Inspire | Human Stories

Emang Boleh, Nikah Pakai Baju Kerja?

Rabu, 07 Sep 2022 15:00 WIB
Emang Boleh, Nikah Pakai Baju Kerja?
Ilustrasi menikah dengan tradisi pedang pora Foto: Antara Foto
Jakarta -

Di gedung megah beraroma bunga yang masih basah, dua baris prajurit gagah bersandingan menopang pedang layaknya gapura. Tak lama, iring-iringan pengantin melenggang ayu di antara hunusan pedang berkilau menuju panggung cinta, tempat mereka menjadi raja dan ratu untuk satu hari satu malam. Upacara pedang pora berlangsung disiplin dan syahdu. Pertanda bahwa seorang prajurit militer dan kekasih hatinya, diterima di keluarga besar militer, tempat sang suami mengabdi dan mencari nafkah.

Konyolnya, sehabis menyaksikan prosesi pedang pora di pernikahan seorang teman beberapa waktu lalu, rekan saya yang lain, yang kebetulan berprofesi sebagai guru olahraga dan terkesima dengan upacara tersebut menyatakan, "Nanti kalau menikah, gue mau bikin juga kayak pedang pora. Pedangnya diganti bola. Jadi juggling pora," katanya tanpa mimik bercanda.

Teman kami yang lain menimpal, "Lah, seragamnya gimana?" Tanpa pikir panjang, sang guru olahraga mantap menjawab, "Ya, pake baju gue ngajar aja, jersei sama training. Nanti yang jadi 'juggling pora' pake kostum futsal. Inspekturnya pake baju wasit, lengkap sama peluit." Sontak, kami semua tertawa.

***

Bagi yang setiap hari bekerja menggunakan seragam, tentu mengenakan pakaian bebas untuk satu atau dua kali dalam seminggu, akan sangat menyenangkan. Herannya, kenapa ada orang yang sedari hari pertama bekerja sampai pensiun menggunakan seragam, malah menikah dengan mengenakan seragam kerja pula? Maksud saya, apakah mereka tidak merasa bosan?

Misalnya rekan saya yang guru olahraga itu. Setiap hari, ia tidak kenal kemeja, apalagi jas. Yang dia tau cuma rompi olahraga, jersey bola grade AAA, atau kaos oblong bermerk apparel olahraga kenamaan yang logonya sudah mulai pudar. Pokoknya, asalkan sporty, ia sudah cukup untuk bekerja. Hal ini jadi aneh, lantaran pada hari pernikahannya kelak, si sahabat justru ngotot kembali mengenakan seragam kerjanya.

Ya, hal ini memang tidak dilarang. Selama pantas dan nyaman dikenakan, menikah dengan seragam kerja sekalipun, sebenarnya tetap boleh-boleh saja. Akan tetapi, lagi-lagi, apakah kita harus menikah dengan seragam kerja, sedangkan tersedia kostum lain yang lebih dikhususkan, seperti baju adat atau busana yang agamis? Atau, jangan-jangan, mengenakan seragam kerja saat menikah, lebih bersifat sebagai aksi gagah-gagahan semata?

Dari sudut pandang militer, ternyata mengenakan seragam dinas lengkap dengan prosesi pedang pora saat pernikahan, lebih berupa tradisi yang perlu dijaga bersama. Secara turun-temurun, hal ini terus dipraktikkan sebagai bukti kebanggaan dan solidaritas mereka terhadap profesi militer, sekaligus menjadi simbol kesiapan mempelai untuk menerapkan nilai-nilai patriotis dalam kehidupan rumah tangga. Jadi, kalau militer menikah dengan seragam, bukan berarti sedang meminjam citra atau gagah-gagahan loh ya!

Menurut hemat saya, mungkin kawan saya yang guru olahraga itu, selain terinspirasi dengan pedang pora ala militer, ia juga sama bangga dengan profesinya, yang bertugas mengawal kesehatan jiwa dan raga para pelajar. Makanya ia tidak mau kalah untuk ikut mengenakan seragam kerja di pelaminan nanti, lengkap dengan prosesi pedang pora yang telah dimodifikasi.

Walaupun seperti itu, sebenarnya kita bisa kembali ke poin yang menyebutkan kalau menikah bisa pakai apa saja, selama pantas, nyaman, dan tidak merepotkan. Saya sendiri malah teringat dengan kisah seorang YouTuber yang menikah dengan sangat sederhana, tanpa ritual tertentu atau berbalut seragam adat atau profesi, bahkan hanya dilangsungkan di KUA. Lagi-lagi, cara perayaan pernikahan memang kembali ke preferensi mempelai. Setidaknya, bagi YouTuber Suhay Salim dan pasangan, cara tersebut adalah yang paling rasional. Sebab yang terpenting dalam ikatan pernikahan mereka adalah visi menjalani hidup berdua di masa depan.

Pada akhirnya, menikah dengan atau tanpa mengenakan seragam kerja, tetaplah sah di mata hukum dan agama. Lagipula, esensi pernikahan tidak melulu terletak pada ritual atau busana, melainkan pada keseharian rumah tangga yang akan datang. Dengan kata lain, sekalipun tanpa busana adat hingga ritual yang merepotkan, manusia atau sepasang manusia yang menikah akan tetap bernilai sempurna, jika kepribadian mereka memang mencerminkan kebaikan. Lagian yang saya tahu, kita tidak boleh melihat buku dari sampulnya saja, kan?

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/IND)