Inspire | Human Stories

Menjadi #DaraTangguh di Antara Belenggu Stigma Perempuan

Jumat, 08 Mar 2024 20:00 WIB
Menjadi #DaraTangguh di Antara Belenggu Stigma Perempuan
Foto: pexels
Jakarta -

Sebagai perempuan yang tinggal di negara dengan mayoritas menganut patriarki, bukan hal mudah untuk saya. Sejak kecil saya dibentuk menjadi seorang perempuan dengan pribadi yang bisa diterima masyarakat. Konstruksi perempuan itu harus feminin telah menjadi makanan sehari-hari yang diajarkan oleh orang tua saya.

Kebetulan saya berasal dari keluarga yang cukup menganut patriarki. Di mana dari kacamata saya, ibu harus selalu melayani ayah, meninggikan derajat ayah, dan wajib menghormati dan menuruti semua kata ayah. Belum lagi, ada aturan tidak tertulis bahwa tidak boleh membantah ayah karena itu sama dengan melawan orang tua.

Namun sejak kecil saya merasa diri saya tidak terlalu cocok dengan hal-hal berbau feminin. Membeli mainan misalnya, saya tidak pernah diizinkan untuk dibelikan mainan mobil remote control karena katanya itu untuk laki-laki. Saya hanya diizinkan membeli mainan boneka, permainan peralatan masak, atau buku cerita. Tidak ada ceritanya saya boleh bermain robot, pistol-pistolan, dan mobil-mobilan.

Sejak saat itu saya memahami, bahwa sulit bagi saya untuk menembus sebuah stigma bahwa perempuan itu haruslah cantik, lemah, tak berdaya, manja, feminin, dan lembut. Tetapi apa boleh buat, saya yang tidak merasa nyaman dengan 'sematan' perempuan itu kalem, saya tumbuh menjadi pribadi yang tomboi, membangkang, keras kepala, kritis, dan cukup membuat orang tua saya sakit kepala.

Berani Beropini dan Menyadari Nilai Diri

Tumbuh menjadi remaja yang dianggap tak bisa dibilangi orang tua, cekcok antara saya dan ayah selalu terjadi. Saya yang kritis dan selalu menjawab ketika dinasihati, seakan menjadi duri bagi ego ayah yang menganut patriarki, di mana ia harus selalu didengarkan dan tak boleh dikomentari. Kompromi kala itu menjadi sesuatu yang sulit didapat, apalagi didiskusikan dalam sebuah forum keluarga.

Semua keputusan di tangan ayah. Ayah kepala keluarga, dan anak adalah anggota keluarga. Semua anggota harus ikut kepalanya. Perihal pendapat saya sebagai anak dalam keluarga, selalu dideskritkan. Bahkan untuk pilihan hidup saya sendiri, saya tidak dipercayai. Misalnya orang tua saya meminta agar saya berkerja di sektor mainstream, di mana perempuan yang berada di zona nyamannya.

Sementara itu, saya sendiri tidak mau menuruti karena bagi saya, pilihan hidup saya   perihal pendidikan   sayalah yang menjalani. Saya merasa sebagai manusia, saya juga punya hak yang sama seperti halnya anak laki-laki untuk memilih pilihan hidup saya-apapun itu. Saya pun memilih jurusan kuliah seperti yang saya inginkan, walaupun orang tua saya tetap tidak setuju karena pekerjaan setelah saya lulus kuliah nanti, bukanlah pekerjaan umum dalam keluarga kami.

Seiring berjalannya waktu, saya tumbuh menjadi seorang yang tangguh dan mandiri. Terbelenggu dalam stigma perempuan di keluarga sendiri membuat saya sadar, saya ingin lepas dari lingkaran yang terlanjur membesar ini. Meski begitu, saya tetap tidak benar-benar bisa bebas dari rantai stigma itu, sebab keluar dari lingkup keluarga, di masyarakat pun tak jauh berbeda.

Diberondong pertanyataan soal kapan menikah, kenapa belum punya pasangan, kenapa pasangannya begitu, kenapa menikahnya cepat/lambat, kenapa belum punya anak, kenapa tidak bisa mengurus rumah, kenapa tidak bisa memasak, kenapa tidak bisa mengurus anak, kenapa tidak bekerja sambil mengurus anak, kenapa tidak mengurus rumah saja, kenapa begini, kenapa begitu, bla bla bla. Pertanyaan yang tak ada habisnya ini akan terus berakar dan tidak ada habisnya untuk perempuan.

Stigma perempuan harus menerima tanpa harus mempertanyakan, perempuan yang sia-sia mendapatkan pendidikan lebih tinggi dari laki-laki, perempuan yang harus selalu berada di rumah   dapur, mengurus anak, dan suami, perempuan yang dianggap tak mampu menjadi pemimpin, sampai hak perempuan tidak sama pentingnya seperti hak laki-laki.

Perempuan adalah Dara yang Tangguh

Sisi baiknya, saya menyadari bahwa saya hanya satu dari sekian puluh juta perempuan di dunia yang juga selalu mendapatkan double standard di lingkup keluarga ataupun masyarakat. Kami tak pernah menyadari bahwa kami terus mencoba memenuhi ekspektasi orang lain, memberikan pengaruh untuk menginspirasi, dan mementingkan orang lain ketimbang diri sendiri, menjadi lupa bahwa perempuan punya kekuatan di dalam diri untuk menguatkan dirinya sendiri.

Tanpa sadar juga kami terus mengasah kemampuan untuk menjadi setara dan berani untuk berkompetisi di dunia yang mengharuskan kami untuk mandiri dan melawan stigma yang telah dikonstruksi sedemikian rupa.

Lahirlah #DaraTangguh, sebuah gerakan yang CXO Media inisiasi untuk mengingatkan kita-perempuan-bahwa sebelum fokus terhadap empower other women, kita harus sadar akan kekuatan dan ketangguhan diri sendiri. Kemandirian, kekuatan, pengetahuan, dan semangat telah dibekali dalam diri perempuan untuk bisa melangkah maju menembus segala stigma, diskriminasi, dan stereotip yang melekat.

Menyadarkan para perempuan bawa mereka istimewa, dihargai, didukung, dihormati, dan layak dicintai. #DaraTangguh merupakan upaya CXO Media mengapresiasi perempuan-perempuan Indonesia di Hari Perempuan Internasional 2024 ini.

[Gambas:Audio CXO]

(DIR/DIR)

NEW RELEASE
CXO SPECIALS