Inspire | Love & Relationship

Mengulik Fenomena Parasocial Relationship

Selasa, 01 Mar 2022 11:59 WIB
Mengulik Fenomena Parasocial Relationship
Jakarta -

Parasocial relationship merupakan situasi yang menggugah perasaan dan ikatan emosional di kalangan penggemar, baik secara positif maupun negatif, ketika melihat aktivitas atau unggahan yang memuat sosok idola mereka di suatu media. Hal ini mungkin disebabkan oleh ketertarikan mendalam para penggemar, yang selama ini memang memantau gerak-gerik idolanya, sehingga menganggap setiap konten bermuatan sang idola di suatu media sebagai sesuatu yang relatable dengan kehidupan mereka.

Pada dasarnya, hubungan ini berlangsung secara sepihak dan berada di ranah yang semu. Namun, fanatisme yang mengakar membuat para penggemar merasa bahwa, setiap unggahan media sang idola adalah pesan personal yang intim dan cukup nyata. Tak jarang, para penggemar bahkan menganggap idola mereka sebagai "pacar online" yang kerap kali membuat hati berbunga-bunga.

Seperti yang dirasakan oleh rekan saya, Indi. Sebagai fans dari artis-artis kenamaan asal negeri ginseng, beberapa kali Indi merasa jika unggahan idolanya adalah moodbooster yang mutakhir. Misalnya, ketika mengalami hari yang buruk, mood Indi yang tadinya jeblok bisa berubah 360 derajat ketika melihat unggahan idolanya yang   secara ajaib   bernada memantik semangat.

Indi juga bercerita, rasa sukanya kepada sosok Kim Tae Hyung, bagaikan gayung bersambut air. "Jadi, pernah beberapa kali gue mimpiin ayang Tae Hyung. Terus habis itu, di hari yang sama, dia tuh pasti ngepost sesuatu gitu di sosmed. Duh, kan gimana gitu rasanya," ungkap Indi dengan antusias.

"Terus yang lebih luar biasanya ya, suatu hari gue pernah iseng nyobain tes MBTI. Terus besoknya, si ayang Tae Hyung tuh juga ngepost tentang MBTI woy! Kan gue kayak yang, 'Oh my God, kayaknya ada telepathy deh, antara gue sama dia.' Rasanya tuh hubungan gue kayak tervalidasi aja gitu," tambah Indi.

Ikatan emosional yang dialami Indi di atas, adalah salah satu bentuk sederhana dari parasocial relationship, di mana perasaan intim hanya dialami secara sepihak oleh Indi (sebagai penggemar). Secara harfiah, parasocial interaction atau parasocial relationship memang berarti hubungan yang berlangsung satu arah, dan pada masa ini, hubungan parasosial dapat dengan mudah ditemukan di sekitar kita, terlebih di kehidupan media sosial.

Istilah hubungan parasosial sendiri, pertama kali disampaikan oleh sosiolog asal Amerika Serikat, Wohl dan Horton. Menurut mereka, sosok idola atau persona yang dimuat media menawarkan keintiman kepada audiens. Melalui daya tarik dari sang idola, audiens yang mengkonsumsi konten sejenis secara teratur akan merasakan jalinan dengan idola atau persona tersebut, layaknya interaksi sosial secara konvensional.

Lebih jauh lagi, sebuah hubungan parasosial mampu berperan sebagai hiburan yang meredakan stress dan penatnya kehidupan, terlebih ketika interaksi sosial yang sesungguhnya terbatas akibat pandemi. Secara tidak langsung, hubungan parasosial dapat dimanfaatkan sebagai coping mechanism, di mana tiap unggahan mengenai idola yang dikonsumsi penggemar, merupakan bahan sebuah pelipur lara sekaligus sumber kebahagiaan.

Selama pandemi, masyarakat memang harus rela berdiam diri dirumah. Situasi seperti ini menjadikan media sebagai saluran utama untuk berekspresi dan mencari kesenangan. Tak ayal, hiburan masyarakat yang bisa timbul dari melihat unggahan para idola kian digandrungi. Apalagi, pesan-pesan yang disampaikan oleh figur media tersebut, seringkali membuat hidup yang hambar menjadi lebih manis.

