Inspire | Love & Relationship

Girl Code: Dengarkan atau Abaikan?

Rabu, 02 Mar 2022 11:00 WIB
Girl Code: Dengarkan atau Abaikan?
Jakarta -

Idiom often referred to by pop culture is 'bros before hoes', but the female equivalent of this saying can go as much like chicks before dicks, queens before peens, ovaries before brovaries, and more. Sejak memasuki masa remaja, terdapat peraturan yang tidak tertulis dalam pertemanan antar perempuan. Hal ini mungkin ramah dikenal dengan girl code.

Secara umum, girl code mencakup aturan yang harusnya dilakukan atau tidak lakukan dalam perkumpulan pertemanan khususnya untuk para perempuan. Girl code itu sendiri seperti ditujukan untuk menunjukkan kesetiakawanan. Peraturannya dapat berupa seperti membela dan membantu satu sama lain.

Misalnya saat seorang perempuan terlihat sedang mengalami masalah di tempat publik; atau saat kita melihat pacar teman kita terlihat berduaan dengan perempuan lain, baiknya kita memberi tahu teman kita. Yang terpenting, girl code merupakan narasi tentang perempuan yang saling mendukung satu sama lain, dibanding saling menjatuhkan. Dengan kata lain, girl code merupakan basic common decency.

Namun, girl code lebih sering dielu-elukan dalam masalah yang bersangkutan dengan percintaan. Girl code paling populer adalah tidak disarankannya untuk mengencani mantan pacar teman kita. Hal ini seringkali dituangkan dalam budaya pop, seperti dalam film chick flick klasik Mean Girls, saat Gretchen mengutarakan beberapa peraturan 'geng' Plastic, dan berseru kepada pemeran utama Cady Heron, "You can't like Aaron Samuels, that's Regina's ex-boyfriend!" Di satu sisi, beberapa film juga menunjukkan konflik yang dapat terjadi jika girl code dilanggar, seperti yang tergambar dalam serial Netflix Emily in Paris dengan Emily yang menyimpan rasa pada Gabriel, pacar dari sahabatnya, Camille.

Jika dilihat lebih lanjut, girl code yang satu ini sebenarnya memiliki sisi negatif meskipun memang intensinya mendorong solidaritas. Aturan tidak tertulis mengenai larangan untuk berpacaran dengan seseorang yang pernah berhubungan dengan teman baik, mendukung gagasan kepemilikan. Hal ini tidak hanya mencabut hak seseorang untuk memutuskan dengan siapa mereka ingin menjalin hubungan, tetapi juga dapat bersifat posesif dan manipulatif. Sure, it would come across as unethical as it may cloud and smear the friendship you have between your girlfriends, but you can't really control who you fall in love, can you?

Tidak hanya itu, hadirnya girl code juga terkadang malah mendorong kompetisi antar perempuan, berakhir pada satu orang yang ujungnya harus mengalah. Dikutip dari Cosmopolitan, kemarahan atau ketidaksukaan terhadap fenomena pelanggaran girl code mungkin saja dikarenakan perasaan yang belum terselesaikan atau rasa yang tersimpan terhadap pemutusan hubungan dengan mantan kekasih, dibandingkan dengan teman yang sedang jujur menyatakan perasaannya kepadamu.

Rather than policing behavior of other women-your bestie to say the least-allow a space for an open, honest, and empathetic conversations about love. After all, a clear communication should exist in good friendships.

[Gambas:Audio CXO]

(HAI/DIR)

Author

Hani Indita