Insight | Science

Mengapa Kucing Bisa Merajai Internet?

Kamis, 01 Dec 2022 19:30 WIB
Mengapa Kucing Bisa Merajai Internet?
Jakarta -

Kata orang-orang, kucing bukanlah hewan peliharaan, kucing adalah majikan manusia. Tak hanya di rumah, di internet pun orang-orang menghabiskan waktunya untuk "menghamba" kepada konten kucing; entah itu kucing yang sedang goler-goleran, kucing yang sedang merengut, kucing yang sedang ndusel-ndusel, atau kucing yang tertangkap basah memporak-porandakan rumah. Entah mengapa, meski kucing tidak memiliki predikat sebagai "sahabat manusia" layaknya anjing, hewan ini mampu membuat kita semua bertekuk lutut.

Di internet, kucing adalah selebriti. Macam-macam konten mulai dari video, foto, atau meme, membanjiri media sosial setiap harinya. Sehingga tak berlebihan apabila hewan berbulu yang lebih sering disebut meng oleh warganet ini disebut sebagai ikon, bahkan Thought Catalog pernah menobatkan kucing sebagai "unofficial mascot of the internet". Buktinya, akun Grumpy Cat—kucing berwarna coklat muda dengan wajah pemarah—memiliki 1,5 juta follower setia di Twitter. Akun-akun bot menfess pun banyak yang didedikasikan untuk kucing, di mana para sender-nya mengomentari berbagai tingkah laku kucing mereka. Salah satunya seperti konten di bawah ini:

Kami mencoba bertanya kepada orang-orang yang terobsesi dengan konten kucing, mengapa mereka menghamba kepada hewan ini. Salah satunya yaitu Destya yang memelihara 7 kucing di rumahnya, ia merasa kucing bagaikan sosok adik ketimbang hewan peliharaan. "Gue punya kucing di rumah dan kucing itu menurut gue uhhhh gitu, gemas banget", ujarnya. Sama halnya seperti Dian, ia juga memelihara kucing di rumahnya dan menganggap kucing sebagai hewan paling menggemaskan di dunia "Kucing tuh lucu banget minta dipencet," ujarnya.

Tapi, di luar faktor lucu dan menggemaskan, apakah ada penjelasan ilmiah yang bisa menjawab obsesi warganet terhadap kucing? Sebenarnya, obsesi manusia terhadap kucing bukanlah hal baru. Di budaya Mesir Kuno, kucing dianggap sebagai hewan sakral, bahkan beberapa dewa memiliki wujud berkepala kucing. Tak hanya di Mesir, kucing juga disebutkan dalam mitologi Norwegia, bahkan hewan ini menjadi peliharaan bangsa Viking. Hal ini membuktikan bahwa kucing sejak dulu memang memiliki tempat spesial dalam sejarah manusia. Di era internet, rasa ketertarikan ini semakin bertambah melalui berbagai konten yang mengeksploitasi kucing sebagai hewan menggemaskan.

Dalam sebuah pameran bertajuk How Cats Took Over the Internet yang diselenggarakan di New York, kurator Jason Eppink menjelaskan mengapa kucing bisa berevolusi menjadi raja internet. Menurutnya, hal ini disebabkan karena kucing adalah hewan yang cuek dan tidak sadar kamera—berbeda dengan anjing yang seringkali caper dengan manusia. Selain itu, kucing cenderung lebih mandiri dan misterius dibandingkan anjing. Walhasil, kepribadian yang cuek dan misterius membuat manusia semakin merasa gemas dan penasaran dengan hewan ini. Eppink juga mengatakan bahwa obsesi kita terhadap konten kucing menyerupai perilaku voyeurism karena kucing biasanya tak menyadari manusia-manusia yang sedang menonton mereka—dan hal ini menambah kepuasan kita sebagai penonton. Jadi yang terjadi di sini bukanlah "male gaze", melainkan "human gaze".

Memang, semakin cuek objeknya semakin kita tertarik untuk memperhatikannya dan menggoda-godanya. Sifat alamiah kucing sebagai hewan yang "jual mahal" ini akhirnya menjadi daya tarik utama yang menjadikan kucing sebagai hewan nomor satu di hati banyak orang. Walhasil, kita pun semakin tak bisa menahan obsesi untuk terus membuat dan mengonsumsi konten kucing.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/tim)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS