Insight | Science

Riset: Rapat Daring Tanpa Jeda Menurunkan Kinerja Otak

Senin, 12 Dec 2022 12:39 WIB
Riset: Rapat Daring Tanpa Jeda Menurunkan Kinerja Otak
Jakarta -

Salah satu dampak pandemi yang hingga sekarang masih bisa dirasakan adalah bagaimana peristiwa ini mengubah cara kita bekerja. Selama hampir dua tahun, para pekerja terpaksa bekerja dari rumah dan semua komunikasi dilakukan secara daring. Pun ketika pandemi sudah mereda, nyatanya banyak perusahaan yang tetap memberlakukan remote working atau hybrid bagi para karyawan. Meski membuat kerja menjadi lebih fleksibel, tapi tren ini menimbulkan masalah baru, yaitu meeting fatigue.

Meeting fatigue adalah kondisi lelah atau stres yang ditimbulkan dari mengikuti rapat daring. Berhubung semua komunikasi dilakukan secara jarak jauh, otomatis jumlah rapat pun bertambah. Bahkan tak jarang para pekerja harus mengikuti rapat daring secara berturut-turut, berpindah dari room satu ke room lainnya tanpa ada jeda untuk makan, minum, atau mengistirahatkan diri. Selain tak baik bagi kesehatan mental, ternyata rapat daring dengan intensitas tinggi seperti ini bisa berdampak buruk bagi otak.

Penelitian Membuktikan Otak Perlu Istirahat

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Microsoft membuktikan bahwa rapat daring tanpa jeda bisa membuat otak mengalami stres. Dalam penelitian ini, 14 orang partisipan diminta untuk mengikuti rapat daring sambil menggunakan EEG agar aktivitas otak mereka bisa dipantau. Di hari pertama, para partisipan mengikuti 4 sesi rapat daring-yang masing-masing berdurasi setengah jam-secara berturut-turut tanpa ada jeda. Di hari yang lain, mereka diminta untuk mengikuti rapat dengan durasi dan jumlah sesi yang sama namun dengan jeda 10 menit di antara setiap sesi. Berdasarkan penelitian ini, ada 3 temuan utama yang didapatkan:

1. Rapat tanpa jeda bisa menurunkan kemampuan untuk fokus

Ketika peserta rapat diberi waktu istirahat, pola gelombang otak menunjukkan level yang positif di frontal alpha asymmetry yang berkaitan dengan meningkatnya partisipasi ketika rapat berlangsung. Sebaliknya, ketika tidak diberi waktu istirahat, levelnya negatif, menunjukkan peserta tidak fokus dan tidak partisipatif dalam rapat.

2. Level stres lebih tinggi di masa transisi antara rapat

Ketika para peserta tidak diberi waktu untuk beristirahat di sela-sela rapat, level stres paling tinggi ditemukan pada masa transisi dari satu rapat ke rapat lainnya. Rasa stres ini timbul karena para peserta tahu mereka harus segera mengikuti rapat lainnya setelah baru saja selesai dari rapat sebelumnya. Hal ini membuat otak sangat kelelahan, karena tidak diberi waktu untuk reset.

3. Istirahat di sela-sela rapat bisa menurunkan stres

Ketika otak dipaksa untuk bekerja tanpa henti tanpa ada istirahat, stres yang dirasakan akan terus meningkat. Istirahat atau waktu jeda berfungsi agar otak bisa melakukan reset, dan peserta bisa merasa lebih segar dan rileks ketika rapat berikutnya dimulai. Dengan begitu, rasa stres bisa dicegah agar tidak terakumulasi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa meski intensitas rapat daring yang tinggi beresiko membuat otak dilanda stres, ada solusi sederhana untuk mengatasinya: menerapkan istirahat di sela-sela rapat, meski hanya sebentar. Tak hanya mengurangi stres, menerapkan istirahat juga bisa membantu untuk bekerja dengan lebih maksimal. Teruntuk perusahaan yang menerapkan remote working, saran ini penting untuk diperhatikan dan diterapkan agar para pekerja tidak mengalami burnout.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/alm)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS