Inspire | Love & Relationship

Grooming dalam Hubungan Beda Usia

Rabu, 22 Jun 2022 10:00 WIB
Grooming dalam Hubungan Beda Usia
Foto: iStock
Jakarta -

Dulu waktu memasuki masa pra-remaja--tepatnya ketika berumur 12 tahun--saya pernah mengalami kejadian di mana laki-laki dewasa mengekspresikan ketertarikan pada diri saya. Ada yang memuji paras saya, ada yang melontarkan candaan bernada inappropriate, dan ada juga yang mencoba mendekati melalui chat. Sebagai seorang anak baru puber, saya pun meresponsnya karena sebagian dari diri saya merasa senang diperhatikan. Teman-teman saya pun menganggap itu sebagai hal yang lumrah.

Sekarang ketika mengingat kembali memori itu, saya merasa tidak nyaman. Di usia dewasa, saya akhirnya baru bisa mengakui bahwa apa yang mereka lakukan sebetulnya tidak pantas. Hal yang membuat saya tidak nyaman bukan hanya karena perbedaan usia, tapi karena di usia tersebut saya masih belum memiliki kemampuan untuk memproses apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang saya rasakan.

Tentu saja, pengalaman saya tidak bisa dibandingkan dengan mereka yang menjadi korban child grooming dalam hubungan beda usia. Tetapi, apa yang saya alami bisa sedikit menggambarkan mengapa child grooming marak terjadi. Child grooming sendiri adalah ketika orang dewasa berupaya untuk membangun hubungan, kepercayaan, dan ikatan emosional dengan anak atau remaja dengan tujuan untuk memanipulasi dan bahkan mengeksploitasi korban. Ketika masyarakat menormalisasi ketertarikan emosional atau seksual orang dewasa terhadap anak di bawah umur, child grooming bisa dianggap sebagai kewajaran dan bahkan diromantisasi.

Ada yang mengatakan bahwa tidak semua hubungan beda usia bisa dikategorikan sebagai grooming. Sebab, ada beberapa kasus di mana hubungan yang dibangun tetap harmonis meski usia antara keduanya terpaut jauh. Masalahnya, apabila salah satu pihak dalam hubungan berusia di bawah 18 tahun, maka mereka masih dikategorikan sebagai anak-anak. Anak-anak atau remaja yang menjalin hubungan dengan orang dewasa berada di posisi yang lebih rentan. Besar kemungkinannya mereka belum memiliki pemahaman yang yang utuh mengenai hubungan konsensual, dan oleh karenanya rentan untuk dimanipulasi.

Banyak pelaku grooming menggunakan pacaran sebagai dalih atas kekerasan yang mereka lakukan. Pada awalnya, mungkin pelaku akan memperlakukan korban selayaknya pasangan yang mereka kasihi. Mereka bisa memberi puji-pujian yang membuat korban merasa spesial. Misalnya, dengan mengatakan "Kamu lebih dewasa dibanding anak-anak seusiamu". Atau, bisa juga dengan memberi hadiah atau kejutan untuk membuat korban senang. Tapi, semua ini adalah taktik agar korban memiliki keterikatan emosional dengan pelaku. Ketika kepercayaan sudah terbangun dan korban merasa attached dengan pelaku, pelaku bisa dengan mudah mengontrol korban dan mendominasi hubungan.

Sayangnya, grooming masih sering diromantisasi terutama dalam industri hiburan. Salah satu contohnya, dalam film Leon: The Professional. Dalam film ini, karakter Natalie Portman yang masih berusia 12 tahun dikisahkan menjalin hubungan emosional dan seksual dengan laki-laki berusia 40 tahun. Tak lama setelahnya, Natalie menerima fan mail berisi fantasi seksual yang dimiliki seorang pria dewasa mengenai dirinya.

Di Hollywood, hubungan beda usia dianggap sebagai sesuatu yang lazim. Elvis Presley bertemu istrinya ketika ia berumur 25 tahun dan Priscilla berumur 14 tahun, Celine Dion bertemu dengan René Angélil--manajer yang kemudian menjadi suaminya--ketika ia berumur 12 tahun dan Rene berumur 38 tahun. Hubungan pasangan-pasangan ini kerap diromantisasi layaknya kisah cinta dongeng.

Akibatnya, terkadang sulit untuk menarik batas mana hubungan beda usia yang bisa dimaklumi, dan mana yang melibatkan grooming. Tapi yang harus kembali diingat adalah, anak di bawah umur akan selalu berada dalam posisi yang lebih rentan. Oleh karena itu, hubungan beda usia yang melibatkan anak-anak atau remaja tidak seharusnya dinormalisasi apalagi diromantisasi.

[Gambas:Audio CXO]



(ANL/DIR)