Insight | Science

Mengenal dan Mewaspadai 'Adiksi Perilaku'

Jumat, 15 Jul 2022 16:00 WIB
Mengenal dan Mewaspadai 'Adiksi Perilaku'
Jakarta -

Di era ini, kecanduan dan ketergantungan tidak hanya disebabkan oleh cinta dan narkoba. Lebih dari itu, melakukan kebiasaan sehari-hari tanpa adanya kontrol diri ternyata juga termasuk situasi adiktif, yang dikenal dengan sebutan adiksi perilaku.

Layaknya kecanduan yang timbul akibat mengonsumsi zat-zat kimia, adiksi perilaku turut menghadirkan efek buruk bagi tubuh, pikiran, hingga sosial. Bedanya, adiksi satu ini terjadi secara tanpa disadari, dan lebih disebabkan oleh satu atau serangkaian tindakan dalam aktivitas keseharian.

Sebut saja kebiasaan mengoperasikan gawai secara intens; di mana seorang pengguna urung lepas dari smartphone satu menit saja. Hal yang seakan wajar ini ternyata tidak boleh ditolerir begitu saja. Sebab nyatanya, tidak berhenti memantau media sosial, atau terus menuruti ajakan push rank merupakan salah satu contoh adiksi perilaku yang menjerumuskan.

Lebih jauh lagi, membiarkan aktivitas penghiburan secara berlebih juga hanya akan memperparah adiksi perilaku. Seperti halnya kebiasaan menonton film porno sebelum tidur, yang dinormalisir kaum adam dengan alibi: sekadar "mencuci mata".

Padahal, perilaku-perilaku yang diromantisasi tersebut justru mengarah pada efek candu yang tak berbentuk. Hal yang bermula dari buaian penghiburan sekejap ini pun siap meninggalkan perasaan gelisah atau gejala fisik nyata bilamana "ritualnya" belum ditunaikan.

Misalnya dampak pegal-pegal yang dialami pecandu olahraga sebelum berkeringat seperti biasa; hasrat penasaran pecandu judi apabila tak sempat mengadu peruntungan; hingga perasaan mumet ABG perkotaan jika urung pergi healing dan menelan "vitamin sea".

Adiksi perilaku sendiri merupakan penyakit biologis, psikologis, dan sosial. Karena pada prosesnya, adiksi perilaku membuai para pecandu untuk tetap ngotot melaksanakan kegiatan sekalipun mulai mengganggu rutinitas wajib harian, baik bagi diri sendiri atau lingkungan sekitar.

Ditambah lagi, adiksi perilaku juga bisa menghilangkan minat pecandu pada aktivitas bermanfaat lainnya, seiring dengan intensitas adiksi yang terus bertambah. Ketika para pecandu semakin hilang kontrol diri, mereka juga akan mulai memisahkan diri dari lingkup sosialnya karena hanyut di dalam arus kebiasaan semu.

Meski kita   sebagai manusia   hidup dalam siklus yang berulang-ulang, kesadaran dan sikap bertanggung jawab dalam setiap hal kecil yang dilakukan perlu dipegang secara penuh. Hal ini demi menghindari kehilangan kontrol diri, yang pada akhirnya menjerumuskan kita ke dalam hangatnya adiksi perilaku yang bergerak halus "di balik selimut".

Sebagaimana adiksi perilaku: malas berpikir dan malas mencari tahu-yang selama ini dipegang teguh-pemerintah "negeri wkwk", salah satunya dengan tetap kolot menggolongkan tanaman "hijau" bermanfaat sebagai golongan berbahaya tanpa riset ilmiah yang valid dan mendalam terlebih dahulu.

Untuk itu, kita perlu mengenali dan mewaspadai adiksi perilaku pada keseharian kita. Sebab tentunya, kita tidak ingin terjerembap dalam bobroknya adiksi perilaku yang menghanyutkan, bukan?

[Gambas:Audio CXO]



(RIA/HAL)