Insight | Science

Dilema AC: Mendinginkan Ruangan, Meningkatkan Suhu Bumi

Sabtu, 21 May 2022 14:00 WIB
Dilema AC: Mendinginkan Ruangan, Meningkatkan Suhu Bumi
Foto: Unsplash Gritt Zheng
Jakarta -

Setiap harinya, suhu di bumi semakin memanas. Bahkan, beberapa negara seperti India dan Pakistan mengalami fenomena gelombang panas terparah sepanjang sejarah. Dalam kondisi ekstrem ini, tubuh manusia akan sulit untuk bertahan. Untuk menyelamatkan diri dari udara panas, banyak dari kita akhirnya berlindung di ruangan yang memiliki air conditioner atau pendingin ruangan untuk terhindar dari teriknya matahari dan lembapnya udara.

Pendingin ruangan memang telah menjadi salah satu benda elektronik yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Ketergantungan masyarakat terhadap pendingin ruangan sangatlah tinggi, terutama bagi kita yang hidup di negara tropis. Berdasarkan laporan International Energy Agency (IEA), jumlah AC di seluruh dunia mencapai 1,6 miliar unit dan diperkirakan akan melonjak tiga kali lipat selama 30 tahun ke depan.

Ironisnya, penggunaan AC turut berkontribusi terhadap pemanasan global. Menurut laporan yang sama dari IEA, diperkirakan pada tahun 2050 penggunaan AC akan bertanggung jawab atas emisi karbon sebesar 15 persen. Setidaknya ada tiga jenis gas rumah kaca yang berhubungan dengan penggunaan AC, yaitu yaitu klorofluorokarbon (CFC), hidrofluorokarbon (HFC), dan karbondioksida (CO2). CFC atau yang disebut juga sebagai freon merupakan gas buatan yang berfungsi untuk mendinginkan udara dan kemudian melepaskannya ke atmosfer. Namun, satu unit molekul CFC dapat merusak 100.000 unit molekul ozon.

Oleh karena tingkat kerusakannya yang tinggi, pada tahun 1987 dibuat perjanjian internasional berupa Montreal Protocol yang melarang penggunaan CFC. Sebagai alternatif, akhirnya banyak perusahaan AC mengganti CFC dengan hidrofluorokarbon atau HFC yang dinilai lebih ramah lingkungan dari CFC. Namun, meski HFC hanya mewakili porsi kecil dari keseluruhan total emisi, ia tetap masuk ke dalam kategori gas rumah kaca. Pada umumnya, apabila AC yang kita gunakan berfungsi dengan baik, ia tidak akan melepaskan HFC ke atmosfer. HFC hanya akan terlepas ke atmosfer ketika AC dalam proses produksi dan ketika AC yang digunakan mengalami kebocoran.

Mungkin fakta mengenai HFC ini bisa sedikit mengurangi rasa bersalah kita ketika menggunakan AC. Tapi, masalah belum selesai. Pasalnya, penggunaan AC yang begitu besar bertanggung jawab atas naiknya permintaan energi listrik dan berimbas pada emisi gas CO2 yang sangat tinggi. DiĀ Amerika Serikat saja, AC digunakan di lebih dari 100 juta rumah dan menyumbang 100 juta gas CO2 per tahunnya. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik tahun 2017, sebesar 7,98 persen rumah tangga di Indonesia memiliki AC di tempat tinggalnya. Sedangkan penggunaan AC tertinggi berada di wilayah DKI Jakarta, yaitu sebesar 30,8 persen. Jumlah ini belum termasuk gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan yang tentunya menggunakan AC dengan skala yang lebih besar.

Penggunaan AC dalam skala besar membuat kita terjebak di dalam lingkaran setan. Di satu sisi penggunaan AC berdampak besar terhadap emisi karbon, namun di sisi lain pemanasan global meningkatkan ketergantungan kita terhadap penggunaan AC. Adakah jalan keluar?

Salah satu cara untuk keluar dari siklus ini adalah dengan menggunakan AC yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Beberapa perusahaan berencana untuk mengganti HFC dengan hidrofluoroolefin atau HFO yang digadang-gadang lebih ramah lingkungan. Gas HFO bisa terurai dalam waktu beberapa hari, sehingga dinilai tidak akan menyerap panas sebanyak CFC atau HFC. Kemudian, bagi kita yang menggunakan AC harus memiliki kesadaran untuk menghemat energi. Apabila suhu di ruangan tidak terlalu panas dan masih bisa ditoleransi, sebisa mungkin hindari penggunaan AC.

Terakhir, kita memerlukan lebih banyak ruang terbuka hijau yang rindang dan asri. Sebab, besarnya penggunaan AC juga diakibatkan oleh konsentrasi kegiatan masyarakat yang terjadi di dalam gedung. Sementara itu, nyaris tak ada proteksi bagi mereka yang berkegiatan di luar ruangan. Dengan kondisi cuaca yang terik seperti ini, kita sangat membutuhkan ruang-ruang terbuka yang bisa memberikan kesejukan.

Dilema penggunaan AC adalah salah satu contoh kasus yang menunjukkan bahwa pembangunan modern adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, kemajuan teknologi menciptakan inovasi yang bisa memberikan kenyamanan bagi manusia. Tapi di sisi lain, modernitas juga bisa membawa petaka dan membuat kita terjebak dalam siklus yang mematikan. Oleh karena itu, mulai dari sekarang kita harus benar-benar memikirkan bagaimana penggunaan AC sehari-hari berdampak terhadap lingkungan.

[Gambas:Audio CXO]



(ANL/HAL)