Inspire | Love & Relationship

Terlalu Mencintai Karakter Fiktif, Apakah Sebuah Kelainan Mental?

Rabu, 10 Aug 2022 12:02 WIB
Terlalu Mencintai Karakter Fiktif, Apakah Sebuah Kelainan Mental?
Jakarta -

Jatuh cinta adalah perasaan yang umum dialami oleh siapa saja. Tapi, bagaimana jika sosok yang dicintai tersebut adalah karakter fiktif? Percaya tidak percaya, manusia bisa memiliki ketertarikan romantis ataupun seksual terhadap karakter fiktif, bahkan sampai ada yang menikahinya. Pada tahun 2018, seorang pria di Jepang menikahi karakter kesukaannya yaitu Hatsune Miku. Ia mengaku menikahi Hatsune Miku karena karakter tersebut menyelamatkannya dari kondisi stres akibat perundungan di tempat kerja.

Meski banyak yang merasa heran, tapi nyatanya mencintai karakter fiksi adalah fenomena yang cukup umum. Saya sendiri bisa memahami daya tariknya; menghabiskan waktu membaca novel membuat saya terkadang tenggelam dalam dunia fantasi. Sampai-sampai, saya juga memiliki attachment terhadap karakter-karakternya. Meski tidak sampai mencintai, tapi saya pernah membayangkan skenario ketika karakter fiktif yang saya sukai tersebut hadir di kehidupan nyata.

Fenomena di atas disebut sebagai fictophilia, yaitu ketika kita memiliki rasa cinta atau ketertarikan terhadap karakter fiktif. Fictophilia sendiri tidak terbatas pada perasaan romantis atau ketertarikan seksual, sebab rasa cinta yang muncul juga bisa menyerupai persahabatan. Selain fictophilia, ada juga fictoromance yaitu ketika kita memiliki perasaan romantis terhadap karakter fiktif dan juga fictosexuality yaitu ketika kita tertarik secara seksual terhadap karakter fiktif.

Fictophilia tidak jauh berbeda dengan parasocial relationship, di mana para penggemar menjalin 'hubungan' dengan idol mereka. Baik fictophilia maupun parasocial relationship sama-sama merupakan hubungan satu arah yang bersifat semu. Namun bedanya, hubungan parasocial relationship dibangun berdasarkan sosok idol yang benar-benar ada di kehidupan nyata. Sedangkan kalau fictophilia dibangun berdasarkan tokoh fiktif yang hanya ada dalam buku, film, ataupun komik.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Karhulahti dan Valisalo (2021), fictophilia sendiri belum dikategorikan sebagai kelainan mental yang perlu disembuhkan. Menurut penelitian ini, orang yang mencintai karakter fiktif sebenarnya bisa membedakan antara fiksi dan realitas. Namun di satu sisi kesadaran ini juga menyebabkan ketidaknyamanan karena mereka sadar bahwa karakter yang dicintai tersebut tidak benar-benar ada. Hal ini disebut sebagai fictophilic paradox.

Penelitian di atas juga menggali apa yang membuat orang-orang bisa memiliki ketertarikan terhadap karakter fiksi. Meski jawabannya bermacam-macam, tapi benang merahnya adalah karakter fiktif memiliki karakter kepribadian dan fisik yang lebih superior dibandingkan orang-orang sungguhan. Di dalam dunia fiksi, para karakternya kerap digambarkan memiliki ciri-ciri fisik yang attractive dan mampu melakukan hal-hal yang luar biasa. Di satu sisi, fakta bahwa karakter ini adalah rekaan belaka juga memberikan rasa aman karena audiens tidak akan dikecewakan atau ditolak cintanya—selayaknya mereka dikecewakan atau ditolak oleh manusia di kehidupan nyata.

Meski fictophilia sendiri tidak dikategorikan sebagai kelainan mental, tapi kondisi ini masih diselimuti stigma. Mereka yang mencintai karakter fiktif kerap dianggap aneh, abnormal, dan dijauhi atau ditertawakan. Stigma ini membuat orang-orang yang memiliki fictophilia takut untuk menceritakan kondisi mereka kepada orang lain, sehingga umumnya fictophilia adalah sebuah pengalaman yang hanya bisa dinikmati seorang diri.

Pada akhirnya, fictophilia sendiri adalah fenomena yang menunjukkan bagaimana di era modern ini banyak orang menemukan kenyamanan, keamanan, bahkan cinta, lewat media yang mereka konsumsi. Lewat cerita fiksi, orang-orang menemukan tempat pelarian dari kehidupan sehari-hari yang mungkin terlalu membosankan atau berat untuk dijalani.

[Gambas:Audio CXO]



(ANL/HAL)