Inspire | Love & Relationship

Asal Muasal Berlutut Saat Melamar

Selasa, 03 May 2022 15:00 WIB
Asal Muasal Berlutut Saat Melamar
Foto: Bethany Feer - Pexels
Jakarta -

Bagi banyak orang, lamaran dianggap sebagai aksi romantis yang hanya pernah kita alami saat membaca dongeng. Jika kamu menyadari, lamaran di zaman modern-terutama di dunia Barat   selalu melakukan aksi yang sama, yaitu berlutut di hadapan perempuan dan memberikan cincin. Jika dipikirkan dan diperhatikan, posisi kneeling on one knee ini secara umum sangat unik dan identik dengan proposal. Mengapa demikian, ya? Mengapa melamar seseorang harus dimulai dengan getting down on one knee? Dan mengapa perempuan tidak melakukan ini, hanya pria saja? Apakah ada sejarahnya tersendiri mengenai aksi melamar ini?

Setelah saya mencari tahu lebih lanjut mengenai hal ini, ternyata sebagian besar sejarah lamaran pernikahan (atau niat untuk pertunangan) melibatkan tradisi lama, ide-ide modern, dan pengaruh dari seluruh sejarah Eropa. Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah asal muasal berlutut saat seseorang melamar.

Gagasan berlutut dengan satu lutut sebagai hal yang penting untuk melamar, pada dasarnya tidak diabadikan dan tercatat di dalam sejarah. Tampaknya sebagian besar merupakan penemuan di zaman modern, dengan asal muasal yang tidak begitu jelas. Hal ini dikarenakan pada zaman dahulu, lamaran atau pertunangan yang dilakukan antara bangsawan dan orang kaya, dan itu sering kali dilakukan dengan tujuan bisnis, tanpa adanya "berlutut di depan kekasih". Faktanya, lukisan pertunangan bangsawan dalam sejarah selalu menggambarkan kedua belah pihak berdiri atau duduk; tidak ada berlutut muncul sama sekali.

Salah satu kemungkinan asal usul berlutut untuk pertunangan adalah dalam tradisi di abad pertengahan. Di mana seorang pria dengan latar belakang yang baik pada dasarnya mengabdikan dirinya   lengkap dengan puisi    kepada seorang perempuan bangsawan yang dianggapnya lebih tinggi. Seluruh prinsip dari aksi yang kini populer adalah pria merupakan semacam pelayan bagi perempuan, yang membuatnya memuja perempuan dengan berlutut, secara spiritual dan kiasan. Berlutut mewakili penyerahan diri dan kekaguman terhadap sang puan.

Tetapi berlutut secara umum dalam sejarah Eropa telah menjadi tanda permohonan, kerendahan hati, dan penghambaan. Banyak ilmu ikonografi yang mempelajari doa Kristen yang melibatkan berlutut    mengekspresikan pelayanan kita di hadapan Tuhan. Tidak hanya itu, jika dilansir dari Cosmopolitan, ksatria akan berlutut di depan penguasa tertinggi mereka sebagai tampilan rasa hormat, kepatuhan, dan kesetiaan.

Jadi, dapat dikatakan bahwa ketika seorang pria yang sopan melamar perempuannya, berjanji setia padanya dan menyatakan cintanya yang abadi untuknya, berlutut adalah hal yang wajar untuk dilakukan. Berlutut saat melamar seorang perempuan juga merupakan simbol permintaan untuk menerimanya dan penggambaran penyerahan diri.

[Gambas:Audio CXO]

(DIP/DIR)