Insight | Science

Hormonal Acne: Bagaimana Bisa Terjadi dan Cara Mengatasinya

Rabu, 20 Jul 2022 10:00 WIB
Hormonal Acne: Bagaimana Bisa Terjadi dan Cara Mengatasinya
Jakarta -

Ketika menstruasi datang, para wanita kerap mengalami berbagai ketidaknyamanan. Mulai dari sakit kepala, sakit perut, mood swing, hingga muncul jerawat berlebih. Jerawat yang biasa muncul pada masa menstruasi ini biasa juga dikenal dengan hormonal acne karena masalah kulit yang berkembang seperti meningkatnya sebum merupakan sebuah respons terhadap perubahan hormonal, terutama peningkatan androgen seperti testosteron.

Perubahan kulit yang menjadi lebih sensitif terhadap naik dan turunnya hormon dimulai ketika seseorang mengalami pubertas pada umur 15 tahun hingga 35 tahun. Munculnya jerawat ketika mengalami ketidakstabilan hormon ini memengaruhi kelenjar kecil yang disebut dengan sebaceous glands yang membesar ketika masa pubertas. Sebaceous glands ini memproduksi dan mengeluarkan zat berminyak yang disebut sebum.

.Ilustrasi jerawat hormon/ Foto: Freepik

Sebaceous glands atau kelenjar sebaceous ini memiliki reseptor yang dipengaruhi oleh hormon tubuh. Kelenjar sebaceous paling dipengaruhi oleh hormon androgen yang merupakan hormon pria seperti hormon testosteron. Androgen ini meningkatkan produksi sebum selama pubertas pada kedua jenis kelamin. Namun, ketika hormon tidak stabil dan menyebabkan androgen menjadi lebih tinggi maka reseptor pada kelenjar sebaceous akan memproduksi lebih banyak sebum daripada biasanya. Hal ini menyebabkan kulit menjadi lebih berminyak dan rentan berkembang menjadi jerawat.

Pada wanita, menstruasi menyebabkan fluktuasi alami estrogen sehingga hormon menjadi tidak stabil dan akhirnya menyebabkan kulit menjadi lebih sulit untuk dipahami. Biasanya, peningkatan produksi sebum karena ketidakstabilan hormon terjadi selama seminggu sebelum menstruasi dan selama minggu menstruasi. Ketika kadar androgen tinggi meningkatkan produksi sebum berlebih, sebum dapat bergabung dengan sel-sel kulit mati dari dalam pori-pori sehingga menyebabkan penyumbatan. Penyumbatan pori-pori ini dapat menjebak semua sebum berlebih yang diproduksi sehingga dapat berakibat jerawat. Pori-pori yang dipenuhi sebum ini merupakan tempat yang ideal bagi bakteri untuk hidup dan berkembang, terutama P. acnes. Munculnya bakteri dapat memperburuk bahkan menyebabkan peradangan jerawat.

.Ilustrasi jerawat/ Foto: Freepik

Berbeda ketika tidak menstruasi, hormon estrogen wanita yang stabil bekerja untuk menekan tingkat produksi sebum dan aktivasi kelenjar, sehingga kulit tidak terlalu berminyak dan risiko munculnya jerawat pun cukup rendah. Namun hal ini pun kembali lagi ke jenis-jenis kulit yang dimiliki. Biasanya, kulit yang memiliki tipe berminyak akan lebih rentan mengalami hormonal acne ketika menstruasi dibandingkan mereka yang memiliki jenis kulit normal dan kering. Lalu bagaimana cara menangani hormonal acne ini?

Tergantung pada seberapa parah kondisi hormonal acne yang dialami, terdapat beberapa cara untuk menanganinya. Untuk menanganinya kamu dapat melakukan daily cleansing dengan menyeluruh, mengonsumsi birth control pill, mengubah pola makan lebih sehat hingga perawatan kulit seperti laser di klinik kecantikan. Bagi kamu yang sering mengalami hormonal acne, maka penting bagi kamu untuk mulai melakukan perawatan kulit khusus untuk kulit berjerawat agar tidak mengalami kerusakan jaringan dan acne scarring.

[Gambas:Audio CXO]

(DIP/HAL)