Insight | Science

AI Diprediksi Kuasai Masa Depan, Bagaimana dengan Manusia?

Selasa, 20 Dec 2022 13:25 WIB
AI Diprediksi Kuasai Masa Depan, Bagaimana dengan Manusia?
Jakarta -

Tanpa disadari banyak orang, setiap hari kecerdasaan buatan atau Artificial Intelligence telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari. Bahkan kita sendiri telah bergantung kepada mesin ini selama beberapa dekade ke belakang. Sebut saja baru-baru ini kehadiran ChatGPT, sebuah chatbot yang dikembangkan OpenAI yang menghebohkan.

Bagaimana tidak, mereka mampu menghasilkan teks dengan berbagai format dan membuat kreativitas menulis yang biasa dilakukan oleh manusia terasa mudah dilakukan dengan bantuan ChatGPT ini. Melansir Pew Research, para ahli memperkirakan kecerdasan buatan jaringan akan memperkuat efektivitas manusia, tetapi juga akan mengancam berbagai sektor, mulai dari otonomi, agensi, dan kemampuan manusia.

Ilmuwan pun memprediksi kemungkinan komputer akan menyamai atau bahkan melampaui kecerdasan dan kemampuan manusia pada tugas-tugas dasar seperti pengambilan keputusan rumit, penalaran pembelajaran, analitik dan pengenalan pola; ketajaman visual, pengenalan ucapan, dan terjemahan bahasa.

Namun hadirnya kemudahan-kemudahan ini, menimbulkan pertanyaan besar. Ketika AI telah menguasai masa depan, lantas apa yang akan dilakukan manusia?

Unsur Manusia Terancam Punah

Sebagian besar ahli sebenarnya menyatakan keprihatinan dampak jangka panjang yang bakal ditimbulkan oleh kecerdasan buatan ini yakni mengancam unsur-unsur penting manusia. Seperti di masa depan manusia bisa saja kehilangan kendali atas hidup mereka sendiri, terjadi penyalahgunaan data untuk menjalankan kekuasaan, sampai kehilangan pekerjaan karena banyak perusahaan mengandalkan mesin sebab lebih murah membayar mesin dibanding manusia.

AI bisa belajar untuk mengoptimalkan dirinya sendiri dan semakin kuantitatif atau semakin objektifnya pekerjaan itu--seperti memisahkan barang-barang ke dalam tempat sampah, mencuci piring, memetik buah dan menjawab panggilan layanan pelanggan--5 atau 15 tahun dari sekarang bisa digantikan AI.

Pada skala yang jauh lebih besar, AI siap memberikan dampak besar pada keberlanjutan, perubahan iklim, dan masalah lingkungan. AI diproyeksikan mempunyai dampak yang bertahan lama di hampir setiap industri yang dulunya banyak dilakukan manusia yakni 60 persen bisnis diperkirakan akan beralih pada AI.

Nasib Manusia di Masa Depan

Dilansir Built In, beberapa tokoh AI terkemuka memprediksi mimpi buruk yang melibatkan apa yang dikenal sebagai 'singularitas', yakni kondisi di mana mesin super cerdas mengambil alih dan mengubah keberadaan manusia secara permanen melalui perbudakan atau pemberantasan.

Stephen Hawking pernah mengatakan jika AI sendiri mulai merancang AI yang lebih baik daripada pemrograman manusia. Hasilnya bisa jadi "mesin yang kecerdasannya melebihi kecerdasan manusia dan manusia hanya sekadar siput". Gyongyosi dari IFM, tidak mengkhawatirkan prediksi AI. Pada titik tertentu, katanya, manusia tidak perlu lagi melatih sistem sebab mereka akan belajar dan berkembang sendiri.

"Menurut saya metode yang kita gunakan saat ini, di area ini, tidak akan menghasilkan mesin yang memutuskan untuk 'membunuh' kita. Saya pikir, mungkin lima atau 10 tahun dari sekarang, saya harus mengevaluasi kembali pertanyaan ini karena kita akan memiliki metode berbeda yang tersedia dan dengan cara yang berbeda untuk melakukan hal ini," ujarnya.

Meskipun kecerdasan manusia hari ini terus bersaing dengan AI dari segi kehidupan dan pekerjaan, tapi tetap saja sepintar apapun AI diciptakan oleh manusia itu sendiri atau AI yang menciptakan dirinya lebih dari manusia, unsur-unsur kemanusiaan yang tercipta dari Sang Pencipta sebenarnya yakni Tuhan tak akan tergantikan oleh apapun. Ya, AI tidak akan pernah memiliki jiwa dan emosi seperti manusia.

[Gambas:Audio CXO]

(DIR/alm)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS