranyar kebanggaan Indonesia tersebut memang patut dipuji keindahannya. Selain memiliki bentang alam yang menakjubkan, sisi lintasan yang dihias motif Sasak juga menjadi sorotan. Tidak berhenti di sana, dua tunnel penghubung sirkuit, yakni tunnel utara dan selatan, tidak kalah mendapat perhatian.

Kolaborasi ciamik dari seniman-seniman Indonesia, berhasil membuat Mandalika kian tampil mempesona. Di tunnel sebelah utara, duet seniman top Tanah Air, Darbotz dan Stereoflow sukses menyulap dinding tunnel menjadi spot estetis nan Instagramable. Sementara di bagian selatan, kelompok seniman asli Lombok yang direpresentasikan oleh Paerstud, bahu-membahu mempercantik terowongan yang dilalui para pengunjung Sirkuit Mandalika.

.Mandalika International Circuit - South Tunnel/Foto: Instagram.com/Paerstud

Serikat Rancang Grafis dengan Citarasa Nusantara

Nama Paerstud, mungkin belum begitu akrab di telinga kebanyakan orang. Namun tampaknya, berkat karya brilian mereka di tunnel selatan Sirkuit Mandalika, bukan tidak mungkin kelompok yang menyebut diri mereka sebagai "Serikat Rancang Grafis dengan Citarasa Nusantara" itu akan dikenal khalayak luas.

"Keterlibatan kami berawal dari undangan Bima Chris dari Tim Gardu House & Mahavisual, yang mengajak kami, berkolaborasi bersama mengerjakan project 'Mandalika Art Tunnel' di Sirkuit Mandalika," kata Baron, salah satu member Paerstud kepada CXO Media.

Lewat kreativitasnya, Paerstud menghadirkan serangkaian gambar menakjubkan di tunnel selatan. Mulai dari gambar Burung Garuda yang seakan melesat ke suatu ke arah yang lebih cemerlang, juga suatu objek entitas kultural masyarakat Lombok, Terune atau laki-laki yang memainkan gendang Beleq dan Dedare atau perempuan yang menyuguhkan kocor tembikar berisi air bersih.

.Mandalika International Circuit - South Tunnel Mural/Foto: Instagram.com/Paerstud

Menurut laporan yang diungkap oleh tim besar project "Mandalika Art Tunnel", karya seni di kedua terowongan yang mengarah langsung ke sirkuit tersebut digarap selama sekitar 14 hari oleh total 50 seniman.

Kemudian, Baron juga menjelaskan, "Untuk project Mandalika Art Tunnel sendiri, kami [Paerstud] mengajak sekitar 20 orang teman-teman local artist untuk bersama-sama mengeksekusi karya ini. Di mana, peran masing-masing tim dikolaborasikan dengan saling mengisi peran satu sama lain, sebagaimana inti dari konsep karya ini, yaitu tentang 'Besiru'. Artinya gotong-royong, diambil dari bahasa daerah masyarakat suku Sasak di Lombok," tutur Baron.

.Paerstud Mandalika Crew/Foto: Riz Afrialldi

Seperti yang kita ketahui, Indonesia memang kaya akan keragaman budaya. Oleh karena itu, lewat karya yang   salah satunya   dituangkan Paerstud di dinding tunnel selatan Mandalika, dunia agaknya semakin sadar bahwa kemenawanan Indonesia begitu beragam rupa.

Unit Pengkarya Asal Nusantara

Sebagai sebuah kelompok seni, Paerstud sendiri mengaku tidak membatasi kekaryaannya pada suatu aliran atau pakem tertentu. "Sejauh ini aktivitas kekaryaan kami di studio tidak berhenti pada satu aliran sebagaimana dengan bidang disiplin yang kami kerjakan sifatnya dinamis. Namun secara praktik kerja di lapangan, kami memiliki gaya visual yang banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai filosofis di Nusantara dibalut dengan kombinasi goresan urban kontemporer untuk mewakili zaman," lanjut Baron.

Paerstud merupakan sebuah unit pengkarya yang bergerak di ranah visual art & design. "Kami berisikan 7 personel dengan latar keberagaman budaya yang berbeda di Nusantara. Ada Altha Rivan (Creative Director), saya sendiri (Baron) selaku Art Director, Ade (Studio Manager), Dany (Illustrator & Graphic Designer), Aan (Illustrator), Eva Purnama (Copywriter) dan Wayan (Project Executor)," jelas Baron.

"Paerstud lahir di tahun 2016, dari garasi usang di pulau indah bernama Lombok," tambahnya. Kemudian, ia juga menjelaskan mengenai makna filosofis dari nama Paerstud. "Paerstud berasal dari kata 'Paer', yang dalam bahasa Sasak berarti tanah yang subur. Sedangkan 'stud', diambil dari bahasa Inggris yang berarti studio. Kami berdiri di atas etos kerja kreatif, di mana seni dan industri saling bersinggungan," tuturnya.

.Paerstud/Foto: Instagram.com/Paerstud

Selama keberadaannya, Paerstud mencoba mengisi kekosongan skena seni visual di Pulau Lombok. "Kami di studio, ingin agar apa yang selama ini kami kerjakan lewat bidang visual art bisa lebih diapresiasi secara konkrit oleh lebih banyak pihak terutama di Lombok," ungkap Baron. Ia juga meneruskan, "Harapannya, semoga turut berdampak positif tidak hanya untuk rekan-rekan dari komunitas kreatif, namun juga lintas bidang."

Sepanjang kiprahnya, Paerstud fokus menggarap beberapa lini yang bersentuhan dengan nilai kesenian. Mulai dari lini visual art, design, brand consultant & creative direction untuk kebutuhan industri/komersial. Salah satu yang teranyar, Paerstud baru saja berkolaborasi dengan Uniqlo Indonesia yang tahun ini resmi melapak di Lombok.

Untuk ke depannya, Paerstud mencoba untuk terus berkembang. Baron mengungkap, "Kebetulan kami belum menggelar pameran tunggal as a studio, namun anggota tim kami sudah pernah terlibat beberapa kali dalam pameran bersama baik di Lombok ataupun di luar daerah. As a studio, agenda kami yang paling dekat adalah mencoba platform atau medium baru seperti NFT Art."

Paerstud muncul sebagai sebuah studio seni kreatif dari bagian tengah Indonesia, yang mustahil tidak diakui kecemerlangannya. Di antara dominasi seniman dari daerah lain di luar Lombok, kekaryaan yang diciptakan Paerstud sedikit banyak memberi harapan baru bagi seniman lain di daerah mereka. "Kami berharap, dengan apa yang kami bangun, bisa menjadi medium untuk mengumandangkan visi di studio ke rekan-rekan yang lain. Yaitu, berbarengan membangun ekosistem kreatif khususnya di Lombok, dengan semangat kolektif dan memberikan lebih banyak ruang untuk berekspresi," tutup Baron.

[Gambas:Audio CXO]



(RIA/MEL)