Inspire | Love & Relationship

Broken Heart Syndrome: Kala Patah Hati Mengancam Nyawa

Sabtu, 16 Jul 2022 16:00 WIB
Broken Heart Syndrome: Kala Patah Hati Mengancam Nyawa
Ilustrasi patah hati Foto: Pexels
Jakarta -

Ketika seseorang mengatakan mereka sedang patah hati, umumnya mereka sedang mengekspresikan kondisi emosional yang intens pasca mengalami putus cinta. Memang, putus cinta bisa membuat siapapun merasakan kesedihan yang mendalam hingga kehilangan semangat untuk menjalani hari. Tapi ternyata, patah hati bukanlah metafora belaka. Seseorang benar-benar bisa mengalami "patah hati" yang disebut sebagai takotsubo cardiomyopathy atau broken heart syndrome.

Broken-heart syndrome pertama kali ditemukan di Jepang pada tahun 1990. Melansir dari Harvard Health Publishing, broken heart syndrome adalah kondisi ketika bagian ventrikel kiri dari jantung kita membesar sehingga menghambat proses pemompaan darah. Beberapa gejala yang dirasakan adalah rasa sakit atau sesak di bagian dada, berkeringat, dan pusing. Sekilas, gejala dari broken heart syndrome mungkin terlihat mirip seperti serangan jantung. Akan tetapi, dalam broken heart syndrome tidak ada arteri yang tersumbat seperti yang ditemui dalam kasus serangan jantung.

.Ilustrasi cinta/ Foto: Veectenzy

Kondisi broken-heart syndrome lebih banyak ditemui pada perempuan berusia 50 tahun ke atas. Salah satu penjelasannya adalah karena hormon estrogen yang dimiliki perempuan berfungsi untuk melindungi jantung dari bahaya stres. Namun seiring bertambahnya usia, hormon estrogen juga menurun. Akibatnya, perempuan lebih rentan apabila mengalami stres secara mendadak.

Seperti namanya, putus cinta merupakan penyebab umum dari broken heart syndrome. Tapi, ini bukan penyebab satu-satunya. Broken heart syndrome bisa disebabkan oleh peristiwa apapun yang menimbulkan stres dan trauma baik secara emosional maupun fisik. Stres secara emosional bisa diakibatkan oleh rasa duka karena kematian orang terdekat, menerima kabar buruk, atau timbulnya ketakutan besar terhadap suatu hal. Sedangkan stres secara fisik bisa diakibatkan oleh kondisi medis seperti asthma dan tekanan darah rendah, menjalani operasi, atau mengalami kecelakaan.

.Ilustrasi patah hati/ Foto: Veectenzy

Dalam beberapa kasus, broken-heart syndrome bisa menyebabkan kematian. Namun, angka kemungkinannya sangat kecil yaitu sebesar 1 persen. Sedangkan dalam kasus yang lebih umum, broken heart syndrome menjadi kondisi jangka pendek yang bisa disembuhkan. Beberapa treatment yang bisa dijalani untuk menyembuhkan kondisi ini adalah mengkonsumsi obat untuk jantung, mengkonsumsi obat anti-anxiety, stress management, dan rehabilitasi jantung.

Meski bisa disembuhkan, tapi broken heart syndrome bisa memiliki konsekuensi serius apabila tidak segera ditangani. Melihat putus cinta bisa menjadi penyebab stres yang berkepanjangan, patah hati pun juga tidak bisa dianggap sebagai kondisi sepele. Apabila kamu merasakan gejala-gejala yang menandakan broken heart syndrome, segera temui dokter dan jalani stress management untuk mengurangi kondisi stres yang kamu alami.

[Gambas:Audio CXO]

(ANL/MEL)