Interest | Wellness

Mengenal Stiff-Person Syndrome yang Dialami Celine Dion

Selasa, 13 Dec 2022 13:56 WIB
Mengenal Stiff-Person Syndrome yang Dialami Celine Dion
Foto: Edward Berthelot
Jakarta -

Diva internasional, Celine Dion beberapa hari yang lalu mengunggah beberapa video yang sedang menjelaskan perihal kesehatannya. "I've been dealing with problems with my health for a long time, and it's been really difficult for me to face these challenges and to talk about everything that I've been going through...It hurts me to tell you that I won't be ready to restart my tour in Europe in February," tulis Celine Dion pada akun Instagram pribadinya.

Pada video tersebut, Celine Dion mengumumkan bahwa ia selama ini mengalami masalah kesehatan yang dikenal dengan Stiff-person Syndrome (SPS) yang merupakan sebuah kondisi kesehatan yang langka dan melibatkan sistem saraf pada manusia. Celine Dion yang mengaku mengalami beberapa kesulitan dalam menjalani kehidupan sehari-hari secara resmi akan mengundur konsernya pada tahun 2023 hingga 2024.

Kondisi kesehatan yang satu ini memang sangat langka, sehingga tidak heran apabila mayoritas orang yang mendapatkan kabar menyedihkan dari Celine Dion ini tidak mengenal sama sekali apa itu yang dimaksud dengan Stiff-person Syndrome atau SPS. Lalu, apa saja penyebab dan gejala Stiff-person Syndrome yang dialami Celine Dion, ini?

Penyakit langka yang menyerang sistem saraf ini biasa dikenali dari rasa kaku pada otot yang parah, serta seringkali kambuh ketika mengalami stress atau kondisi emosional yang tidak stabil. Biasanya, gejala otot kaku ini dialami pada bagian tubuh, lengan, dan kaki. Bahkan, SPS juga memengaruhi kesensitifan seseorang untuk menjadi lebih peka terhadap kebisingan, sentuhan dan tekanan emosional yang berujung memicu kejang otot. Kekejangan otot ini pun dapat membuat orang-orang yang mengalaminya menjadi sering jatuh begitu saja layaknya 'wooden man'.

Seiring waktu orang dengan SPS dapat mengembangkan postur tubuh yang tidak normal seperti tubuh yang cenderung membungkuk. Beberapa orang mungkin mengalami kesulitan tinggi untuk berjalan atau bergerak. Banyak penderita yang sering jatuh karena mereka tidak memiliki refleks yang mumpuni layaknya orang normal. Hal ini pun dapat menyebabkan cedera serius. Tidak hanya itu, penderita SPS juga memiliki kecenderungan untuk takut keluar rumah karena suara bising dari lingkungan, seperti suara klakson mobil yang bisa memicu kejang dan jatuh.

Meskipun para ilmuwan belum banyak yang memahami penyebab SPS secara jelas, beberapa penelitian menunjukkan bahwa penyakit ini merupakan sebuah respons dari masalah autoimun. Beberapa kondisi autoimun dan kanker seringkali dikaitkan dengan tingginya risiko SPS. Kondisi kesehatan seperti diabetes, thyroiditis, vitiligo, kanker payudara, kanker tiroid, kanker paru-paru, dan kanker usus. Layaknya masalah autoimun lainnya, kondisi SPS ini lebih sering dialami oleh wanita daripada pria.

Untuk pengobatannya, masih belum ditemukan hingga saat ini. Sehingga, dokter hanya akan berfokus pada penanganan gejala dan nyeri yang dirasakan. Otot-otot yang kaku dan kejang yang dialami dapat diobati dengan pelemas otot atau suntikan botox. Namun, apabila gejala kejang dan kaku otot sudah masuk ke kategori parah, maka dokter akan memberikan pengobatan seperti imuno terapi dan imunosupresan.

Meskipun kaku otot dan kejang bisa saja menjadi sebuah kondisi kesehatan yang dialami oleh banyak orang pada saat-saat tertentu, untuk mengatakan seseorang memiliki SPS perlu dilakukan banyak pendekatan khusus oleh para ahli. Namun, apabila memang gejala utama seperti kejang dan kaku otot seringkali dialami dan mengganggu kehidupan sehari-hari, maka penting untuk mengonsultasikannya langsung kepada dokter.

[Gambas:Audio CXO]

(DIP/DIR)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS