Inspire | Love & Relationship

Tidak Selamanya 'Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya'

Senin, 18 Jul 2022 11:44 WIB
Tidak Selamanya 'Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya'
Foto: Miro Alt/Pexels
Jakarta -

Entah saya mesti bersyukur atau mengeluh ketika sampai di rumah, lantaran kepala yang masih ngebul seusai bekerja terpaksa berputar kembali saat ditodong pertanyaan usil dari adik kecil yang sedang menuntaskan tugas hafalan peribahasa dari sekolah.

Katanya, "Buah jatuh tak jauh dari pohonnya... Lah, kalau pohonnya ada di atas bukit, emang buahnya nggak gelinding ke bawah, mas?" Mendengar pertanyaan barusan, saya yang tadinya separuh acuh sontak bingung menjawab. Pendek kata, saya malah tertawa--sambil membatin perasaan separuh senang separuh sebal, karena pertanyaan mendasar tersebut terlontarkan dari mulut 'si bungsu' yang baru seminggu mengenakan seragam putih biru.

Setelah mudah mengiyakan penjelasan basa-basi saya yang penuh fafifu wasweswos soal makna peribahasa yang ramai ditulis di internet itu, perhatian sang "bocil FF" pun lantas teralihkan begitu saja, karena sudah tak kuasa membendung ajakan mabar dari teman sebaya. Sialnya, perkara peribahasa alot barusan justru terus mengiang di kepala saya hingga larut malam. Apalagi belakangan ini, saya sering melihat banyak contoh kejadian yang menunjukkan bahwa terdapat pula buah yang menjauh dari pohon dan menggelinding jauh ke dasar jurang.

Soal Anak yang Tak Mirip Bapak-Emaknya

Secara implisit, hal ini memang bukan soal perangai fisik orang tua dan anak, melainkan menyoroti perbandingan sifat atau perilaku anak yang kontradiktif dengan orang tuanya. Seperti kasus heboh yang belum lama ini mengundang perhatian. Yakni, kelakuan bejat seorang pria dewasa pencabul santriwati di bawah umur; terlepas dari citra alim, agamis dan bijak bapaknya yang seorang kyai. Tentu kejadian ini memuat ironi yang sulit diterima. Apalagi dengan adanya drama perlindungan sang bapak, yang masih berupaya menyelamatkan anaknya, sekalipun pelaku telah dinyatakan bersalah secara hukum.

Agaknya, dari satu kejadian ini saja, kita bisa lebih menyadari kalau buah memang tak selalu jatuh dekat dengan pohonnya. Karena terkadang, ada juga buah yang digondol codot sebelum matang berkembang; atau ada buah sial yang membusuk sendiri dan wajib dienyahkan pemilik pohon demi melindungi batang tumbuhnya.

Sama halnya dengan kelakuan konsumtif seorang anak pengusaha hebat, yang parahnya tidak sedikitpun mencontoh etos kerja, semangat hidup hemat, atau keuletan orang tua--yang membuahkan kesuksesan. Sehingga si buah hati harus diasingkan dari peredaran demi menyelamatkan orang-orang di sekitarnya. Fenomena bak bumi dan langit ini memang bisa kita temui dengan mudah di sekitar kita. Karenanya, setidaknya sampai di titik ini, kita boleh saja menarik kesimpulan sementara yang menyebutkan bahwa kesahihan peribahasa 'buah jatuh tak jauh dari pohonnya' bukanlah hal mutlak yang pasti kejadian.

Pemahaman ini pun sekaligus menganulir privilege dan anggapan "secetakan" yang kadang memberi beban, baik kepada anak atau orang tua itu sendiri. Sebab nyatanya, semua akan bergantung pada masing-masing pribadi dan bukan seperti pola pasti yang selama ini kita khayalkan.

Akan tetapi, klaim asumtif yang saya jabarkan di atas juga tidak sepenuhnya mengandung kebenaran mutlak. Maksud saya, peribahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya juga benar-benar bisa terjadi di antara kita. Misalnya turunan perilaku represif, korup, dan kriminil yang diwarisi 'pemimpin 32 tahun' kepada putra mahkotanya yang juga flamboyan; atau sifat tamak kuasa dari putri bapak bangsa yang kolot menganggap bahwa kelangsungan negara akan hancur jika tiada campur tangan dirinya.

Meskipun begitu, lagi-lagi, pola barusan juga dapat dibantah dengan mudah dengan hobi merusak, mengeksploitasi dan menyia-nyiakan kekayaan alam yang diidap oleh putra-putri pertiwi, di saat orang tuanya begitu pengasih dan maha menyajikan kenikmatan bagi anaknya yang sembrono.

Jadi, akankah kita menjadi buah yang jatuh jauh dari pohonnya? Atau kita adalah buah yang sengaja menjauh dari pohon karena tak mau tertular kebobrokan yang melekat sedari akarnya? Jawabannya kembali ke diri kita masing-masing. Sebab, dengan atau tanpa hibahan citra dari tempat di mana kita bertumbuh, selalu ada kesempatan lain untuk mematangkan diri atau pun sebaliknya.

[Gambas:Audio CXO]



(RIA/DIR)