Interest | Wellness

Perbedaan STI dan STD yang Mungkin Tidak Kamu Ketahui

Rabu, 21 Sep 2022 18:00 WIB
Perbedaan STI dan STD yang Mungkin Tidak Kamu Ketahui
Foto: Freepik
Jakarta -

Tahukah kamu, bahwa pada usia 25 tahun, satu dari dua orang Amerika Serikat tertular Sexually Transmitted Infections (STI). Bahkan pada tahun 2017, terdapat 2.295.739 kasus diagnosis Sexually Transmitted Disease (STD) yang dilaporkan. Istilah STI dan STD ini mungkin kerap didengar oleh masyarakat. Meskipun demikian, tidak jarang pula orang-orang yang masih belum bisa membedakan keduanya. Lalu, apa sih yang membedakan keduanya?

Perbedaan pertama antara STD dan STI adalah pada namanya. STD adalah singkatan dari Sexually Transmitted Disease atau penyakit menular seksual, sedangkan STI berarti Sexually Transmitted Infections atau infeksi menular seksual. STD adalah penyakit yang diakibatkan oleh STI karena semua STD dimulai dari infeksi. Patogen, yang merupakan organisme penyebab penyakit seperti virus dan bakteri, masuk ke dalam tubuh dan mulai berkembang biak. Lalu, ketika patogen ini mengganggu fungsi tubuh normal, mereka menghasilkan penyakit.

.Ilustrasi STD/ Foto: Freepik

Penting untuk dicatat bahwa beberapa STI mungkin tidak berkembang menjadi penyakit atau STD. Misalnya, sebagian besar kasus human papillomavirus (HPV) hilang dengan sendirinya tanpa menimbulkan masalah kesehatan. Namun, HPV dapat menghasilkan kutil kelamin atau kanker serviks, yang tetap merupakan sebuah bentuk penyakit.

Pada awalnya, pihak medis tidak memiliki istilah untuk infeksi seksual yang sering menjadi sebuah jembatan seseorang untuk memiliki STD. Meskipun demikian, STI akhirnya diperkenalkan karena terdapat banyak bentuk infeksi seksual yang tidak selamanya selalu berkembang menjadi sebuah penyakit. Alasan lain yang diberikan untuk adanya perbedaan ini adalah bahwa beberapa orang berpikir bahwa STI mempengaruhi stigma yang lebih sedikit daripada STD.

STI itu sendiri adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri, virus, atau parasit. Mereka biasanya ditularkan selama aktivitas seksual melalui pertukaran cairan tubuh atau kontak kulit ke kulit di mana infeksi tersebut aktif. Aktivitas non-seksual di mana terdapat pertukaran cairan tubuh juga dapat menularkan STI. Misalnya, orang yang menggunakan jarum suntik yang sama dengan penderita human immunodeficiency virus (HIV) dapat tertular penyakit ini. Lalu bagaimana caranya kita mengetahui apakah kita terjangkit STI atau STD?

.Ilustrasi pria dan perempuan terkena STI atau STD/ Foto: Freepik

Gejala yang Harus Diwaspadai

Gejala bisa memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, atau bahkan bertahun-tahun untuk muncul. Itulah sebabnya mengapa penting bagi kita untuk sering melakukan tes kesehatan, terutama kesehatan organ vital. Ditambah lagi apabila kamu memang aktif dalam berhubungan seksual.

Inilah gejala yang harus diwaspadai:

  • Benjolan, luka, atau ruam di dalam atau di sekitar alat kelamin, anus, bokong, atau paha
  • Perubahan warna, bau atau banyaknya keputihan
  • Perdarahan vagina yang tidak biasa atau bercak di antara menstruasi atau setelah berhubungan seksual
  • Buang air kecil terasa sakit atau adanya sensasi terbakar
  • Rasa sakit selama penetrasi vagina
  • Nyeri panggul
  • Testis yang sakit atau bengkak
  • Kesemutan atau gatal di sekitar alat kelamin
  • Pembengkakan dan nyeri kelenjar getah bening, terutama di selangkangan dan leher
  • Terdapat ruam pada genital atau anal

Ada beberapa tes yang dapat diberikan oleh penyedia layanan kesehatan untuk menentukan jenis STI yang dimiliki. Jangan mencoba mendiagnosis sendiri atau mengobati diri sendiri untuk STI atau STD dengan menggunakan obat-obatan tanpa resep. Selalu konsultasikan dengan penyedia layanan kesehatan jika kamu mengalami gejala yang sudah disebutkan di atas.

[Gambas:Audio CXO]

(DIP/DIR)