Insight | Science

Menguji Keabsahan Animal Communicator

Kamis, 05 May 2022 16:00 WIB
Menguji Keabsahan Animal Communicator
Foto: Pexels Samson Katt
Jakarta -

Animal communicator adalah sebuah profesi yang mulai booming di Indonesia pada tahun 2021. Sederhananya, animal communicator adalah orang yang dapat berkomunikasi dengan hewan dan mengetahui isi hatinya menggunakan metode mind power yang memanfaatkan gelombang alfa pada otak untuk berkomunikasi dengan hewan. Orang-orang yang menggunakan jasa animal communicator umumnya karena hewan peliharaannya hilang, bertingkah aneh, sakit dan lainnya.

Mendengar itu jelas membuat orang skeptis akan keabsahannya karena tidak dapat dijelaskan secara ilmiah. Memangnya bisa? Jika dilihat melalui kacamata dokter hewan, ilmu ini tidak ada dalam sains. Pendekatan ilmiah yang paling mendekati adalah mengenali perilaku hewan. Namun, pendekatan itu tidak bisa memberikan informasi mendetail sampai ke isi hati para hewan seperti yang dilakukan oleh animal communicator. Ditambah lagi, animal communicator diklaim dapat tetap menjalin komunikasi dengan hewan meskipun dalam jarak yang jauh.

Untuk menelusuri lebih dalam, CXO Media berbincang dengan Indira Diandra, pengguna jasa animal communicator. Sama seperti saya, awalnya ia juga skeptis dengan keabsahannya. Namun, ketika kucingnya menghilang, Indira berusaha menemukan keberadaannya melalui metode konvensional, namun tidak membuahkan hasil. Kemudian ia pun meyakinkan diri untuk menggunakan jasa animal communicator. Meski ragu pada awalnya, situasi semakin genting sehingga tidak ada salahnya untuk mencoba opsi ini.

Indira memulai dengan mengontak seorang animal communicator dengan harapan bisa menemukan lokasi kucingnya yang hilang. Namun, karena merasa kurang yakin setelah mendengar hasilnya, ia mencoba menghubungi beberapa animal communicator lain untuk memastikan ketepatan informasi yang diberikan. Mengagetkan, hasil 'cenayangan' merujuk ke titik yang sama. Mendengar itu, ia langsung menyebarkan informasi tentang keberadaan kucingnya di media sosial, dengan harapan di antara teman-temannya ada yang sempat melihat kucingnya di tempat yang dirujukkan oleh animal communicator.

Tak lama menunggu, smartphone-nya berdering. "Indira, gue sempat lewat situ tuh dan kayaknya lihat kucing lo deh," bunyi isi pesan yang datang dari temannya. Mendengar itu, seketika langsung merinding. Setelah terus mencari berdasarkan petunjuk yang diberikan oleh animal communicator dan dikonfirmasi oleh temannya itu, akhirnya ia pun berhasil menemukan kucingnya.

Kisah lain juga datang dari Indira. Suatu saat, anjing peliharaan Indira juga sempat akan menjalani operasi kencing batu. Bagi manusia, menjalani operasi merupakan suatu hal yang umumnya menakutkan. Hal yang sama juga dapat diterapkan kepada hewan. Oleh karena itu, Indira kembali menggunakan jasa animal communicator untuk menyampaikan keluh kesahnya dan mengetahui isi hati si anjing peliharaan. Tanpa menyampaikan keadaan anjingnya, Indira mengirimkan sejumlah pertanyaan yang ingin disampaikan kepada animal communicator melalui WhatsApp. Si animal communicator kemudian meminta Indira untuk mengirimkan foto atau video anjingnya yang sedang menatap ke kamera agar dapat menggunakan mind power dengan ampuh.

Berselang beberapa menit kemudian, animal communicator memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Si animal communicator mengklaim bahwa anjing peliharaan Indira juga mengidap komplikasi lain, seperti penglihatan yang buram, ada benjolan di kepala, dan tidak nyaman di bagian perut. Sesampainya di dokter hewan, Indira pun mengonfirmasi komplikasi tersebut, dan semuanya adalah benar.

Praktik animal communicator memang tidak mudah untuk dipercaya. Berbeda dengan sains, praktik tersebut tidak dapat seutuhnya dijelaskan secara ilmiah dan tidak ada bukti kasat mata. Bahkan dalam asosiasi resmi seperti Persatuan Dokter Hewan Indonesia, tidak sampai 1 persen dari anggotanya yang percaya akan praktik ini, karena ini memang bukan sesuatu yang perlu dibahas dalam bidang ilmiah. Meski demikian, tak jarang juga jasa tersebut membuahkan hasil yang tepat sasaran. Seperti yang disampaikan oleh Dr. drh. Muhammad Munawaroh, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Dokter Hewan Indonesia, "Kalau mau percaya, yo monggo."

[Gambas:Audio CXO]



(HAL)

Author

Handoko Lun