Pada praktiknya, hal ini turut terfasilitasi oleh media digital yang memiliki tingkat interaktivitas tinggi. Hubungan yang tadinya bergerak satu arah dan berjenjang dari fans kepada idola tersebut, ditunjang oleh fitur-fitur media digital seperti kolom komentar dan direct message. Oleh karena itu, jalinan kedekatan yang selama ini hanya dirasakan para penggemar, otomatis tervalidasi ketika mendapatkan respon balik dari sang idola, meskipun hanya balasan atau reaction singkat.

Secara ajaib, perawakan para idola yang rupawan, karya-karya mereka yang brilian, hingga tutur perilaku bersahabat, terkonversi menjadi sebuah moodbooster yang efektif bagi penggemar. Sejauh yang bisa saya ketahui, hubungan parasosial ini turut membuahkan sikap positif bagi para audiens, sejalan dengan paparan inspirasional yang mereka terima dari sang idola.

Terlepas dari perasaan nyata yang ditimbulkan, semua interaksi ini tetap berada di ruangan semu, yaitu dunia yang virtual. Di kehidupan nyata, interaksi seperti ini sepertinya tetap sulit terjadi, mengingat batasan antara penggemar dan idola memang sulit ditembus. Tak ayal, situasi yang menggairahkan ini seringkali dimaknai para penggemar secara berlebihan. Mereka yang merasa candu atas perhatian idolanya akan semakin intens berinteraksi pada konten media.

Oleh sebab itu, Wohl dan Horton juga menyebut hubungan parasosial, sebagai salah satu bentuk penyimpangan akibat konsumsi media yang berlebihan. Pada sisi lain, hubungan ini dapat menimbulkan perasaan obsesif kepada sang idola. Wujudnya pun terbilang negatif, seperti menunjukan sikap protektif kepada sang idola di media sosial, merasa patah hati 'online', hingga mencoba mengintervensi kehidupan pribadi para idola.

Indi sendiri, sebagai salah satu pengagum aktif figur-figur idola tidak memungkiri terjadinya hal seperti demikian. Namun ia sendiri terbilang sedikit cuek apabila idolanya diserang. "Gue males sih nanggepinnya, karena setiap seleb pasti punya haters dan nggak guna aja wasting my energy on them," jelas Indi. "Tapi kadang gue bisa ngomel-ngomel juga sih, kalo ada suatu tuduhan atau serangan negatif [ke idola gue] yang kayaknya melewati batas, kayak rasistik, atau xenophobic," tambahnya.

Kemudian Indi juga menjelaskan, sebagai penggemar, batasan antara mengagumi seorang idola dan terobsesi perlu digarisbawahi. Meskipun suka, logika juga harus dipergunakan. "Gue sih bisa menyadari ya, kalau mereka [para idola] adalah their own person yang juga punya kehidupan pribadi, jadi meskipun suka, tetap aja gue nggak berhak lah mengintervensi kehidupan pribadi mereka. There's a thin line between love and obsession, loh!" tutupnya.

Pada hubungan parasosial, tidak jarang fanatisme berlebihan penggemar justru berbuah perilaku negatif. Misalnya ketika idola memiliki pasangan di dunia nyata, para penggemar yang merasa tidak "sreg" atau patah hati secara sepihak, terkadang nekat berbuat kelewat batas. Seperti menyerang pribadi kekasih nyata sang idola dengan umpatan yang tidak pantas, hingga merasa berhak menentukan dengan siapa sang idola sebaiknya berhubungan. Hal ini juga dapat mengaburkan fakta apabila seorang idola melakukan kesalahan. Jadi, meskipun terdapat ketertarikan, melihat perilaku seorang idola secara objektif juga diperlukan.

Pada akhirnya, kodrat manusia sebagai makhluk sosial berkembang pula ke ranah virtual, yang menganggap bahwa interaksi melalui media, sama hal nya dengan interaksi nyata. Apabila manusia memandangnya secara bijak, maka memperluas interaksi sosial melalui suatu media akan menjadi keuntungan. Namun jika berlebihan, hal ini bisa memudarkan esensi dari interaksi sosial itu sendiri, yaitu menjalin hubungan baik demi keharmonisan kehidupan bersama.

[Gambas:Audio CXO]



(RIA/MEL)