Inspire | Love & Relationship

They Don't Talk About: Friends With Benefits

Sabtu, 30 Jul 2022 12:00 WIB
They Don't Talk About: Friends With Benefits
Foto: Amina/Pexels
Jakarta -

Friends with benefits atau FWB merupakan sebuah istilah yang kini sering dibicarakan oleh para Gen Z, baik itu di perbincangan sehari-hari hingga di media sosial. Pasalnya, FWB ini bahkan secara gamblang diperbincangkan ketika mereka membutuhkan atau mencarinya di ruang lingkup media sosial. Secara umum, FWB atau friends with benefits ini adalah sebuah hubungan di mana keduanya tidak memiliki komitmen dan hanya menikmati hubungan intim yang diberikan oleh satu sama lain. Tidak hanya itu, hubungan FWB ini juga tidak dilandasi oleh perasaan romantis dan tanpa ikatan apa pun.

Biasanya, FWB ini sering kali dimiliki oleh orang-orang yang tidak ingin memiliki ikatan serius, komitmen emosional, serta segala kewajiban formal dan informal yang biasa ada di dalam sebuah hubungan romansa. Bahkan, seseorang yang pernah mengalami pengalaman traumatis dari hubungan sebelumnya, baik itu secara emosional maupun fisik, akan mendapatkan manfaat dari hubungan FWB ini tanpa harus mengorbankan atau melawan trauma mereka untuk berkomitmen dengan seseorang. Sehingga, mereka yang melakukan hubungan FWB ini hanya akan mendapatkan kepuasan dari kebutuhan seksual dari partner FWB-nya tanpa harus dilandasi oleh perasaan dan komitmen.

Hubungan friends with benefits ini tentu saja didasarkan oleh persetujuan dari kedua belah pihak, di mana biasanya mereka akan memiliki berbagai aturan yang tidak boleh dilanggar oleh satu sama lain sehingga hubungan FWB ini berjalan dengan lancar. Peraturan seperti jangan sampai ada yang menaruh perasaan hingga tidak melarang satu sama lain untuk memiliki hubungan dengan orang lain. Lalu, bagaimana jika seiring berjalannya hubungan FWB ini menghasilkan bibit-bibit perasaan untuk satu sama lain?

Untuk memberikan perspektif dari seseorang yang pernah menjalani hubungan FWB ini, saya mewawancarai seorang teman yang pernah terjun langsung ke dalam hubungan friends With benefits, sebut saja Marsel. Ketika saya bertanya mengenai awal mula ia menjalani hubungan FWB adalah ketika ia sedang lajang dan tidak sengaja menemukan seseorang yang sama-sama mau untuk menjalani hubungan FWB ini. Namun ketika saya bertanya apa tanggapannya mengenai hubungan friends with benefits ini, ia menjawab, "Menurut gue FWB-an tuh enak saat di awal-awal aja, ketika udah terlalu lama menghabiskan banyak waktu bersama dan salah satunya menaruh perasaan, jujur, itu nggak enak banget karena jadinya gue harus jaga perasaan dia, padahal kan enggak perlu, namanya aja FWB."

Memiliki hubungan FWB memang seharusnya diawali dengan kesepakatan bersama sekaligus peraturan yang membatasi berbagai hal dalam hubungan ini. Karena apabila tidak, hubungan FWB ini tidak akan berjalan seperti yang direncanakan di mana FWB hanya bertujuan untuk saling memenuhi kepuasan seksual saja tanpa harus memiliki perasaan ke satu sama lain. Meskipun menurut para ahli akan sangat sulit bagi seseorang untuk tidak memiliki perasaan kepada partner seksnya. "Perlu dipahami, seks cenderung mengacaukan perasaan. Hal ini karena sebagian fisiologis karena hormon dilepaskan saat berhubungan seks yang membuat Anda terikat dengan partner FWB. Lebih jauh lagi, mungkin akan terlibat secara emosional," ungkap terapis seks Dr. Ian Kerner yang dikutip dari Orami.

Dengan mengetahui risiko yang akan didapatkan dari menjalin hubungan FWB dengan seseorang, maka sebaiknya kamu paham kapan harus memulai dan mengakhirinya. Hal ini dikarenakan tidak sedikit pasangan FWB yang berujung pada hubungan emosional dan komitmen jangka panjang. Bahkan tidak sedikit pula pasangan FWB yang berakhir begitu saja karena salah satunya merasa terikat secara emosional seperti yang dialami oleh Marsel. Akan sulit bagi pihak yang menyimpan perasaan untuk pasangan FWB-nya serta pihak yang tidak memiliki perasaan sama sekali untuk pasangan FWB-nya akan merasa terbebani untuk melanjutkan hubungan ini.

[Gambas:Audio CXO]



(DIP/MEL)