Inspire | Love & Relationship

Benarkah Kita Memiliki Belahan Jiwa?

Minggu, 27 Feb 2022 15:59 WIB
Benarkah Kita Memiliki Belahan Jiwa?
Jakarta -

Belahan jiwa, atau ramah disebut sebagai soulmate, seringkali dikenalkan melalui budaya pop. Dari lantunan lagu Kahitna, hingga beragam produksi Hollywood seperti Love, Rosie, menancapkan gagasan bahwa setiap orang memiliki pasangan sejiwa.

Menurut kamus Merriam-Webster, belahan jiwa dideskripsikan sebagai seseorang yang sangat cocok ataupun memiliki kemiripan dengan satu orang lain secara kepribadian maupun pendirian. Jika berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat dikatakan dalam logika yang sederhana bahwa belahan jiwa nyata adanya. Karena tentunya, semua orang tidak merasa adanya kecocokan pada setiap orang yang mereka kenal, bukan? Rasa 'klop' muncul hanya terhadap segelintir orang. But of course, I won't finish this article just like that!

Dalam budaya Asia, belahan jiwa dikenal dengan sebutan seperti red string of fate atau red thread di negara Jepang, Korea, dan China. Red string of fate merupakan sebuah legenda masyarakat yang meyakini bahwa setiap orang terhubung dengan pasangannya karena terikat dengan benang merah kasat mata yang mengelilingi jari kelingking. Jika kamu pernah menonton animasi fiksi Jepang, Kimi No Nawa karya Makoto Shinkai, legenda ini mungkin tidak terdengar asing.

.Red String of Fate/ Foto: 123rf

Konsep belahan jiwa dalam sejarah peradaban Yunani kuno dijelaskan melalui peninggalan filsuf Plato, 'The Symposium'. Naskah tersebut menceritakan tentang cikal bakal konsep belahan jiwa. Fisik manusia, saat pertama kali diciptakan, diilustrasikan dengan dua individu dalam satu tubuh, di mana mereka memiliki dua kelamin yang berbeda disertai dengan empat lengan, empat kaki, dan satu kepala yang terdiri dari dua wajah. Merasa terancam dengan keberadaan manusia, Zeus membelah mereka menjadi dua bagian. Hal ini merupakan bentuk hukuman atau kutukan yang dijatuhkan oleh Zeus kepada manusia agar mereka menghabiskan waktu hidupnya untuk mencari belahan jiwanya.

Berangkat dari mitos kutukan tersebut, manusia secara alami memiliki keinginan yang kuat untuk dipertemukan kembali dengan bagian aslinya agar dapat merasa utuh. Kemudian, saat seseorang berhasil bertemu dengan pasangan atau belahan jiwanya, maka akan muncul rasa pemahaman tersembunyi antara individu satu dan yang lain sehingga mereka akan merasakan keserasian yang luar biasa.

Statue of Plato, Greek Philosopher. Pediment of the building of the Academy of Athens in the background, Athens, Greece.Plato/ Foto: Scotto72/Getty Images

Selain peradaban dunia, belahan jiwa juga dijelaskan dalam beberapa kepercayaan, salah satunya adalah kepercayaan Hindu dengan konsep twin flame yang dideskripsikan sebagai cerminan diri sendiri ataupun bagian yang hilang. Ardhanarishvara, seorang dewa yang memiliki setengah badan perempuan, seringkali dijadikan simbol dalam memperkuat konsepsi twin flame karena menandakan bahwa laki-laki dan perempuan tidak dapat dipisahkan. Hal ini serupa dengan mitos Yunani kuno yang telah dijelaskan sebelumnya.

Legenda, mitos, maupun keyakinan mengenai belahan jiwa memiliki versi dan ceritanya tersendiri. Benar atau tidaknya belahan jiwa tidak dapat dibuktikan maupun disangkal secara saintifik, sebab konsep ini secara bersamaan mengusung gagasan bahwa adanya suatu kecerdasan spiritual yang lebih tinggi di alam semesta yang mengatur dan mengendalikan pasangan antara satu jiwa dengan yang lainnya.

Namun, jika dipinjam dari kacamata psikologi, belahan jiwa dapat saja dinyatakan kebenarannya, hanya sedikit berbeda dari pemahaman umum tentang belahan jiwa. Dilansir dari Psychology Today, psikolog Shauna H. Springer menjelaskan, bahwa kita dapat merasakan adanya belahan jiwa karena menjalani hubungan yang mendalam.

.Other Half/ Foto: Kelly Sikkema/Unsplash

Menurutnya, dua orang belum tentu memulai hubungan mereka karena merasa keduanya adalah belahan jiwa. Hal ini berbeda dengan keyakinan umum tentang belahan jiwa yang klaimnya dapat dirasakan secara intuisi sejak awal pertama bertemu. Lagipula, rasa saling percaya dan rasa sayang tidak dibangun dalam satu malam.

Memang benar bahwa seringkali orang menafsirkan instant click yang dirasakan saat pertama kali bertemu dengan orang baru sebagai pertemuan dengan pasangan sejiwanya. Padahal, bisa saja mereka memang hanya sama-sama memiliki minat dan kesukaan yang sejalan sehingga mudah dalam menjalin hubungan yang menyenangkan. They could be your soulmate, but there's a chance they could be not.

.Soulmate/ Foto: Cottonbro/Pexels

Secara pribadi, saya berpendapat bahwa kebenaran soulmate itu sendiri tergantung kepada kepercayaan dan pengalaman masing-masing. Saat seseorang merasakan keserasian yang membuat mereka percaya bahwa individu ataupun hubungan yang mereka miliki tidak dapat tergantikan oleh apa pun, mungkin itulah yang disebut sebagai soulmate. Berangkat dari pernyataan tersebut, seorang belahan jiwa tidak melulu harus soal pasangan asmara, tapi juga dapat berlaku pada hubungan pertemanan. Secara tidak langsung, hal tersebut juga mendukung konsep bahwa belahan jiwa itu belum tentu hanya berjumlah satu.

Mitos atau fakta, jika kamu memiliki seseorang yang sangat berarti di kehidupanmu, tidak usah pikir panjang mengenai bahwa merekalah belahan jiwamu. Selama kamu tetap mempertahankan hubungan yang harmonis, maka rasa utuh ataupun lengkap yang dibawa dari konsep belahan jiwa akan datang dengan sendirinya pada sebuah hubungan yang benar-benar kamu hargai. Lagipula, pada dasarnya, manusia merupakan makhluk yang ingin mencinta dan dicintai.

.Belahan Jiwa/ Foto: Cottonbro/Pexels

[Gambas:Audio CXO]



(HAI/DIR)

Author

Hani Indita