Inspire | Human Stories

"City" Karya Megah Michael Heizer di Lembah Berdebu Nevada

Rabu, 31 Aug 2022 19:00 WIB
Foto: Merlin
Jakarta -

Pematung Amerika Serikat, Michael Heizer, mungkin menjadi salah satu alasan kuat mengapa hingga saat ini, seorang seniman masih dilekatkan dengan konotasi "gila". Pasal utamanya adalah "City", megaskulptur megah di lembah gurun tandus Nevada, yang digarap Heizer selama lebih dari 50 tahun dan menghabiskan biaya sekitar USD 40 juta.

Proyek megaskulptur "City" adalah karya teranyar Michael Heizer yang dimulai sejak berumur 27 tahun, dan baru rampung di usianya yang ke-77. Selain didanai ongkos pribadi, "City" karya Heizer juga ditopang oleh Yayasan Triple Aught, yang bergabung pada tahun 1998 sebagai pihak yang akan bertanggungjawab penuh atas "City" untuk jangka panjang, termasuk pameran pertama yang dihelat pada 2 September hingga 1 November mendatang.

Secara kasat mata, megapatung "City" memang tampak sukar dipahami. Panjangnya membentang sekitar 2,6 kilometer dan memiliki lebar hampir satu kilometer. Karya seni kontemporer Heizer satu ini juga berada di kepungan gurun Nevada, yang artinya, bersebelahan dengan Area 51 dan sangat jauh dari akses masyarakat setempat.

Faktanya, "City" memang tidak mengandung arti secara literal melainkan murni sebagai "mahakarya, atau semacamnya," kata Heizer yang memulai proyek ini di tahun 1972. Di dalam "City", Heizer menggarap gersangnya gurun menjadi rentetan gundukan tanah, jalanan berpasir, butte, hingga lekukan serta cekungan estetis bak wadah danau yang mengering, tanpa menoktahkan pola yang pasti. Malahan, pada dua kutub "City", terlihat suatu struktur reruntuhan kuno yang cukup monumental. Suatu bukti bahwa "City" terilhami oleh peninggalan kota-kota kuno buatan Native American.

Dalam wawancaranya bersama nytimes, Heizer merapal, "Tanah ini ada dalam darahku," secara berulang-ulang layaknya suatu mantra. "Mungkin tiada seorang pun yang benar-benar peduli dengan karya ini. Aku lugu, seorang diri, dan tidak berdaya, melihat orang-orang menyumpahiku lekas mati agar bisa mengubahnya menjadi penginapan atau toko souvenir," ungkap Heizer.

Mahakarya Heizer di garis padang pasir ini bermula pada 1969, saat dirinya meledakkan 240.000 ton batu, yang disebut sebagai "Double Negative". Sebuah mesa di Nevada. Meski sempat terancam diratakan tanah akibat rencana jalur kereta pengangkut limbah nuklir menuju Pegunungan Yucca, Heizer sendiri pasang badan melindungi "City" dan peternakan warga sekitar Garden Valley seluas 704.000 hektar, dan berujung pada penetapan wilayah tersebut sebagai Monumen Nasional.

Kemudian, mahakarya ini juga hampir dibatalkan pada periode 80-90-an, karena penyakit syaraf parah yang diderita Heizer dan kendala pendanaan dan sokongan dari lembaga seni. Namun bagi Michael Govan, direktur Dia Center for the Arts di New York yang juga pengagum Heizer, mahakarya ini mesti dilanjutkan, mengingat potensi seni kontemporer Michael Heizer dapat membilas sejarah nuklir kelam di lembah gurun tersebut.

Maka bukan kebetulan, jika bagian dari "City" agak menyerupai bunker, suatu tempat perlindungan dari kehancuran. Proyek ini juga disusun Heizer dengan sinisme apokaliptik tentang kejatuhan di lembah perang masa depan. Oleh karena itu, pada sudut tertentu, "City" lebih berupa surat cinta Heizer untuk dunia. Sebuah monumen abadi yang diyakini dibutuhkan oleh dunia, khususnya dunia seni itu sendiri.

Sekarang, "City" telah menjadi bagian dari monumen nasional, dan harus menerima pengunjung umum yang dikenakan tarif sekitar USD 150 dengan kurasi ketat. Heizer hanya mengizinkan sebanyak enam pengunjung per hari, dan pembukaan "City" untuk umum hanya diperbolehkan pada periode-periode tertentu, seperti yang pertama 2 September sampai 1 November 2022 mendatang.

Pengunjung dapat mengakses "City" melalui Alamo, Nevada. Mereka kemudian akan dijemput, lalu dibiarkan berkeliaran selama beberapa jam, karena tidak ada lampu di jalan dan tidak ada layanan ponsel, mereka akan didorong kembali sebelum gelap, yang berarti mereka tidak akan bisa melihat matahari terbit dan terbenam. Suatu pengalaman seni yang utuh, tanpa souvenir, tour guide, juga tempat beristirahat.

Bukan tidak mungkin, karya kontroversial teranyar dari Michael Heizer ini akan menjadi suatu situs seni budaya berpengaruh di masa datang. Layaknya situs kuno suku Maya atau Inca, Pegunungan Rushmore, hingga Bendungan Hoover.

Pengunjung tidak perlu membawa apa pun ke "City" kecuali pikiran terbuka. Pembukaannya tiba ketika generasi muda tampak semakin menghargai pengalaman daripada uang dan harta benda. Jadi meski terlambat, tapi juga tepat waktu. "City" adalah bentuk keberanian yang mengagumkan dan gila, sebuah bukti dari jenis can-do-ism Amerika yang keras. Dengan kiasan tinggi-rendah ke situs Maya dan Inca dan jalan raya antar negara bagian, Heizer tampak sedang memproyeksikan rantai penemuan dan rekayasa budaya untuk 4.000 tahun ke depan.

[Gambas:Audio CXO]

(RIA/DIR)